<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001</id><updated>2012-02-17T05:57:31.023+07:00</updated><category term='Puisi'/><category term='Resensi'/><category term='Kebahasaan'/><category term='Cerpen'/><category term='Kesastraan'/><category term='Berita'/><category term='Pembelajaran'/><title type='text'>Bahasaku Bahasa Indonesia</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>35</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-1188245347660687452</id><published>2011-11-10T07:58:00.000+07:00</published><updated>2011-11-10T07:58:59.700+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Pengumuman Pemenang Sayembara Penulisan Cerpen, Fesitival Musikalisasi Puisi, Penghargaan Penggunaan Bahasa Indonesia Media Cetak, Debat Bahasa, Lomba Blog, dan Sayembara Penulisan Proposal Penelitian Badan Bahasa 2011</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px;"&gt;Jakarta --- Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menggelar Gerakan Cinta Bahasa Indonesia dan Acara Bulan Bahasa dan Sastra 2011. Gerakan ini bertujuan untuk menegaskan dan memantapkan kembali kedudukan dan fungsi Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;" /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;"&gt;Pemerintah menyadari, saat ini penggunaan bahasa asing oleh masyarakat Indonesia di ruang-ruang publik yang gencar, menimbulkan gejala kurangnya kebanggaan masyarakat dalam menggunakan Bahasa Indonesia. Dalam gerakan ini, tiga instansi/lembaga yaitu PT Carrefour Indonesia, PT Angkasa Pura II, dan Hotel Borobudur mendapat penghargaan sebagai instansi yang peduli dalam penggunaan Bahasa Indonesia. Ada pula penyerahan panji gerakan kepada Gubernur DKI Jakarta, Gubernur Jawa Tengah, dan Gubernur Sulawesi Tenggara sebagai perwakilan dari kepala daerah se-Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;" /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;"&gt;Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Budaya Wiendu Nuryanti mengatakan, penggunaan Bahasa Indonesia di setiap instansi yang diberikan penghargaan memang belum sempurna. “Tetapi semangat dan tekad untuk peduli dan mencintai Bahasa Indonesia di instansi tersebut, patut mendapatkan penghargaan,” ujarnya pada Puncak Acara Bulan Bahasa dan Sastra di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Jumat (29/10).&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;" /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;"&gt;Adapun kegiatan Bulan Bahasa dan Sastra 2011 terdiri dari sayembara penulisan cerita pendek (cerpen) bagi remaja tingkat nasional, festival musikalisasi puisi tingkat SLTA se-Jabodetabek, sayembara penulisan puisi untuk siswa sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah tingkat nasional, penilaian penggunaan Bahasa Indonesia di media massa cetak tingkat nasional, debat bahasa antarmahasiswa se-Jabodetabek dan Banten, lomba blog kebahasaan dan kesastraan tingkat nasional, pemilihan Duta Bahasa 2011, sayembara penulisan proposal penelitian kebahasaan, kesusastraan dan pengajaran bagi mahasiswa tingkat nasional.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;" /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;"&gt;Pemenang sayembara penulisan cerpen bagi remaja tingkat nasional adalah Brigitta Engla Aprianti dengan cerpen Mei (pemenang pertama), Tiara Zuhrat Shabrina Yophaputri dengan cerpen "Pastel Donat" (pemenang kedua), Amayakim dengan judul "Sajak-Sajak Inayah" (pemenang ketiga), Rendi Erianda dengan judul "Benci" (pemenang harapan pertama), Vivi Wahyuni dengan judul "Pulanglah Ayah" (pemenang harapan kedua), Achmad Ryan Fauzy dengan judul "Petualangan Bola Kasti" (pemenang harapan ketiga).&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;" /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;"&gt;Pemenang festival musikalisasi puisi tingkat SLTA se-Jabodetabek yaitu grup musikalisasi dari SMA Negeri 62 Jakarta (pemenang pertama), SMK 5 Penabur (pemenang kedua), SMA Musik Perguruan Cikini (pemenang ketiga), SMA Negeri 27 Jakarta (pemenang harapan pertama), SMA Jakarta Raya (pemenang harapan kedua), SMA Muhammadiyah 2 (pemenang harapan ketiga).&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;" /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;"&gt;Media cetak yang memenangi penilaian penggunaan bahasa Indonesia di media tingkat nasional adalah Kompas (peringkat pertama), Media Indonesia (kedua), Koran Tempo (ketiga), Republika (keempat), Seputar Indonesia (kelima), Sinar Harapan (keenam), Suara Pembaruan (ketujuh), Indo Pos (kesembilan), Pikiran Rakyat (kesepuluh).&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;" /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;"&gt;Perguruan tinggi pemenang debat bahasa antarmahasiswa se-Jabodetabek, dan Banten yaitu Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Jakarta (pemenang pertama), Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (pemenang kedua), Program Studi Sastra Jawa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (pemenang ketiga), Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pakuan Bogor (pemenang harapan pertama), Program Studi Pendidikan Sastra Indonesia dan Daerah STKIP Setia Budhi Rangkasbitung (pemenang harapan kedua), Jurusan Bahasa Inggris Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (pemenang harapan ketiga).&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;" /&gt;&lt;b style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;"&gt;Pemenang lomba blog kebahasaan dan kesastraan tingkat nasional yaitu Bekti Patria Dwi Hastuti (pemenang pertama), Novi Diah Haryanti (pemenang kedua),&amp;nbsp;&lt;a href="http://kabarbahasa.blogspot.com/" style="color: #357798; text-decoration: none;"&gt;Sabjan Badio&lt;/a&gt;&amp;nbsp;(pemenang ketiga), Imam Muhtarom (pemenang harapan pertama), Binhad Nurrohmat (pemenang harapan kedua), R.Kusdaryoko (pemenang harapan ketiga).&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;"&gt;&amp;nbsp;Pemenang ketrampilan berbahasa Indonesia adalah Gao Shiyuan dari Cina (pemenang pertama), Chen Hongxia dari Cina (pemenang kedua), Mario Gonzales Pliego dari Spanyol (pemenang ketiga).&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;" /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;"&gt;Sayembara penulisan proposal penelitian kebahasaan dimenangkan oleh Rahmat Tri Hidayat dengan judul proposal penelitian Tindak Tutur Direktif dan Prinsip Kerja Sama dalam Yel-Yel Pasoepati (Pasukan Suporter Paling Sejati) Kelompok Suporter Tim Persis sebagai pemenang terbaik pertama, Memet Sudaryanto dengan judul Analisis Bahasa Register pada Anak Jalanan di Kota Surakarta sebagai pemenang terbaik kedua.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;" /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;"&gt;Sayembara penulisan proposal penelitian kesusastraan dimenangkan oleh Hari Sulistyo dengan judul Resepsi Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia UNS Angkatan 2010 terhadap Film Laskar Pelangi Analisis Estetika Eksperimental sebagai pemenang terbaik kedua, Muhammad Wahyu Amiruddin dengan judul Representasi Masalah-Masalah Sosial dalam Kumpulan Cerpen Klop Karya Putu Wijaya: Kajian Teori Semiotika Charles S.Pierce sebagai pemenang terbaik ketiga.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;" /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;"&gt;Pemenang sayembara penulisan proposal penelitian pengajaran Meina Febriani dengan judul Pengembangan Bahan Ajar Apresiasi Dongeng Bermuatan Budaya Banyumas bagi Siswa SD Kelas Rendah sebagai terbaik pertama, Listiani Tular Kurniasih dengan judul Perbandingan Representasi Guru dalam Novel Laskar Pelangi Karangan Andrea Hirata dan Film Laskar Pelangi Karya Riri Riza serta Implikasnya terhadap Pengajaran Sastra di SMA sebagai terbaik kedua, Sheila Novelia dengan judul Konflik Sosial dalam Novel Maluku, Kobaran Cintaku Karya Ratna Sarumpaet dam Implikasinya terhadap Pembelajaran Sastra di SMU (sebuah tinjauan sastra) sebagai terbaik ketiga.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;" /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;"&gt;Di akhir pidatonya, Wiendu berpesan agar masyarakat menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap Bahasa Indonesia karena jati diri bangsa ada di dalamnya. ”Dengan rasa cinta dan bangga, marilah kita membawa bahasa Indonesia ke dunia internasional seperti diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009,” ucapnya. (gloria)&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;" /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left;"&gt;Sumber:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.kemdiknas.go.id/kemdiknas/berita/110" style="background-color: white; color: #357798; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: left; text-decoration: none;" target="_blank"&gt;www.kemdiknas.go.id&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-1188245347660687452?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/1188245347660687452/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/11/pengumuman-pemenang-sayembara-penulisan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/1188245347660687452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/1188245347660687452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/11/pengumuman-pemenang-sayembara-penulisan.html' title='Pengumuman Pemenang Sayembara Penulisan Cerpen, Fesitival Musikalisasi Puisi, Penghargaan Penggunaan Bahasa Indonesia Media Cetak, Debat Bahasa, Lomba Blog, dan Sayembara Penulisan Proposal Penelitian Badan Bahasa 2011'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-7528109352004353087</id><published>2011-10-23T07:00:00.002+07:00</published><updated>2011-10-24T12:20:58.304+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Negeri Surga</title><content type='html'>&lt;b&gt;Sabjan Badio&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, perempuan dengan usia 56 tahun. Perempuan yang telah ditinggal mati oleh kekasihnya. Di usia senjaku ini aku paksakan diriku untuk tidak kesepian. Setidaknya tidak melakukan pekerjaan konyol dengan mengirim surat untuk diri sendiri. Setidaknya ketiga anakku masih menyapaku, lewat pesan singkatnya di dunia maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemetar aku membacai satu surat elektronik dari salah satu anakku. Handoko, anak sulungku mengabarkan bahwa ia ingin sekali pulang. Sepersekian menit aku terdiam membayangkan episode sepuluh tahun silam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;“Ibu harusnya lebih bijaksana, membiarkanku pergi meraih impian,” begitu&lt;b&gt; &lt;/b&gt;tegas dan jelas terucap di telingaku. Saat itu gempa bumi berkekuatan 5,9 skala richter baru saja menggunjang Bantul. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;“Apa begitu tingginya impianmu Nak, hingga tak mau kau pijakkan mimpimu itu di sini. Di bumi yang telah mencukupi makanmu?” Sungguh pun&amp;nbsp;kurasa akan sia-sia kata-kataku, namun aku masih punya harapan bahwa Handoko menolak tawaran itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;“Ibu, tidakkah Ibu lihat apa yang baru saja terjadi? Gempa bumi telah meratakan rumah kita, merenggut bapak, menenggelamkan kita dalam lara panjang.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Sejurus aku terdiam. Tidak terbantahkan karena memang itu yang kami alami. Akan tetapi, apakah bijak meninggalkan tanah leluhur dalam keadaan poranda seperti ini?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;“Bu, tanah kita ini, barangkali umurnya tak akan lama lagi. Tentu Ibu masih ingat yang Han sampaikan, hidup kita di tengah lempeng yang masih labil. Ini sangat berisiko, Bu.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Aku masih terdiam. Dapat kubayangkan betapa riskannya Indonesia dengan pembagian enam zonasi gempa dari pantai Sumatra sampai Selatan Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua. Kesimpulannya akan lebih banyak terjadi gempa bumi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;“Bu, Han mohon, iklhaskan Handoko bekerja dan menetap di Malaysia. Di sana Han rasa lebih menjanjikan daripada terkurung di sini dengan keputusasaan. Kelak, kalau Handoko berhasil, Ibu, Handika, dan Hanum akan Handoko boyong ke Malaysia. Kita masih punya masa depan yang lebih baik.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Begitulah. Handoko pergi, menikah, dan menetap di negeri Mahatir Muhammad. Ini adalah pukulan telak mengenai ulu hatiku, setelah aku dapati suamiku bersimbah darah dalam reruntuhan rumah kami tempo hari. Tanpa nyawa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Selang tiga tahun, setelah meraih master dan bekerja, Handoko mengajak aku dan dua putriku pindah ke Malaysia. Tentu saja aku tidak mau. Kubur suamiku ada di sini, di Imogiri, dekat sekali dengan makam raja-raja Mataram. Dekat dengan keyakinanku akan negeri surga yang selalu kuimpikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Bantul, tahun 2015. Aku berpaling dari &lt;i&gt;liquid cristal display &lt;/i&gt;komputerku. Mungkin itu LCD terakhir dalam sejarah komputer. Teman-temanku sudah menggunakan LED (&lt;i&gt;Light-Emitting Diode&lt;/i&gt;) yang tidak memerlukan &lt;i&gt;back light,&lt;/i&gt; hemat energi, dan dapat didesainkan tipis. Kabarnya, LED juga mempunyai sudut pandang 180 derajat, dapat mengeluarkan cahaya sendiri, serta bisa menampilkan warna hitam pekat dan kontras dengan lebih baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Mataku menyapu halaman rumah lewat bingkai jendela yang lebar. Angin bertiup semilir. Hamparan hijau hampir menutup seluruh permukaan tanah, kecuali jalan kecil yang menghubungkan teras rumahku dengan jalan utama. Di pinggir rerumputan itu tumbuh ciplukan, &lt;i&gt;Physalis minina&lt;/i&gt;, perdu dengan tinggi kurang dari satu meter ini banyak ditanam di halaman rumah. Kini orang tak lagi menganggap enteng tumbuhan ini. Buahnya, berbentuk bulat dan berwarna hijau kekuningan bila masih muda. Buah inilah yang digunakan untuk menyembuhkan diabetes militus, sakit paru-paru, ayan, serta borok.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Di depan tumbuhan ciplukan, berderet &lt;i&gt;Portulaca oleraceae L&lt;/i&gt;. atau krokot. Tanaman yang diperkirakan dari daratan Amerika tropis ini memiliki&amp;nbsp; kandungan KC, KSO&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt;, KNO&lt;sub&gt;3&lt;/sub&gt;, &lt;i&gt;nicotinic acid&lt;/i&gt;, tanin saponin, vitamin A, B, C, 1-noradrenalin, dan dopa. Seluruh bagian dari tumbuhan ini dapat mengobati disentri, diare akut, radang payudara, sakit kuning, cacingan, dan sesak napas. Itu yang baru aku ingat, karena masih ada beberapa penyakit yang dapat diobati dengan tumbuhan ini. Rumah-rumah yang bersebelahan dengan rumahku juga menanam tanaman ini. Beberapa tanaman lain juga telah dibudidayakan karena memang banyak manfaatnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Kuhirup udara pagi ini. Tubuhku terasa segar setelah melakukan terapi melalui &lt;i&gt;biochip&lt;/i&gt;. Entahlah, akhir-akhir ini emosiku terus meledak-ledak, seolah siap mengantarkanku pada kematian. Akan tetapi, aku bertekad ini tidak akan terjadi sebelum aku tahu Handoko telah kembali dalam pelukanku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Dengan terapi melalui telepon seluler, aku tidak perlu repot membawa tubuhku ini ke luar rumah. Umumnya, dokter sekarang menggunakan temuan ini untuk mengobati pasiennya. Handoko seharusnya ingat pembuat &lt;i&gt;biochip&lt;/i&gt; ini. Sebagai materi inti dari &lt;i&gt;biochip&lt;/i&gt; adalah benda organik yang diracik hingga menjadi hanya seberat kurang dari satu gram. Lalu benda ini dilekatkan pada lempengan kecil kawat dan disambungkan oleh media penghantar berupa lembaran-lembaran kabel. Penemunya Pak Joko Sasmita yang membuka praktik di taman parkir makam raja-raja Imogiri. Bertahun lalu, Handokolah yang menceritakannya untukku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Pandanganku beralih mengitari bingkai lukisan titik air. Lukisan itu mengingatkanku pada lukisan realisme romantik milik Irma Hardisurya. Begitu dalam mencapai suara hati, suara yang paling jujur. Dan aku paham akan keadaan Handoko, meski dunia telah menahannya, toh hatinya tidak akan berpaling. Indonesia, lebih sempit lagi di sini, di samping ibunya yang menunggu waktu. Kelegaan menjalar dalam sudut hatiku. Aku pasti akan menerima keputusan Handoko. Pulang ke tanah air, membawa keluarganya untuk tinggal di sini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Aku akan merasa terampuni karena mengizinkannya mengenyam pendidikan di negara lain. Aku hanya ingin anak-anakku dapat merengguk luasnya ilmu dan mengembangkannya di negeri sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Ah, Handoko tentulah kau sudah mendengar ratusan anak bangsa yang berlaga dalam ajang sains dunia? Ingatkah kau dengan Septinus George Saa dari Jayapura yang berhasil menjuarai The First Step to Nobel Prize? Atau Indranu yang sudah akrab dengan persamaan relativitas umum Einstein saat usianya baru sembilan tahun?&lt;b&gt; &lt;/b&gt;Para jenius yang mau mengabdikan dirinya untuk tanah kelahiran. Kau tahu, usia mereka tidak lebih tua darimu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Air mataku terurai. Tenggorokanku terasa tercekat. Buru-buru kuhampiri monitorku. Menjentikkan jemari pada &lt;i&gt;touchscreen&lt;/i&gt;, mengirim pesan untuk kedua anakku yang lain, Handika dan Hanum. Aku meminta mereka untuk menemuiku esok hari. Handika bekerja sebagai pengusaha batik. Batik tulis kian semarak sejak ditetapkan Unesco sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia sebelas tahun lalu. Handika lebih banyak bekerja di belakang laptopnya, memasang iklan, menerima pesanan, hingga melakukan transaksi, semuanya di dunia maya. Akan halnya Hanum, ia lebih memilih menjadi guru, sama sepertiku dulu. Mengajar di sebuah madrasah pinggiran yang sarat kemauan belajar. Pola pikir manusia telah mengubah segalanya, “Ini akan membuat semua menjadi lebih baik,” begitu kata Hanum. Aku sendiri hanya tersenyum membayangkan semasa mengajar dulu, mengenang anak-anak yang enggan belajar dan lebih senang membolos saat pelajaran berlangsung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Aku jadi salah tingkah membayangkan Handoko kembali pulang. Tidak ada perubahan istimewa di rumah ini. Pepohonan masih melingkupi area perbukitan, hijau menyejukkan mata. Kalau ada yang baru, barangkali sekarang tidak sesepi dulu. Geliat ekonomi mengundang banyak orang datang ke sini. Akan tetapi di sini tetap tidak ada &lt;i&gt;mall&lt;/i&gt; atau pusat perbelanjaan. Mereka dibiarkan berinteraksi satu sama lain agar saling mengenal dan tidak kehilangan nurani.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Sekali lagi aku membacai surat elektronik dari Handoko.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; margin-left: 36.0pt; margin-right: 0mm; margin-top: 0mm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; margin-left: 36.0pt; margin-right: 0mm; margin-top: 0mm;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Ibu, pelipur hatiku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; margin-left: 36.0pt; margin-right: 0mm; margin-top: 0mm;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Sudah lama ingin kukatakan padamu penyesalanku yang paling dalam. Aku merasa bersalah karena meninggalkan Ibu dan juga tanah leluhur kita. Kini aku tahu, di negeri orang dengan peradaban yang lebih maju tidaklah aku temukan kedamaian. Peradaban yang sesungguhnya, telah ada di tanah sendiri dan aku hampir melupakannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; margin-left: 36.0pt; margin-right: 0mm; margin-top: 0mm;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Ibu, aku ingin kembali dalam rengkuhan tanahku sendiri. Aku ingin bersama yang lain membangun kembali negeri ini…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; margin-left: 36.0pt; margin-right: 0mm; margin-top: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; margin-left: 36.0pt; margin-right: 0mm; margin-top: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Ku-&lt;i&gt;replay &lt;/i&gt;pesan itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; margin-left: 36.0pt; margin-right: 0mm; margin-top: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; margin-left: 36.0pt; margin-right: 0mm; margin-top: 0mm;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Anakku, Ibu masih menantimu untuk kembali. Kalau kau ingin melihat negeri surga yang selalu kau impikan, letaknya ada di sini. Di tanahmu sendiri. Di mana hatimu selalu membawa kembali padanya….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Sampai di sini aku berhenti. Keringat dingin menjalari tubuhku. Gemetar tanganku saat berusaha menyentuh LCD&lt;i&gt;,&lt;/i&gt; menekan menu &lt;i&gt;send. &lt;/i&gt;Rasa sesak memenuhi rongga dada. Detik berikutnya membawaku pada perjalanan penuh kemenangan. Aku tidak perlu risau akan gempa bumi yang semakin kerap atau mencairnya glasier di Kutub Utara. Tidak lagi, karena orang-orang di sini sadar betul apa yang musti mereka lakukan. Mereka akan menjaga tanah surganya.***&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-7528109352004353087?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/7528109352004353087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/10/negeri-surga.html#comment-form' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/7528109352004353087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/7528109352004353087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/10/negeri-surga.html' title='Negeri Surga'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-4259535283343607899</id><published>2011-10-20T00:35:00.000+07:00</published><updated>2011-10-20T00:35:00.307+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Bulan Depan</title><content type='html'>&lt;b&gt;Sabjan Badio&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-W4PxCAiC1Mc/TpU2KckquFI/AAAAAAAAAEE/Tvx2kKjCm9M/s1600/bulan.gif" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/-W4PxCAiC1Mc/TpU2KckquFI/AAAAAAAAAEE/Tvx2kKjCm9M/s200/bulan.gif" width="158" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ilustrasi: chrismadden.co.uk&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Langit malam ini begitu gelap, tanpa bintang. Desau angin merasuk ke celah jaketku. Kubayangkan di rumah nanti aku akan segera meringkuk di pembaringan, melepas penat dan segala gundah. Atau, setidaknya aku bisa bermain sebentar dengan sulungku yang belum satu tahun. Istriku, ah, ia mulai mual-mual dan nafsu makannya kian bertambah. Lelah wajahnya, senantiasa berkelebat dalam benakku. Aku semakin sering meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku kembali pulang malam. Ada tugas yang harus segera aku selesaikan, buku-buku yang lusa harus sudah cetak. Ada dua hal yang aku pikirkan setiap kali lembur. Pertama, masalah tanggung jawab. Kedua, aku akan dapat tambahan gaji. Sayangnya itu belum seberapa jika menengok utang yang harus aku bayarkan bulan depan. Bulan berikutnya, aku sudah berjanji pada sahabatku untuk mengembalikan pinjaman tiga bulan yang lalu. Hal itu tidak mungkin aku undur, mengingat betapa baiknya dia, dan lagi bulan depan memang uang itu akan digunakan. Ah, bulan depan, jangan dibayangkan itu masih tiga puluh hari. Bulan depan sama saja pekan depan lantaran ini sudah di akhir penanggalan, dan pekan depan itu artinya tujuh hari lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumatikan mesin sepeda motor. Istriku tersenyum menyambutku,  membawakan bawaanku, serta melepaskan jaketku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adik sudah tidur,” katanya memberi tahu. Aku pandangi wajah sulungku. Bayi laki-laki yang menggemaskan. Tidurnya tenang. Andai aku dapat tidur seperti dirinya. Kurebahkan tubuhku di samping bayiku. Makan dan minum yang ditawarkan istriku tidak juga aku sentuh. Kutatap langit-langit kamar. Kosong. Hanya pendar lampu Philips yang mulai meredup. Kutaksirkan puluhan jam lagi akan genap seribu jam, setelahnya minta ganti. Dua ekor cicak berkejaran. Satu dari yang lain berhasil menangkap temannya, menggigit lehernya, dan mereka saling menyatu. Kepak ekor keduanya membentur eternit, terdiam beberapa saat lalu dalam gerakan cepat, lari bersembunyi. Adegan itu cukup membuatku tersenyum. Mereka enak, tidak punya malu. Tidak memikirkan ada makhluk lain yang bergelut dengan utang yang segera ditunaikan. Lebih aneh lagi, makhluk itu adalah aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa &lt;i&gt;Dang&lt;/i&gt;? Capek?” sapa istriku. Aku masih terdiam. Rasanya tak layak untuk membicarakan masalah ini. Betapa lamanya dia menanti kepulanganku. Kalau tiba-tiba aku menyelipkan masalah ini di antara senyumnya, mungkinkah senyum itu tidak akan hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Dang&lt;/i&gt; memikirkan masalah utang itu ya?” Tentu saja istriku akan cepat sekali membaca pikiranku. Akhir-akhir ini topik diskusi kami tidak jauh dari masalah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak perlu risau,bulan depan ada tambahan uang lembur. Gaji &lt;i&gt;Dang &lt;/i&gt;ditambah gajiku, tentulah cukup untuk melunasi utang,” sanggah  istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lantas, buat makan?” aku mulai gusar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti juga ada, sabar saja.” Aku kembali diam. Terus terang aku ingin yang pasti-pasti. Bisa saja kami makan nasi lauk garam, tapi apa aku tega memberi makan keluargaku seperti itu? Tenggelam dalam pikiranku. Agaknya, istriku tidak berani melanjutkan pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau cari utangan lain, bagaimana?” suaraku memecah hening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Temanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasanya tidak ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami kembali hanyut dalam angan masing-masing. Rasanya semua menjadi  buntu, dan tubuhku bertambah-tambah penat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya… kalau tidak semua, ya separuh tidak mengapa. Bulan depan aku kembalikan…  O… begitu, ya… ya… tidak apa-apa. Maaf merepotkan. Ya… ya…  Assalamu’alaikum.” Klik. Istriku, menutup mukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dik…,” aku heran dengan tingkahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuh… kan apa kubilang,” kata istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa?” aku belum mengerti arah pembicaraannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Temanku tidak mau meminjami uang. Katanya uang yang ada sudah dimasukkan rekening semua. Ia tidak berani mengambil, katanya untuk masa depan. Lain kali aku tidak mau pinjam padanya. Malu aku.” Istriku mengakhiri penjelasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Astaghfirullah,” batinku. Rupanya istriku menelpon temannya untuk mencari pinjaman. Setahuku ia tidak pernah meminjam barang-barang, terlebih uang kepada orang lain. Bisa kubayangkan betapa ia sangat terpaksa untuk melakukannya. Kupandangi wajah istriku. Tidak ada yang bisa kulakukan untuk menentramkannya selain genggaman erat jemariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dini hari aku terbangun. Tubuhku demam. Duh, apalagi ini. Pikiranku sangat kacau. Bukannya seharusnya aku bangkit dan menyongsong rezeki, ini malah badan tidak enak, pusing, dan lemah. Istriku mengoleskan balsem di punggung dan perutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hati-hati kalau pulang malam. Mungkin dang masuk angin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit sakitku berkurang, namun saat siang hari, sakit itu kembali menyerang. Istriku pulang lebih awal dari biasanya. Tampaknya ia mulai panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke dokter ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebentar juga sembuh,” istriku menawarkan banyak makanan, namun aku sama sekali tidak berselera. Perutku mual dan merasa tidak lapar. Begitu hingga hari ketiga berlalu. Tidak ada perubahan, dan aku tetap tidak mau dibawa ke dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa yang ada dalam pikiran istriku. Hari itu ia ngotot  membawaku ke rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau sakit, siapa yang susah. Aku, anak….” Aku tidak mau mendebat istriku. Emosinya bisa saja  naik tiba-tiba, ditambah keluhannya yang masih merasa mual-mual. Akhirnya aku berada di ruang &lt;i&gt;emergency&lt;/i&gt;. Vonis yang jatuh padaku: DB. Harus opname. Butuh enam kantung darah. Istriku, mula-mula yang aku bayangkan. Betapa ia menjadi sibuk, antara bekerja, mengasuh anak, mengurusi kehamilannya, ditambah lagi mengurusi diriku. Benar-benar keadaan yang tidak mengenakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemana aku mencari golongan darah seperti punya &lt;i&gt;Dang&lt;/i&gt;?  Keluargaku golongan darahnya tidak ada yang sama. Keluarga &lt;i&gt;Dang&lt;/i&gt;,  tidak ada yang tinggal di sini. Di PMI baru ada satu kantung….” Aku  tercekat. Mengapa istriku harus segusar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teman-temanku sudah kuhubungi. Semua tidak ada yang cocok. Dua yang ada, berat badan tidak mencukupi, satu lagi berat badan cukup, namun sedang flu.” Hampir setiap waktu istriku memberi laporan. Entah sudah berapa puluh ribu pulsa yang ia habiskan sekadar mencari tahu siapa yang bisa menjadi donor. Megetahui golongan darah teman-teman tidak lagi hal sepele. Terkadang, saat berkenalan dengan orang tidak terbayang dalam otak kita untuk tahu golongan darahnya, apalagi berusaha mencatatnya. Allah, aku benar-benar pasrah. Pada hari kedua, istriku berhasil mengumpulkan enam kantung darah. Lima pendonor yang rela berbagi darah untukku, padahal saat itu Ramadan telah tiba. Dari lima orang tersebut, hanya satu orang yang kami kenal baik, selebihnya kami tidak tahu. Katanya temannya si A, si B. Aku terharu, tidak tahu harus membalasnya dengan apa, karena selepas mendonorkan darahnya mereka terus pulang. Tidak sempat kami bertanya tentang nama dan alamat mereka. Semoga Allah yang akan mengganti kebaikan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisiku mulai membaik. Istriku, meski lelah, masih sempat membawa sulungku ke rumah sakit. Sebentar memang, namun itu cukup mengobati rasa bersalahku karena tidak jadi mengajaknya jalan-jalan saat usianya genap satu tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa &lt;i&gt;Dang&lt;/i&gt;. Kata yang &lt;i&gt;ngasuh&lt;/i&gt;, ia tidak rewel. &lt;i&gt;Dang &lt;/i&gt;ikuti petunjuk dokter biar cepat pulih, terus pulang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus…. utang kita?” pertanyaanku tidak mengada-ada. Ini sudah  awal bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Stt… aku cari pinjaman pada temanku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Temanmu mau meminjami?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini lain orang. Sebenarnya ia tidak punya, namun ia berjanji akan mencarikan pinjaman di koperasi. Kira-kira tanggal sepuluh uangnya akan diantar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pinjam koperasi?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya &lt;i&gt;Dang&lt;/i&gt;, ia yang nyicil. Kita tinggal bayar ke dia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Merepotkan,” gumamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, tapi katanya ia ikhlas, malah senang dapat membantu.” Istriku tidak malu menceritakannya padaku. Barangkali orang ini benar-benar ingin membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, biaya rumah sakit bagaimana?” Sebenarnya aku tidak tega mengatkannya pada istriku. Benar saja, istriku termangu. Tanpa pikir panjang, aku meraih telepon genggam dan menghubungi adikku di Bengkulu. Padanya kuminta untuk segera mengirimkan uang buat biaya rumah sakit. Kalau kondisi biasa, aku tidak mau berbuat demikian, namun saat ini aku benar-benar butuh uang. Apalagi dokter sudah mengatakan bahwa esok aku sudah boleh pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan kasir, tubuh istriku merapat ke arahku. Biaya opname selama delapan hari cukup besar. Di saat itulah pertolongan Allah datang. Ternyata, seluruh biaya rumah sakit ditanggung PT Askes. Aku menerima kuitansi pembayaran dengan nilai nol rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah, istriku berseloroh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Logika Tuhan berbeda dengan logika manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak menyahut, namun memang begitu adanya. Selama di rumah sakit, banyak kerabat dan kawan yang menjenguk. Banyak di antara mereka yang menyelipkan amplop saat bersalaman pulang. Kantor tempat kami bekerja pun ikut mengulurkan perhatiannya. Setelah dihitung, uang yang terkumpul sejumlah sama dengan utang yang harus kami bayar. Istriku tidak jadi mengambil pinjaman dari temannya. Uang dari adikku juga aku kembalikan. Rupanya, sakitku adalah jalan dari Allah untuk menyelesaikan urusanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Dang&lt;/i&gt;, andai temanku dulu mau meminjamkan uangnya, pasti juga  sudah kita kembalikan ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Temanmu yang mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu lho… yang beralasan uangnya disimpan di bank, yang ia tidak  berani mengambilnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hush…  sudah, tidak perlu diingat,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya… aku juga tidak lagi kecewa. Masalahnya, dia itu punya uang, terus pada teman sendiri tidak mau meminjamkan, padahal aku sudah berjanji bulan depan akan mengembalikan, masih saja tidak mau meminjamkan. &lt;i&gt;Lha&lt;/i&gt;, temanku yang satunya lagi. Tidak punya duit,  justru &lt;i&gt;ngotot &lt;/i&gt;mau &lt;i&gt;ngasih &lt;/i&gt;pinjaman, sampai harus utang koperasi di tempatnya bekerja. Padahal dibalik itu, Allah sendiri yang menyelesaikan urusan kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Stt”… ,” sanggahku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gini &lt;i&gt;lho&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Dang&lt;/i&gt;, imbasnya &lt;i&gt;kan &lt;/i&gt;beda. Pada teman yang mau menolong, kita setulus hati mendoakan kebaikannya. Lagi pula, kalau ada orang yang minta tolong, sebenarnya itu kesempatan kita untuk berbuat baik. Tidak tiap hari kesempatan itu hadir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, iya… istriku cantik. Dan selama aku sakit, itu juga  kesempatan dirimu untuk berbuat baik &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt;? Merawat suami dan  mendoakan kesembuhannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istriku tersipu. Kuelus perutnya. Dari lubang angin kulihat langit bertabur bintang. Indah sekali. Dan Allah tidak pernah alpa dengan ciptaannya, dialah Rab Sang Pemelihara.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Dang&lt;/i&gt; sama dengan kakak atau mas, di antaranya digunakan oleh  penduduk yang berasal dari Provinsi Bengkulu dan sekitarnya.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Tulisan ini menjadi salah satu pemenang dalam lomba menulis blog "Berbagi Kisah Sejati" yang diselenggarakan oleh anazkia.blogspot.com (2010). Mei 2011, tulisan ini bersama 24 tulisan lain, telah diterbitkan dalam antologi bersama &lt;i&gt;Blogger Berbagi Kisah Sejati&lt;/i&gt; (Indiepro Publishing, 2011).&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-4259535283343607899?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/4259535283343607899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/10/bulan-depan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/4259535283343607899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/4259535283343607899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/10/bulan-depan.html' title='Bulan Depan'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-W4PxCAiC1Mc/TpU2KckquFI/AAAAAAAAAEE/Tvx2kKjCm9M/s72-c/bulan.gif' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-213781553696260398</id><published>2011-10-12T00:17:00.000+07:00</published><updated>2011-10-12T13:38:32.058+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebahasaan'/><title type='text'>Bahasa Anda Mencerminkan Siapa Diri Anda</title><content type='html'>&lt;b&gt;Sabjan Badio&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-es-S8iEVwoE/TpHQz_X9wrI/AAAAAAAAAEA/2xGNVHV1MrY/s1600/jaritelunjuk.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-es-S8iEVwoE/TpHQz_X9wrI/AAAAAAAAAEA/2xGNVHV1MrY/s1600/jaritelunjuk.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sumber gambar: qcritkarpol.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Dalam bahasa Jawa, kita mengenal tingkatan bahasa. Tiap-tiap tingkatan tersebut digunakan pada kondisi tertentu dan untuk lawan bicara tertentu pula. Berbeda dengan bahasa Jawa, bahasa Indonesia tidak mengenal tingkatan seperti itu. Untuk kondisi tertentu, misalnya saat bicara dengan teman sebaya, yang lebih tua, atau orang yang sangat dihormati, bahasa Indonesia "menyiasatinya" dengan pilihan kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berbicara dengan teman sebaya atau yang usianya lebih muda, kita bisa menggunakan kata "kamu". Kata ini tidak pas jika digunakan untuk orang yang lebih tua atau dihormati. Jika kita menggunakan kata "kamu" sama saja kita merendahkan atau melecehkan lawan bicara kita yang seharusnya kita hormati. Hal ini ditegaskan dalam &lt;i&gt;KBBI Daring&lt;/i&gt;, "kamu" diartikan sebagai 'pronominal jamak yang diajak bicara atau yang disapa dalam ragam akrab atau kasar'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada frasa 'ragam akrab atau kasar' pada definisi "kamu" tersebut. Berdasarkan definisi ini, tentu saja kata "kamu" tidak pantas diucapkan oleh seorang siswa untuk menyebut gurunya. Ironisnya, ini terjadi dan saya merasakannya langsung. Seorang siswa--pada pertemuan-pertemuan awal dengan saya--saya dapati beberapa kali menyebut kata "kamu" saat berbicara dengan saya. Jujur saja waktu itu saya sangat tersinggung. Hanya saja, posisi saya sebagai seorang guru membuat saya menahan diri untuk meluapkan emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tradisi Jawa, orang-orang yang berkedudukan tinggi biasanya sangat hati-hati menggunakan bahasa. Dari tutur kata mereka orang dapat menilai bagaimana kualitas pribadi kita dan seberapa layak kita menjadi pemimpin. Pun begitu dengan bahasa Indonesia, pilihan kata menunjukkan siapa sebenarnya penuturnya. Orang yang terbiasa kasar dan tidak menghormati lawan bicara tentulah orang yang tidak terhormat pula, entah karena tidak berpendidikan atau karena memiliki sifat tinggi hati yang selalu memandang rendah orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara fungsi pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah adalah menjadikan siswa mampu berkomunikasi dengan baik dalam bahasa Indonesia. Baik di sini tentu saja berdasarkan aturan bahasa maupun berdasarkan konteks saat terjadi komunikasi. Jika setelah mendapat pelajaran bahasa Indonesia bertahun-tahun seorang siswa masih berkata kasar kepada gurunya, itu artinya pembelajaran bahasa Indonesia belum sepenuhnya berhasil. Ini tentu mengkhawatirkan karena kemampuan komunikasi seseorang ikut berandil besar dalam kesuksesan yang bersangkutan. Seorang pelamar kerja yang berbicara kasar dan terkesan tidak memiliki sopan santun tentu saja akan sulit untuk diterima bekerja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-213781553696260398?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/213781553696260398/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/10/bahasa-anda-mencerminkan-siapa-diri.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/213781553696260398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/213781553696260398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/10/bahasa-anda-mencerminkan-siapa-diri.html' title='Bahasa Anda Mencerminkan Siapa Diri Anda'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-es-S8iEVwoE/TpHQz_X9wrI/AAAAAAAAAEA/2xGNVHV1MrY/s72-c/jaritelunjuk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-6219676354103938515</id><published>2011-10-09T22:30:00.005+07:00</published><updated>2011-10-09T22:55:09.200+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebahasaan'/><title type='text'>Kurban atau Korban?</title><content type='html'>&lt;a href="http://kabarbahasa.blogspot.com/"&gt;&lt;b&gt;Sabjan Badio&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://bahasafoto.files.wordpress.com/2010/11/img00028-20101103-0733.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://bahasafoto.files.wordpress.com/2010/11/img00028-20101103-0733.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;"Si Agal"&amp;nbsp;&lt;i&gt;Koran Merapi&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Fotografer Sabjan Badio&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Tanggal 3 November 2010 lalu saya membaca &lt;i&gt;Koran Merapi&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dan menemukan tulisan menarik pada Rubrik "Si Agal"&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;Waktu itu, tema bencana alam akibat letusan Gunung Merapi menjadi favorit media massa di tanah air, tidak terkecuali dengan &lt;i&gt;Koran Merapi&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Yang menarik perhatian saya waktu itu, bukan materi yang dituangkan dalam rubrik tersebut melainkan pilihan katanya. Pada foto di atas terdapat tulisan "Sebagai rasa solidaritas dan empati, saya berikan sebagian uang saku untuk kurban Merapi", ada kata "kurban" di sana. Mengapa menggunakan kata "kurban"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kurban" dalam &lt;i&gt;KBBI Daring&lt;/i&gt; diartikan sebagai (1) persembahan kepada Allah dan (2) pujaan atau persembahan kepada dewa-dewa. Berdasarkan pengertian ini, "kurban Merapi" berarti sesuatu yang dikurbankan atau menjadi kurban untuk Merapi. Apakah benar ini yang dimaksudkan dalam tulisan di &lt;i&gt;Koran Merapi&lt;/i&gt; edisi 3 November 2010 tersebut? Tentu saja bukan, hal ini terlihat jelas saat kita membaca teks dalam balon kata pada gambar tersebut secara lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata yang dimaksudkan oleh penulis pastilah "korban" yang memiliki dua arti, arti pertama sama dengan arti kata "kurban" dan arti kedua adalah 'sesuatu (biasanya orang atau hewan) yang menderita akibat sebuah peristiwa'. Arti kedua inilah yang sesuai untuk teks yang terlihat pada gambar di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah pelajaran bagi kita semua bahwa peran penyuntingan sangat berarti pada proses pracetak. Pada tahap penulisan, mungkin saja penulis salah ketik atau lalai karena terburu-buru. Seorang penyunting harus mampu menemukan kesalahan-kesalahan yang dilakukan penulis walaupun hanya satu huruf.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-6219676354103938515?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/6219676354103938515/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/10/kurban-atau-korban.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/6219676354103938515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/6219676354103938515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/10/kurban-atau-korban.html' title='Kurban atau Korban?'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-2085849250558023259</id><published>2011-09-19T22:48:00.003+07:00</published><updated>2011-09-30T09:51:46.359+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebahasaan'/><title type='text'>Alam Takambang Jadi Guru</title><content type='html'>&lt;b&gt;Sabjan Badio&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-CQW11NlJSz8/TndkCqgjkmI/AAAAAAAAAD0/1l6R2wKk-5U/s1600/GUNUNG+API+DARI+LONTOR-VIEW.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="195" src="http://1.bp.blogspot.com/-CQW11NlJSz8/TndkCqgjkmI/AAAAAAAAAD0/1l6R2wKk-5U/s320/GUNUNG+API+DARI+LONTOR-VIEW.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Maluku Tengah. Foto: Mahyudin&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;i&gt;Alam takambang jadi guru &lt;/i&gt;adalah pepatah yang berasal dari Minangkabau. Kalau dibahasa-Indonesiakan, kira-kira menjadi&amp;nbsp;&lt;i&gt;alam terkembang menjadi guru&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini, pepatah tersebut masuk dalam perangkat pembelajaran untuk guru. Entah siapa yang memasukkan, yang jelas perangkat pembelajaran tersebut telah digandakan oleh banyak guru dan secara tidak langsung menyebarluaskan pepatah &lt;i&gt;alam takambang jadi guru&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru di daerah Sumatra Barat dan guru-guru penutur bahasa Melayu pada umumnya akan langsung mengerti makna pepatah tersebut. Sementara itu, mereka yang tidak mengerti bahasa Melayu dan bahasa Minang, hanya bisa mengira dan mendiskusikan pengertiannya kepada teman sejawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah &lt;i&gt;alam takambang jadi guru&lt;/i&gt; ini sangat dipahami oleh setiap orang yang berasal dari Sumatra Barat. Secara turun-temurun pepatah ini diajarkan, baik secara lisan maupun melalui berbagai karya tulis, termasuk di dalamnya karya sastra. Pepatah ini bermakna 'agar kita belajar pada alam dan berbagai fenomenanya yang senantiasa mengabarkan sebuah kearifan'.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-2085849250558023259?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/2085849250558023259/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/alam-takambang-jadi-guru.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/2085849250558023259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/2085849250558023259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/alam-takambang-jadi-guru.html' title='Alam Takambang Jadi Guru'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-CQW11NlJSz8/TndkCqgjkmI/AAAAAAAAAD0/1l6R2wKk-5U/s72-c/GUNUNG+API+DARI+LONTOR-VIEW.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-1226335946229065687</id><published>2011-09-16T22:02:00.004+07:00</published><updated>2011-09-16T22:05:46.384+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebahasaan'/><title type='text'>a.n. atau a/n?</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Sabjan Badio&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba perhatikan judul artikel ini, a/n dan d/a, keduanya adalah kenyataan yang kerap kita temui. Singkatan a/n dimaksudkan untuk menyingkat frasa &lt;em&gt;atas nama&lt;/em&gt;, sementara d/a dimaksudkan untuk menyingkat frasa &lt;em&gt;dengan alamat&lt;/em&gt;. Sebelum kita lanjutkan, coba baca dengan keras &lt;em&gt;a/n&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;d/a&lt;/em&gt;, kita akan melafalkannya dengan &lt;em&gt;a garis miring n&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;d garis miring a&lt;/em&gt;, kan? Sekarang, coba cermati, makna apa yang diwakili oleh simbol garis miring?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan singkatan yang benar untuk &lt;em&gt;atas nama &lt;/em&gt;adalah a.n., sementara untuk &lt;em&gt;dengan alamat &lt;/em&gt;adalah d.a.. Khusus untuk d/a, ada dua kesalahan besar yang jamak terjadi, yaitu penulisan &lt;em&gt;d/a &lt;/em&gt;itu sendiri dan penggunaan &lt;em&gt;dengan alamat&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Dengan alamat &lt;/em&gt;digunakan untuk seseorang atau instansi yang menggunakan alamat (biasanya alamat pengiriman) yang bukan alamatnya sendiri. Misalnya, saya beralamat di Jalan Kenanga No. 12 Yogyakarta. Karena sebuah alasan (alasan juga bisa karena sulit dijangkau), saya tidak bisa menggunakan alamat saya sendiri, saya kemudian menggunakan alamat orang lain, misalnya menggunakan alamat Sabjan Badio di Jalan Malioboro No. 30 Yogyakarta. Atas kasus ini, saya menuliskan alamat sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Siska Yuniati&lt;br /&gt;d.a. Sabjan Badio&lt;br /&gt;Jalan Malioboro No. 30 Yogyakarta&lt;br /&gt;Kode Pos 55000&lt;/blockquote&gt;Intinya, singkatan dan akronim harus dibuat berdasarkan tata aturan yang benar. Jika kita membuat singkatan dan akronim seenak hati, akan membuat kekacauan dalam berbahasa dan melahirkan kebingungan. Seperti kasus &lt;em&gt;dengan alamat &lt;/em&gt;tadi, orang akan mengira saya tidak beralamat di Jalan Kenanga No. 12 Yogyakarta ketika saya menambahkan d.a. di depan alamat saya. Jika kita sedikit teliti, tata aturan tentang singkatan dan akronim ini sebenarnya telah dijelaskan secara gamblang dalam EYD. Penjelasan tersebut adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;A.S &lt;/em&gt;Kramawijaya&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Muh. &lt;/em&gt;Yamin&lt;br /&gt;Suman &lt;em&gt;Hs.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sukanto &lt;em&gt;S.A.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;M.B.A master of business administration&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;M.Sc. master of science&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;S.E. &lt;/em&gt;sarjana ekonomi&lt;br /&gt;&lt;em&gt;S.Kar. &lt;/em&gt;sarjana karawitan&lt;br /&gt;&lt;em&gt;S.K.M &lt;/em&gt;sarjana kesehatan masyarakat&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bpk. &lt;/em&gt;Bapak&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sdr. &lt;/em&gt;saudara&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kol. &lt;/em&gt;kolonel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumentasi resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;DPR Dewan Perwakilan Rakyat&lt;br /&gt;PGRI Persatuan Guru Republik Indonesia&lt;br /&gt;GBHN Garis-Garis Besar Haluan Negara&lt;br /&gt;SMTP sekolah menengah tingkat pertama&lt;br /&gt;PT perseroan terbatas&lt;br /&gt;KTP kartu tanda penduduk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;dll. dan lain-lain&lt;br /&gt;dsb. dan sebagainya&lt;br /&gt;dst. dan seterusnya&lt;br /&gt;hlm. halaman&lt;br /&gt;sda. sama dengan atas&lt;br /&gt;Yth. (Sdr. Moh. Hasan) Yang terhormat (Sdr. Moh. Hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi:&lt;br /&gt;a.n. atas nama&lt;br /&gt;d.a. dengan alamat&lt;br /&gt;u.b. untuk beliau&lt;br /&gt;u.p. untuk perhatian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;Cu cuprum&lt;br /&gt;TNT trinitrotulen&lt;br /&gt;cm sentimeter&lt;br /&gt;kVA kilovolt-ampere&lt;br /&gt;l liter&lt;br /&gt;kg kilogram&lt;br /&gt;Rp (5.000,00) (lima ribu) rupiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Akronim kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis selurhnya&lt;br /&gt;dengan huruf capital.&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;ABRI Angkatan Bersenjata Republik Indonesia&lt;br /&gt;LAN Lembaga Administrasi Negara&lt;br /&gt;PASI Persatuan Atletik Seluruh Indonesia&lt;br /&gt;IKIP Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan&lt;br /&gt;SIM surat izin mengemudi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku&lt;br /&gt;kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kaptal.&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;Akabri Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia&lt;br /&gt;Bappenas Badan Perencanaan Pembangunan Nasional&lt;br /&gt;Iwapi Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia&lt;br /&gt;Kowani Kongres Wanita Indonesia&lt;br /&gt;Sespa Sekolah Staf Pimpinan Administrasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;pemilu pemilihan umum&lt;br /&gt;radar &lt;em&gt;radio detecting and ranging&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;rapim rapat pimpinan&lt;br /&gt;rudal peluru kendali&lt;br /&gt;tilang bukti pelanggaran&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;Catatan:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jika dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya diperhatikan syarat-syarat berikut. (1) Jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku kata yang lazim pada kata Indonesia. (2) Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vocal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.&lt;/em&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;strong&gt;Referensi:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;"Pedoman Umu Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan", &lt;a href="http://pusatbahasa.depdiknas.go.id/"&gt;http://pusatbahasa.depdiknas.go.id&lt;/a&gt;, diunduh 05/02/2010 Pukul 13.00 WIB.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-1226335946229065687?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/1226335946229065687/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/atau.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/1226335946229065687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/1226335946229065687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/atau.html' title='a.n. atau a/n?'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-7152296188211227525</id><published>2011-09-13T21:11:00.001+07:00</published><updated>2011-09-13T21:17:18.486+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>UU No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-iA4x3-ABZbs/Tm9kM-1A-hI/AAAAAAAAADA/a_0afMbOD2o/s1600/bendera.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="131" src="http://3.bp.blogspot.com/-iA4x3-ABZbs/Tm9kM-1A-hI/AAAAAAAAADA/a_0afMbOD2o/s200/bendera.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Bendera Indonesia&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;9 Juli 2009 adalah sejarah baru atas legalitas bahasa Indonesia di tanah air. Pada tanggal tersebut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menandatangani dan mengesahkan sebuah undang-undang yang di antaranya berisi materi tentang bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disahkannya undang-undang ini disambut baik oleh berbagai kalangan. Memang, ada beberapa kritik, terutama tentang tidak ditegaskannya sanksi atas pelanggaran terhadap bahasa Indonesia. Walaupun begitu, setidaknya, sudah ada aturan kuat atas pengakuan dan kewajiban menggunakan bahasa Indonesia pada situasi tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin mencermati lebih lanjut UU No. 24 Tahun 2009? Silakan jelajahi tautan&amp;nbsp;&lt;a href="http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/lamanv42/sites/default/files/UU_2009_24.pdf"&gt;http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/lamanv42/sites/default/files/UU_2009_24.pdf&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-7152296188211227525?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/7152296188211227525/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/uu-no-24-tahun-2009-tentang-bendera.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/7152296188211227525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/7152296188211227525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/uu-no-24-tahun-2009-tentang-bendera.html' title='UU No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-iA4x3-ABZbs/Tm9kM-1A-hI/AAAAAAAAADA/a_0afMbOD2o/s72-c/bendera.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-1918656006175567801</id><published>2011-09-13T08:31:00.000+07:00</published><updated>2011-09-19T23:18:02.584+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>masalah</title><content type='html'>&lt;b&gt;Sabjan Badio&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masalah hanyalah sepotong kue&lt;br /&gt;adonan telur, gula, tepung, garam, dan keinginan yang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masalah hanyalah sepotong kue&lt;br /&gt;terserah padamu mau dimakan&lt;br /&gt;dipotong-potong kemudian dibagikan pada tetangga&lt;br /&gt;atau disimpan untuk esok hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masalah hanyalah sepotong kue&lt;br /&gt;yang kamu ciptakan sendiri&lt;br /&gt;dan nasibnya bergantung padamu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-1918656006175567801?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/1918656006175567801/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/masalah.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/1918656006175567801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/1918656006175567801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/masalah.html' title='masalah'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-4568139354807974204</id><published>2011-09-12T14:13:00.001+07:00</published><updated>2011-09-12T14:13:00.703+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Sebelas Patriot, Bukan Sekadar tentang Penggemar Bola</title><content type='html'>&lt;b&gt;Sabjan Badio&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-v2LxGmN6eJo/TmXK1-UgcwI/AAAAAAAAABc/F4BhEy8G2oo/s1600/patriot.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-v2LxGmN6eJo/TmXK1-UgcwI/AAAAAAAAABc/F4BhEy8G2oo/s320/patriot.jpg" width="201" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Kover &lt;i&gt;Sebelas Patriot&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Ikal tahu, ayahnya adalah pekerja tambang biasa. Tidak ada hal luar biasa yang patut dibayangkan dari seseorang yang biasa. Seperti orang biasa lain, nasib bapaknya akan begitu-begitu saja hingga akhir hayatnya. Sampai suatu ketika Ikal menemukan album foto tua yang sengaja disimpan sang ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikal menjadi sangat penasaran, sebab ibunya yang mengetahui dirinya memeriksa album tersebut langsung melarang, bahkan menyimpan album tersebut di suatu tempat yang sulit ditemukannya. Dengan sebuah perjuangan, akhirnya Ikal menemukan kembali foto tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapati foto yang dicarinya, Ikal kembali bingung, dia tidak tahu kepada siapa harus bertanya. Tidak ada orang seusia ayahnya yang bisa diminta bercerita. Sementara &amp;nbsp;itu, yang lebih muda, tentu tidak akan tahu perihal foto tersebut. Hingga akhirnya kesempatan menghampirinya, masih ada seorang pemburu tua yang dimungkinkan mengetahui foto tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pemburu itulah Ikal mengetahui siapa bapaknya sesungguhnya. Lelaki pincang itu, yang sangat pendiam itu, yang jarang menjawab ketika ditanya itu, yang sangat suka sepak bola itu, yang tim favoritnya PSSI itu, sesungguhnya adalah seorang bintang lapangan. Pada masanya, ayahnya telah membela kampungnya tidak hanya atas kampung-kampung atau klub-klub yang lain, tetapi juga atas tim Belanda, sesuatu yang seharusnya diharamkan: sepak bola bukan sekadar pemainan, tetapi juga alat politik. Melalui sepak bola nasionalisme rakyat Indonesia sangat mudah tersulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelatih Amin pun diminta oleh penguasa Belanda setempat untuk &lt;i&gt;membangkucadangkan&lt;/i&gt;&amp;nbsp;ayahnya bersaudara. Namun, larangan itu tidak dihiraukan, akhirnya kakak keduanya berhasil menyarangkan satu gol ke gawang Belanda. Akibatnya, mereka dimarahi habis-habisan. Kedua kakaknya pun dibuang Belanda. Ditinggal ketiga saudara tersebut, timnya pun terpaksa menanggung kekalahan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tim Belanda menang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada penghujung kekuasaan kolonialnya di Indonesia, Belanda mengembalikan tiga bersaudara itu ke tempat asalnya. Kesempatan tersebut tidak tersia, ketiganya kembali turun ke lapangan dan untuk pertama kalinya tim Belanda kalah oleh pemain lokal: Belanda kecolongan dan teriakan Indonesia pun membahana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa inilah yang menjadi cikal-bakal kehancuran karier sepak bola ayahnya. Setelah kejadian tersebut, ketiga saudara dikurung di tangsi Belanda dan ketika pulang, tempurung kaki sang ayah telah hancur. Rupa-rupanya itulah alasan mengapa selama ini ayahnya terpincang-pincang saat berjalan. Itu pula rupanya alasan bekas-bekas luka di punggung ayahnya, luka-luka bekas cambuk, luka-luka bekas siksaan, luka-luka lambang patriotisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasakan darah pemain sepak bolah mengalir ke dalam tubuhnya, merasakan jiwa seorang pejuang sejati turun langsung ke dalam tubuhnya, Ikal pun bertekad menjadi pemain sepak bola. Pelatihnya adalah Toharun, putra Pelatih Amin, seorang pelatih yang memiliki filosofi buah-buahan, seorang pelatih yang mengukur kehebatan seorang pemain dari pantatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan Ikal tidak sia-sia, dia pun behasil menjadi pemain yunior di kabupaten, bahkan Provinsi Sumatra Selatan. Namun, dia harus menanggung kecewa, karena tidak berhasil lulus ke tingkat nasional, otomatis tidak bisa menjadi pemain PSSI. Ironisnya, ketidaklulusannya ternyata soal pantat, yang dalam teori pelatih provinsi maknanya ternyata berlawanan dengan pemaknaan pelatih Toharun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah di antara kisah yang diungkap Andrea dalam novel pendek setebal 124 halaman ini. Cerita tidak berakhir di sana, ada pula kisah Ikal ketika belajar di Universitas Sorbonne. Selama di sana dia sempat mengunjungi Real Madrid untuk membeli kaus bertanda tangan Luis Figo, tentu saja dengan perjuangan yang tidak mudah. Di sana pulalah dia menemukan Adriana, seorang perempuan penggila bola. Di sana pulalah dia menyadari eksistensi perempuan dalam dunia pecinta persepakbolaan: fakta-fakta mengejutkan ditemukannya, di antaranya melalui pemikiran Adriana dan dari survei kecilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini tidak sekadar berisi permainan sepak bola. Seperti judulnya, ada nilai-nilai patriotisme yang hendak ditonjolkan. Di satu sisi nilai patriotisme muncul. Akan tetapi, di sisi lain, Andrea sedikit terjebak dalam romatisme keluarga, kebanggaan terhadap ayahnya, sehingga nilai patriotisme tersebut berada pada pusaran besar yang titik pusatnya justru ayahnya sendiri, bukan negara atau bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti novel-novel sebelumnya, cerita &lt;i&gt;Sebelas Patriot&lt;/i&gt; terkesan "berlari", kemungkinan dikarenakan penggarapannya memang difokuskan kepada pesan yang hendak disampaikan. Pengenalan atas tokoh-tokoh dan latar terkesan kurang. Bagi seseorang yang menjadikan &lt;i&gt;Sebelas Patriot&lt;/i&gt; sebagai novel pertama yang dibacanya tentu saja agak kebingungan mengenali siapa sebenarnya Ikal? Bagaimana caranya anak kampung seperti dia sampai ke Universitas Sorbonne? Juga, tentunya pertanyaan-pertanyaan lain yang mengundang penasaran. Saya pun menyimpulkan, bahwa novel&amp;nbsp;&lt;i&gt;Sebelas Patriot&lt;/i&gt;&amp;nbsp;secara&amp;nbsp;&lt;i&gt;de facto&amp;nbsp;&lt;/i&gt;adalah "lanjutan" dari &lt;i&gt;Cinta di Dalam Gelas&lt;/i&gt;, sebagaimana &lt;i&gt;Cinta di Dalam Gelas&lt;/i&gt;&amp;nbsp;"lanjutan"&amp;nbsp;dari &lt;i&gt;Padang Bulan&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Padang Bulan&lt;/i&gt;&amp;nbsp;"lanjutan"&amp;nbsp;tetralogi &lt;i&gt;Laskar Pelangi&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: &lt;i&gt;Sebelas Patriot&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Pengarang: Andrea Hirata&lt;br /&gt;Penyunting: Imam Ridiyanto, Ditta Sekar Campaka&lt;br /&gt;Penerbit: Bentang&lt;br /&gt;Tahun Terbit: 2011&lt;br /&gt;Tebal: xii + 112 halaman&lt;br /&gt;ISBN: 978-602-8811-52-1&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-4568139354807974204?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/4568139354807974204/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/sebelas-patriot-bukan-sekadar-tentang.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/4568139354807974204'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/4568139354807974204'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/sebelas-patriot-bukan-sekadar-tentang.html' title='Sebelas Patriot, Bukan Sekadar tentang Penggemar Bola'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-v2LxGmN6eJo/TmXK1-UgcwI/AAAAAAAAABc/F4BhEy8G2oo/s72-c/patriot.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-4652170272867568334</id><published>2011-09-07T00:06:00.006+07:00</published><updated>2011-09-07T00:06:00.538+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Cahaya di Malam Seribu Bulan</title><content type='html'>&lt;b&gt;Cerpen La Birruni&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Republika&lt;/i&gt;, 28 Agustus 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;“BANG&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;Zein….” seru Wina bahagia melihat sang suami dari kejauhan dengan&amp;nbsp;&lt;em&gt;abaya&lt;/em&gt;&amp;nbsp;putihnya yang cemerlang seperti dilapisi taburan cahaya. Dengan senyum menawan menyambut kedatangannya.&lt;span id="more-2420"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Dengan berlari kecil, Wina menuju sang suami tercinta yang berdiri di tengah padang rumput yang terlihat bak permadani hijau, di belakang sang suami terhampar permadani merah menuju sebuah rumah, bak istana megah Ratu Inggris, bahkan menurutnya lebih dari itu. Istana itu bagai berlapis cahaya yang dihiasi mutiara dan permata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Tangan Zein setengah terentang menyambut sang istri ke dalam pelukannya. Dipeluknya erat sang istri tercinta, bagai telah lama tak bersua dan tak ingin terlepas kembali. Diciumnya sang istri yang terlihat sangat cantik dengan gamis sutra kuning gading. Rambut panjang sebahunya yang biasa tertutup jilbab, terurai di terpa angin lembut, tercium wangi harum bunga. Bibirnya yang biasa terlihat pucat, kini merah, ranum, dan menggairahkan. Benar-benar seperti bidadari tercantik dari surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;“Umi, abi….” terdengar panggilan riang dari sebuah jendela lantai atas rumah bak istana itu. Seorang putri kecil cantik bak bidadari kecil memanggilnya dengan senyum merekah dan melambai-lambaikan tangannya. Zein dan istrinya yang sedang bermesraan, tersenyum dan membalas lambaian putri kecilnya, anak semata wayang mereka.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;“Akhi… bangun, sebentar lagi kita shalat lail berjamaah,” suara seorang pria sambil menepuk lembut punggungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Zein terbangun, “Astaghfirullah… ya Akhi… syukron,” jawabnya sambil mengambil posisi duduk, dilihatnya jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Sejenak dia terdiam, “Ah… rupanya hanya mimpi….” desahnya. Namun, tasbih, tahmid, takbir terlantun lembut dari bibirnya. Dia bahagia walau hanya sekadar mimpi karena mimpi itu masih menyisakan kebahagiaan yang telah lama tak dirasakannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;“Umi… bangun, Mi, sebentar lagi kita shalat lail berjamaah…,” suara dan sentuhan lembut seorang wanita membangunkannya. Wina terbangun, mengambil posisi duduk, mengucek-ngucek matanya, dan tersenyum kepada wanita yang membangunkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;“Syukron ya Ukhti…,” jawab Wina sambil tersenyum. Senyum itu terus mengembang hingga shalat lail akan dimulai. Teringat olehnya mimpi singkat yang sangat membahagiakannya dan masih tersisa kebahagiaan itu di hatinya yang telah lama dalam kesedihan. Tasbih, tahmid, dan takbir pun terlantun dari bibirnya yang pucat dan bergetar.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;“Diberitahukan kepada seluruh peserta itikaf, hidangan sahur mulai hari ini prasmanan. Untuk peserta akhwat, silahkan menuju ruangan sebelah kanan aula di belakang masjid yang bertuliskan ruang Safa, sedangkan untuk ikhwan di sebelah kiri, yang bertuliskan ruang Marwa,” pengumuman dari seorang panitia masjid terdengar jelas ke setiap penjuru masjid dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Wina yang mendengar itu menelan ludahnya, dipandangi putri semata wayangnya yang masih tertidur lelap di teras mesjid, tempat dia dan suaminya beriktikaf mengharapkan kemuliaan dan keberkahan malam seribu bulan di sepuluh terakhir Ramadhan. Di dalam masjid mulai sepi, orang-orang sibuk untuk bersantap sahur. Peserta iktikaf resmi—terdaftar dan dikelola oleh sebuah kepanitiaan—sudah menuju ruangan yang tadi diumumkan panitia melalui TOA mesjid. Sedangkan peserta tidak resmi sibuk mencari santapan sahur di depan mesjid yang ramai oleh pedagang beraneka makanan dan barang-barang perlengkapan muslim lainnya. Sedangkan Wina kembali terpekur dengan Alquran kantung lusuhnya sambil sesekali mengipasi putrinya dari serbuan nyamuk. Dia dan suaminya adalah peserta itikaf tak resmi.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;“Assalamu’alaikum… maaf mengganggu… ada yang mau membeli celana ini, Akhi? Bekas memang, tapi baru dipakai sekali dan asli merek terkenal,” kata Zein pada sekumpulan ikhwan yang sedang duduk melingkar, bersantap sahur bersama. Dengan agak sungkan Zein menawari celana yang menurutnya saat ini sangatlah bagus karena hanya itu celana bagusnya yang terselamatkan dari kobaran api sebelas hari yang lalu.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Nggak&lt;/em&gt;&amp;nbsp;Bang… makasih,&amp;nbsp;&lt;em&gt;dah&lt;/em&gt;&amp;nbsp;bawa celana banyak,” kata salah seorang ikhwan tanpa basa-basi, sedang yang lain mengangkat tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Zein hanya tersenyum dan meninggalkan mereka dengan menelan ludah yang terasa olehnya kali ini sangat pahit. Dadanya sesak. Dipandanginya teras masjid bagian akhwat dari kejauhan, dilihatnya sang istri masih terpekur dengan Alquran kecilnya. Tak terasa bulir-bulir air matanya jatuh satu per satu. “Maafkan abang, Sayang….” bisik Zein dalam hati.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Sebulan yang lalu, Zein di-PHK dari perusahaannya. Pesangon yang tak seberapa dipakainya untuk modal berjualan&amp;nbsp;&lt;em&gt;abaya&lt;/em&gt;&amp;nbsp;dan perlengkapan muslim lainnya. Namun, Allah memiliki rencana lain untuknya. Sebelas hari yang lalu, rumahnya yang berada di perkampungan padat penduduk di bilangan Senen Jakarta, habis dilalap api dini hari menjelang sahur. Hanya beberapa pakaian layak pakai yang tersisa untuknya, istri, dan anaknya. Karena masih tertinggal dalam ember cucian yang belum terjemur di luar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Dua hari mengungsi di penampungan, menjelang sepuluh hari terakhir, Zein mengajak istri dan anaknya untuk beriktikaf, agar tak kehilangan momen sepuluh terakhir Ramadhan yang penuh fadilah, terutama kemuliaan Laitul Qadar. Karena belum tentu mereka akan bertemu di Ramadhan tahun depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Hari ini, memasuki hari kesembilan, Zein bersama keluarganya beriktikaf di salah satu masjid yang dinamakan Masjid Da’wah di Jakarta. Dengan imam dan pemberi tausiah dari ulama-ulama yang sangat dikagumi dan dihormatinya selama ini. Dan, baru satu kali mereka merasakan santap sahur, hanya berbuka takjil gratis yang selalu disediakan pihak masjid. Mereka hanya menelan ludah serta tumpahnya air mata ketika selesai shalat tarawih dan subuh ditemukannya banyak kotak berisi nasi dengan lauk pauk yang terlihat sangat lezat, tersisa di koridor-koridor halaman masjid dan tempat sampah.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Zein terus berusaha untuk mendapat sebungkus nasi untuk santap sahur Wina, istri yang sangat dicintainya, dan untuk putri kecilnya yang sudah mulai terserang flu itu. Dari menawarkan celana yang dimilikinya hingga menawarkan tenaga untuk menjadi kuli, bahkan tenaga cuci piring di kedai sekitar masjid. Namun, tak ada satu pun yang membutuhkan tenaganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Waktu menunjukkan 25 menit lagi memasuki waktu imsak. Ada kepanikan dalam diri Zein. Terpikir olehnya untuk melobi kedai nasi untuk bersedia membarter sebungkus nasi dan lauk sekadarnya dengan celana yang baginya merupakan celana terbagus dan terbaik. Dia menghentikan langkahnya, memandang kedai pecel lele di seberang jalan. Tekadnya bulat, dia akan mulai mengiba agar sang pemilik kedai merasa kasihan dan mau membarter sebungkus nasi dengan celana bagus satu-satunya. Dengan langkah ragu, Zein mulai melangkahkan kakinya. “Astaghfirullah al-azhim…, bismillah…,” bisiknya memulai langkah. Tak disadarinya, dari sebelah kanan jalan yang merupakan tikungan, melaju dengan cepat sebuah sepeda motor dan….&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Ciiit…. Gubrak&lt;/em&gt;!!” Zein tertabrak, dia terjatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Sang pengemudi sepeda motor berhenti sejenak, membantu Zein yang berusaha untuk berdiri. “&lt;em&gt;Afwan&lt;/em&gt;&amp;nbsp;Akhi…&amp;nbsp;&lt;em&gt;Antum&lt;/em&gt;&amp;nbsp;nggak kenapa-napa? Sekali lagi,&amp;nbsp;&lt;em&gt;afwan&lt;/em&gt;, ana terburu-buru, ada keperluan mendesak,” kata sang pengemudi motor itu mengajak Zein bersalaman ketika dilihatnya tak ada luka pada diri Zein, sang pengemudi itu pun pamit dan kembali mengendarai sepeda motornya dengan laju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Sedangkan Zein masih berada dalam keterkejutannya. Berkali-kali dia istighfar, bertasbih, dan bertahmid. Namun, kunang-kunang di sekitar kepalanya terasa sangat banyak dan semakin sering mengelilingi kepalanya. Tubuh Zein gemetar. Dalam keadaan seperti itu, yang diingatnya adalah bungkusan celana bagusnya yang akan dia tukar dengan sebungkus nasi untuk anak dan istrinya. Dicarinya di sekitar jalan, diraba-rabanya tanah di bawah pohon rindang pinggir jalan, pencahayaan jalan yang redup dan kepala yang berkunang-kunang membuat penglihatannya semakin tak jelas. Terus dia mencarinya, hingga ditemukannya bungkusan itu di pinggir comberan, namun isinya tak lagi dia temukan di dalamnya. Dipaksakan olehnya melongok ke dalam comberan dan memasukkan tangannya untuk memastikan apa yang dilihatnya saat ini. Ya, celana terbaiknya kini telah penuh dengan kotoran comberan dan berbau busuk. Tubuh Zein semakin gemetar.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Zein berjongkok di bawah pohon besar di pinggir jalan untuk menenangkan diri sejenak dengan berzikir. Namun, sisi kemanusiaannya dan rasa kasih sayang pada istri dan anaknya membuat Zein dihinggapi kepanikan. Dalam kepanikan itu, terlintas olehnya untuk mencuri. Ditepisnya keinginan itu dan semakin deras zikirnya. Lalu, terlintas olehnya untuk meminta-minta, namun segera juga ditepisnya. Dia bukanlah tipe seperti itu, bahkan sekadar berkeluh kesah pun tak pernah dia lontarkan pada manusia, selain kepada-Nya. Badannya semakin gemetar, kali ini dingin menyelimutinya hingga melinukan tulang-tulang, dadanya sesak. Zikir Zein semakin deras, dipandanginya langit, dilihatnya hanya satu bintang yang menghiasinya. Dilantunkannya surat al-Qadar.&lt;em&gt;“Sesungguhnya, kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah malam itu hingga terbit fajar”&lt;/em&gt;. Lalu dirasakan olehnya seakan-akan dihujani cahaya dengan gemerlap bintang-bintang, terasa hangat dan menenangkan. “Oh… Lailatul Qadar,&amp;nbsp;&lt;em&gt;Lailahaillallah… Muhammadar rasulullah&lt;/em&gt;….” bisiknya lirih, namun penuh harap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Azan subuh berkumandang, Wina membetulkan selimut putri kecilnya untuk mengurangi serbuan nyamuk yang berebut mengigit kulit putih putri kecilnya selama ia menjalankan shalat berjamaah. Namun, saat ia mencoba berdiri, dirasakannya bumi mulai berputar. Wina memaksakan dirinya berusaha untuk mencapai saf untuk dapat shalat Subuh berjamaah. Namun, baru beberapa langkah, dirasakannya bumi semakin berputar dan semburat cahaya dengan taburan bintang-bintang mengenai wajahnya. Ada kehangatan dirasakannya dari semburat cahaya itu, menghangatkan tubuhnya yang menggigil kedinginan dari sepertiga malam tadi. Wina tersenyum. “Oh… Lailatul Qadar,&amp;nbsp;&lt;em&gt;Lailaahaillallah…&lt;/em&gt;&amp;nbsp;&lt;em&gt;Muhammadar rasulullah&lt;/em&gt;….” terlantun dari bibirnya yang semakin pucat.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Sehabis shalat Subuh, di bagian tempat ibadah akhwat heboh dengan ditemukannya mayat perempuan di teras mesjid dengan mayat seorang anak perempuan dengan tubuh yang telah membiru.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Dan di saat yang bersamaan, para pedagang dihebohkan dengan ditemukannya mayat laki-laki yang sedang tersenyum, harum, dan bercahaya di bawah pohon yang rindang. Sementara, di koridor mesjid ramai orang-orang memandangi langit, terlihat cerah namun sejuk, serta dihiasi pelangi. (*)&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="color: white;"&gt;&amp;nbsp;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="color: white;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Penulis mempunyai nama lengkap Lisa Adhani. Ia lebih senang mencantumkan nama La Birruni sebagai nama penanya. Lahir di Jakarta 24 Desember 1974. Suka membaca sejak kecil, terutama buku cerita. Suka menulis sejak SMP, tapi&amp;nbsp;&lt;em&gt;nggak pede&lt;/em&gt;-an sama hasil tulisannya. Saat ini penulis sudah menghasilkan karya antologi Puisi Islami dan sebuah antologi diary bunda;&amp;nbsp;&lt;em&gt;Ketika Buah Hati Sakit.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-4652170272867568334?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/4652170272867568334/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/cahaya-di-malam-seribu-bulan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/4652170272867568334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/4652170272867568334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/cahaya-di-malam-seribu-bulan.html' title='Cahaya di Malam Seribu Bulan'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-1623011378462993287</id><published>2011-09-06T09:58:00.009+07:00</published><updated>2011-11-04T20:29:46.538+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Lerok, Sepenggal Kisah tentang “Kampung Malaysia”</title><content type='html'>&lt;b&gt;Sabjan Badio&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-ybN7DJ0RCUc/TmWOFKYqQdI/AAAAAAAAABY/o_DCJfiNtmk/s1600/ulid.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; display: inline !important; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: left;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-ybN7DJ0RCUc/TmWOFKYqQdI/AAAAAAAAABY/o_DCJfiNtmk/s320/ulid.jpg" width="208" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sampul depan &lt;i&gt;Ulid Tak Ingin ke Malaysia&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Cerita ini tentang seorang anak manusia bernama Ulid. Terlahir sebagai anak seorang guru dan ditakdirkan sebagai bocah yang sangat mencintai kampung halamannya, membuat kehidupan Ulid kecil penuh warna. Ramainya panen bengkuang, rasa bengkuang yang manis, dan keheranannya pada orang kota yang memakan bengkuang yang dicuci dengan air sungai yang sekaligus menjadi kakus orang Lerok adalah di antara warna kehidupannya itu. Membakar gamping, kegagahan bapaknya, umpatan-umpatan khas pembakar gamping, dan pengalaman membakar itu sendiri adalah warna lain dari masa kecilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar-benar penuh warna. Saking berwarnanya, kita tidak bisa membayangkan kehidupan Ulid kecil tenang sentosa seperti anak guru masa kini. Tarmidi, ayahnya, hanyalah seorang guru sekolah swasta di kampung kecil dan miskin, yang tentu saja digaji dengan seikhlasnya (apa yang diikhlaskan). Oleh karena itu, kehidupan mereka tidak baik-baik saja walaupun bapaknya juga membakar gamping dan menanam bengkuang—di mata Ulid kata baik-baik saja berarti beres, tidak baik-baik saja berarti ada yang tidak beres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana tidak baik-baik saja pun benar-benar dialaminya. Setelah sebelumnya dia mogok sekolah SD dan bertekad pindah ke sekolah swasta karena malu dipasang-pasangkan dengan gadis mungil bernama Iyah, harus mengembala kambing yang tidak disukainya, dan berbagai peristiwa lain, akhirnya ditemuinya bapaknya bersiap berangkat ke Malaysia. Sebagai seseorang yang tidak suka Malaysia tentu saja hal ini membuat Ulid murka. Namun, tidak bisa ditampik, walaupun dipenuhi warna yang tidak kalah pekatnya, peristiwa inilah yang berkontribusi besar atas keberhasilannya melanjutkan SMA. Kemurkaannya semakin bertambah ketika mendapati bapaknya tertangkap polisi Malaysia dan kemudian dideportasi. Bukan kepulangan bapaknya yang menjadi puncak kemurkaan Ulid, melainkan akibat kepulangan bapaknya itu, ibunyalah yang berangkat ke Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman-pengalaman buruknya membuat Ulid yang semula membenci Malaysia, justru berbalik arah. Dia berangkat meninggalkan segalanya, meninggalkan bapaknya, adik-adiknya, hutan Lerok, bukit-bukit, kenangan masa kecil,  dan terlebih lagi meninggalkan Iyah, si gadis yang sempat menjadi momok dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bagian tidak kalah penting dari cerita, ternyata sebagian besar kehidupan Ulid tak terlepas dari tokoh sentral bernama Siti Juwairiyah, gadis kecil yang sangat dihindarinya karena “pengalaman buruk” dipasang-pasangkan sewaktu TK. Tanpa disadari, berbagai perjalanan hidup Ulid selanjutnya, terutama dalam hal memilih sekolah, ternyata tak jauh dari usaha menghindari Juwairiyah, yang kemudian disadari justru dicintainya. Akan tetapi sayang, cinta tak berakhir bahagia bagi Ulid, kekasih hatinya drenggut begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah sebagian dari cerita yang disampaikan Mahfud Ikhwan dalam &lt;i&gt;Ulid Tak Ingin ke Malaysia&lt;/i&gt;. Pada novel ini, detail kehidupan petani bengkuang di Lerok begitu ditonjolkan, detail pembakar gamping—yang sebenarnya tidak lain petani bengkuang juga, tak kalah rincinya. Detail bagaimana bengkuang ditinggalkan, gamping dilupakan, dan Malaysia dijadikan tujuan, pun diceritakan dengan begitu berwarna. Tak luput pula dikisahkan bagaimana perubahan kehidupan warga Lerok setelah banyak warganya ke Malaysia, keadaan masjidnya yang mulai ditinggalkan, keadaan dan berbagai  kisah sendu lain seiring dengan semakin banyaknya televisi, hadirnya listrik PLN, sampai kehadiran film jorok yang tak sengajak ditonton Ulid karena dijebak Yamin, temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lerok benar-benar berubah setelah itu. Malaysia adalah kiblat, sepatu, mainan, pakaian, Ringgit, semuanya berbau Malaysia. Bahkan, didapati kemudian, Ulid, bapak, emaknya, bahkan Siti Juwairiyah--walau pun tak bertemu Ulid—ternyata ada di Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita yang bagus tentunya di tengah arus penerbitan novel populer yang begitu gencar. Cerita bagus yang sekaligus memilukan, karena diyakini tidak semua anak remaja bahkan mungkin suka pada cerita model ini. Bukan oleh ceritanya yang tidak bagus, akan tetapi karena arus pernerbitan dan promosi novel yang lebih populer yang tentu saja lebih deras dan dimungkinkan menjauhkan novel-novel serius seperti ini dari pusat perhatian. Tentu saja peran orang tua dan guru menjadi titik sentral dalam mendekatkan diri anak-anak dan remaja pada novel-novel pembangun jiwa, penuh nuansa sejarah, dan petualangan alami ala anak kecil seperti dalam novel setebal 400 halaman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit kritik tentu saja disampaikan kepada penerbit, ukuran bukunya terlihat tidak umum untuk sebuah novel, terlalu “jumbo”. Selain itu, kertasnya yang putih dan tebal membuat buku ini terlalu berat dan mungkin ini pulalah yang membuat jilidannya muda lepas—karena lemnya tidak kuat menahan kertas yang tebal dan sedikit kaku tentunya. Terakhir, tentu saja, soal penyuntingan bahasa, masih mengalami beberapa kesalahan, terutama dalam penulisan kata. Walaupun begitu, sedikit kekurangan ini tidaklah terlalu berpengaruh terhadap kelayakan bahkan kewajib-bacaan atas novel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, bagi anak kampung, kalian wajib membaca, karena ini cerita tentang kalian. Bagi anak kota, lebih wajib lagi, ini kisah tentang "air kakus" orang kampung yang kalian makan (atau minum?) bersama bengkuang. Bagi remaja, ini adalah kisah cinta penuh pesona, panduan untuk kalian. Bagi orang dewasa, ini adalah kisah perjuangan hidup, tentang pahitnya, tentang getirnya, tentang penerimaan, dan pada akhirnya tentang kelegaan. Bagi kaum agamis, ini adalah cerita tentang Kampung Lerok nan agamis, tak pantas untuk dilewatkan begitu saja. Bahkan, bagi menteri pendidikan, ini adalah cerita tentang UUD 1945 Pasal 28C. Selamat membaca!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: &lt;i&gt;Ulid Tak Ingin ke Malayasia&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Pengarang: Mahfud Ikhwan&lt;br /&gt;Penyunting: Fenita Agustina&lt;br /&gt;Penerbit: Jogja Bangkit&lt;br /&gt;Tahun terbit: 2009&lt;br /&gt;Tebal:400 Halaman&lt;br /&gt;ISBN: 978-602-95394-2-4&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-1623011378462993287?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/1623011378462993287/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/kampung-lerok-sepenggal-kisah-tentang.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/1623011378462993287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/1623011378462993287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/kampung-lerok-sepenggal-kisah-tentang.html' title='Lerok, Sepenggal Kisah tentang “Kampung Malaysia”'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-ybN7DJ0RCUc/TmWOFKYqQdI/AAAAAAAAABY/o_DCJfiNtmk/s72-c/ulid.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-8231995031574815310</id><published>2011-09-06T07:09:00.000+07:00</published><updated>2011-09-06T10:37:58.300+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Isu Penjiplakan pun Menerpa Taufiq Ismail</title><content type='html'>&lt;b&gt;Sabjan Badio&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/0/0a/Taufik_ismail.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/0/0a/Taufik_ismail.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Tuduhan sebagai penjiplak akhirnya sampai juga kepada Taufiq Ismail. Tuduhan tersebut menyebar luas melalui jejaring sosial. Berdasarkan catatan beberapa media, disinyalir orang yang pertama menghembuskan kasus tersebut bernama Bramantyo Prijosusilo. Dalam akun Fecebbook-nya, Bramantyo yang seorang pegiat sastra dan kebudayaan itu, mengatakan bahwa puisi “Kerendahan Hati” karya Taufiq Ismail memiliki kesamaan dengan puisi “Be the Best of Whatever You Are karya Douglas Malloch”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taufiq Ismail yang tidak pernah melakukan hal nista tersebut membantahnya dengan mengirimkan surat terbuka kepada koran online Vivanews. Surat tersebut dikirimkan Taufiq Ismail pada 1 April 2011 dan diterima VIVAnews.com pada 02 April 2011. Dalam surat tersebut, Taufiq Ismail menjelaskan bahwa dia sama sekali tidak pernah mempublikasikan puisi “Kerendahan Hati”. Jika nama Taufiq Ismail tercantum pada terjemahan puisi “Kerendahan Hati”, itu bukan perbuatannya. Jadi, jika ada orang yang mengatakan bahwa dirinya telah menjiplak karya Douglas Malloch, tentu saja tidak benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelaan Taufiq Ismail masuk akal, puisi “Kerendahan Hati” memang tidak pernah dipublikasikan olehnya. Puisi tersebut ditemukan dalam Buku Sekolah Elektronik mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VIII yang ditulis oleh Dewaki Kramadibrata, Dewi Indrawati, dan Didik Durianto (2008). Dalam buku tersebut, nama Taufiq Ismail tercantum dua kali, untuk puisi “Karangan Bunga” (hal. 175) dan puisi “Kerendahan Hati” (hal. 189). Anehnya, nama Taufiq Ismail tidak menggunakan huruf “q”, melainkan huruf “k”. Jadi, ada dua kesalahan di sini, pertama penulisan nama Taufiq Ismail pada puisi “Karangan Bunga”—menggunakan huruf “k”, padahal seharusnya “q”—dan penulisan nama Taufik Ismail pada puisi “Kerendahan Hati”—seharusnya Douglas Malloch. Berikut petikan puisi “Kerendahan Hati” yang dimuat dalam buku &lt;i&gt;Terampil Berbahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VIII&lt;/i&gt; (Kramadibrata, dkk., 2008) dan puisi “Be the Best of Whatever You Are” (Vivanews.com).&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Kerendahan Hati&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Taufik Ismail&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Kalau engkau tak mampu menjadi beringin&lt;br /&gt;yang tegak di puncak bukit&lt;br /&gt;Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,&lt;br /&gt;yang tumbuh di tepi danau&lt;br /&gt;Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,&lt;br /&gt;Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang&lt;br /&gt;memperkuat tanggul pinggiran jalan&lt;br /&gt;Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya&lt;br /&gt;Jadilah saja jalan kecil,&lt;br /&gt;Tetapi jalan setapak yang&lt;br /&gt;Membawa orang ke mata air&lt;br /&gt;Tidaklah semua menjadi kapten&lt;br /&gt;tentu harus ada awak kapalnya....&lt;br /&gt;Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi&lt;br /&gt;rendahnya nilai dirimu&lt;br /&gt;Jadilah saja dirimu....&lt;br /&gt;Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Be the Best of Whatever You Are&lt;/b&gt;Douglas Malloch&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;If you can’t be a pine on the top of the hill,&lt;br /&gt;Be a scrub in the valley — but be&lt;br /&gt;The best little scrub by the side of the rill;&lt;br /&gt;Be a bush if you can’t be a tree.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;If you can’t be a bush be a bit of the grass,&lt;br /&gt;And some highway happier make;&lt;br /&gt;If you can’t be a muskie then just be a bass —&lt;br /&gt;But the liveliest bass in the lake!&amp;nbsp;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;We can’t all be captains, we’ve got to be crew,&lt;br /&gt;There’s something for all of us here,&lt;br /&gt;There’s big work to do, and there’s lesser to do,&lt;br /&gt;And the task you must do is the near.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;If you can’t be a highway then just be a trail,&lt;br /&gt;If you can’t be the sun be a star;&lt;br /&gt;It isn’t by size that you win or you fail —&lt;br /&gt;Be the best of whatever you are!&lt;/blockquote&gt;Andai saja “Kerendahan Hati” memang dipublikasikan oleh Taufiq Ismail, bisa jadi ini merupakan akhir kecemerlangan kepenyairan Taufiq Ismail. Namun, tidak demikian kejadiannya. Walaupun begitu, tuduhan tersebut terlanjur menyebar luas melalui media &lt;i&gt;online &lt;/i&gt;dan membuahkan caci-maki untuk Taufiq Ismail. Jadi, wajar saja jika kemudian penyair kenamaan tersebut menyiapkan pembelaan dan tuntutan terhadap Bramantyo. Untungnya, polemik ini tidak sampai ke ranah hukum. Taufiq Ismail dan Bramantyo Prijosusilo dipertemukan dalam acara silahturahmi sastra yang digelar di Fadli Zon Library Jakarta pada tanggal 14 April 2011 yang lalu. Dalam pertemuan tersebut keduanya saling bersalaman dan bertekad mengakhiri konflik—yang sesungguhnya merupakan kesalahpahaman--antar-keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;REFERENSI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amri, Arfi Bambani &amp;amp; Febry Abbdinnah. 2011. “Taufiq Ismail Menangkis Tuduhan Plagiat”. Vivanews.com, diunduh 25 Agustus 2011 pukul  10.15 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggadha, Arry &amp;amp; Febry Abbdinnah. 2011. “Puisi Taufik Ismail Mirip Karya Malloch”. Vivanews.com, diunduh 25 Agustus 2011 pukul 10.00 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kramadibrata, Dewaki. 2008. &lt;i&gt;Terampil Berbahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VIII&lt;/i&gt;. Jakarta: Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Foto&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Wikipedia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-8231995031574815310?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/8231995031574815310/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/08/isu-penjiplakan-pun-menerpa-taufiq.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/8231995031574815310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/8231995031574815310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/08/isu-penjiplakan-pun-menerpa-taufiq.html' title='Isu Penjiplakan pun Menerpa Taufiq Ismail'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-1620820029481327841</id><published>2011-09-05T14:01:00.003+07:00</published><updated>2011-09-12T20:52:50.407+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Mengapa Orang-orang Menulis?</title><content type='html'>&lt;b&gt;Sabjan Badio&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Tahu mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari….” (Pramoedya Ananta Toer dalam tetralogi &lt;i&gt;Bumi Manusia&lt;/i&gt;).&lt;/blockquote&gt;Pernyataan Pram di atas, adalah salah satu alasan seseorang menulis, yaitu sebagai &lt;b&gt;catatan sejarah&lt;/b&gt;. Sudah jadi pemahaman umum, jika ingin belajar tentang suatu kebudayaan, dinasti, atau apapun itu, salah satu yang dapat kita lakukan adalah dengan mempelajari tulisan-tulisan yang lahir pada masa itu, misalnya buku dan prasasti. Entah disengaja atau tidak, tulisan-tulisan yang dilahirkan pada suatu masa akan menjadi rujukan sejarah untuk generasi setelahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan hal tersebut, kita mengenal Anne Frank dengan &lt;i&gt;Catatan Harian Anne Frank&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yang menjadi sumber sejarah tentang Perang Dunia 1 (atau 2?) Selain itu, kita juga mengenal Wiranto dalam tulisannya &lt;i&gt;Bersaksi dalam Badai&lt;/i&gt;, Amien Rais pun punya buku yang mencatat sejarah perjalanan bangsa Indonesia, dan begitu banyak penulis dan tulisan lain yang pada masa berikutnya dijadikan sebagai catatan sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan selanjutnya, untuk &lt;b&gt;mendongkrak popularitas&lt;/b&gt;. Menulis adalah salah satu cara yang dapat dipergunakan untuk mendongkrak popularitas seseorang. Namun, sebagian orang memanfaatkan jalan pintas untuk itu. Saya mengenal beberapa teman yang menulis untuk orang lain (penulis hantu). Orang-orang yang minta bantuan mereka biasanya orang-orang terkenal dan para pejabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan ketiga adalah demi&lt;b&gt; uang&lt;/b&gt;. Sebagian orang-orang ini mencari uang sambil mempopulerkan diri, semakin populer, semakin dicari karya mereka, dan semakin banyak uang yang masuk. Sebagian yang lain, tak peduli apakah mereka populer atau tidak, yang jelas mereka menulis dan dapat duit. Yang terakhir ini biasanya tidak bersedia menyumbangkan tulisannya secara gratis. Para penulis hantu adalah sebagian dari golongan ini. Dengan menjadi penulis hantu, mereka akan mendapatkan uang berlipat, dari media yang memuat dan dari pejabat yang namanya dipublikasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan keempat adalah &lt;b&gt;hobi&lt;/b&gt;. Karena alasan ini, seseorang menulis tanpa beban apapun. Karena diikuti rasa senang, banyak yang menjadi terkenal dan kaya karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan kelima adalah &lt;b&gt;kewajiban&lt;/b&gt;. Orang-orang menulis karena alasan ini lebih banyak menghasilkan tulisan-tulisan kaku, tak bermutu, dan asal jadi. Walaupun begitu, sebagian di antaranya, yang kebetulan juga hobi atau berniat mengabdi kepada masyarakat atau apapun, bisa juga menghasilkan tulisan-tulisan berkelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan keenam, &lt;b&gt;pelampiasan&lt;/b&gt;. Jika anda marah, sedih, senang, menulislah. Dengan begitu, anda tidak akan tampil marah, sedih, senang secara berlebihan di hadapan orang lain karena emosi anda telah terlampiaskan pada tulisan. Karena itulah memiliki buku harian itu penting. Kehadiran mediakonsumen.com salah satunya di antaranya dijadikan pelampiasan bagi sebagian orang. Mungkin karena alasan inilah ada pilihan “Paling tidak perasaan saya sudah sedikit lega” pada poling di halaman depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan lain, &lt;b&gt;pengabdian&lt;/b&gt;. Yang terakhir ini adalah orang-orang yang serius, bersahaja, tak menjadikan popularitas sebagai tujuan utama, tak menjadikan materi sebagai tujuan utama. Mereka menulis untuk mengabdikan ilmu, pengalaman, pengetahuan, penemuan, dan apapun yang mereka punya. Mereka menulis untuk masyarakat luas, untuk kehidupan yang lebih baik (kayak slogan PLN aja).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena alasan terakhir ini, tak jarang kepopuleran mereka justru melambung, pendapatan materi mereka justru berlipat. Mengapa? Karena mereka menulis sepenuh hati, dengan kejujuran, dengan tekad untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat. Untuk hal ini, kita mengenal JK Rowling yang menjadi salah satu perempuan terkaya setelah menulis dengan sungguh-sungguh kemudian menerbitkan Harry Potter. Kita juga mengenal Pramoedya Ananta Toer yang berkali-kali dicalonkan sebagai peraih hadiah nobel karena epos-eposnya, kita juga mengenal Imam Gazali, Harun Yahya, dan banyak lagi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, ketika tulisan semata dilahirkan untuk popularitas dan materi, kecil kemungkinan akan menjadikan penulisnya bertahan lama. Kepopuleran mereka takkan abadi, takkan melegenda, akan pudar ditelan zaman, terkikis ditelan usia. Apalagi bagi mereka yang terbukti sebagai plagiat dan penipu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa lagi yang menjadi alasan seseorang menulis? Banyak, di antaranya (mungkin) alasan anda sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-1620820029481327841?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/1620820029481327841/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/mengapa-orang-orang-menulis.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/1620820029481327841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/1620820029481327841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/mengapa-orang-orang-menulis.html' title='Mengapa Orang-orang Menulis?'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-5432476254386459178</id><published>2011-09-05T09:40:00.009+07:00</published><updated>2011-09-25T23:20:38.478+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebahasaan'/><title type='text'>Dari Sumpah Pemuda, UU Bahasa, hingga Nasionalisme</title><content type='html'>&lt;b&gt;Sabjan Badio&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kongres Pemuda II berlangsung tanggal 27-28 Oktober 1928. Berdasarkan data Wikipedia, kongres yang dilaksanakan di Jakarta tersebut dipimpin oleh Sugondo Joyopuspito (PPPI) dan wakilnya Joko Marsaid (Jong Java). Catatan tentang Kongres Pemuda II ini bisa dilihat pada laman Museum Sumpah Pemuda (www.museumsumpahpemuda.com). Berikut petikannya:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat. Sehingga menghasilkan Sumpah Pemuda.&amp;nbsp;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Rapat Pertama, Gedung Katholieke Jongenlingen Bond&lt;br /&gt;Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Dalam sambutannya, Soegondo berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Jamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.&amp;nbsp;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Rapat Kedua, Gedung Oost-Java Bioscoop&lt;br /&gt;Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, sependapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.&lt;br /&gt;Rapat Ketiga, Gedung Indonesisch Huis Kramat&amp;nbsp;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pada sesi berikutnya, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.&amp;nbsp;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu “Indonesia” karya Wage Rudolf Supratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia, berbunyi:&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;PERTAMA.&lt;br /&gt;KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA,&lt;br /&gt;MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE,&lt;br /&gt;TANAH INDONESIA.&amp;nbsp;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;KEDOEA&lt;br /&gt;KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA,&lt;br /&gt;MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE,&lt;br /&gt;BANGSA INDONESIA.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;KETIGA.&lt;br /&gt;KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN,&lt;br /&gt;BAHASA INDONESIA&lt;/blockquote&gt;81 tahun kemudian, tepatnya tahun 2009 lalu, Indonesia memiliki undang-undang tentang kebahasaan, yaitu UU No. 24 Tahun 2009.&amp;nbsp;Walaupun agak terlambat, terbitnya undang-undang tersebut merupakan kemajuan besar atas pengakuan keberadaan dan penggunaan bahasa Indonesia di tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UU tersebut tidak sekadar berisi materi kebahasaan, melainkan juga materi tentang bendera, lambang negara, dan lagu kebangsaan. Di satu sisi, beberapa pihak menyayangkan "UU Bahasa" tersebut "tercampur" dengan materi lain. Di sisi lain, itu adalah pengakuan negara bahwa kedudukan bahasa Indonesia sejajar dengan bendera, lambang negara, dan &amp;nbsp;lagu kebangsaan. Ini tentu saja merupakan kedudukan strategis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat tulisan ini dibuat, Sumpah Pemuda telah berusia hampir 83 tahun dan "UU Bahasa" sudah berusia dua tahun. Sungguh sayang, dalam tempo tersebut penggunaan bahasa Indonesia ternyata tetap tidak sesuai dengan harapan. Para pejabat negara yang berpidato di ruang publik dan mewakili jabatannya pun banyak yang tidak menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Bahkan, ada yang dengan sengaja menggunakan bahasa asing. Di tempat-tempat umum, pun kita temukan petunjuk arah, menu makanan, daftar produk, yang masih saja menggunakan bahasa asing. Padahal, publik yang mengakses informasi tersebut hampir seratus persen penutur bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa terjadi? Boleh jadi karena "UU Bahasa" yang diresmikan pada 9 Juli 2009 tidak memiliki "taring". Seperti yang ditulis André Möller (Kompas.com), sanksi pidana atau denda hanya berlaku untuk pelanggaran terhadap bendera, lambang negara, dan lagu kebangsaan, untuk bahasa tidak ada sanksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, butuh kesadaran masyarakat untuk menegakkan "UU Bahasa" dan Sumpah Pemuda ini. Kesadaran masyarakat tentu saja membutuhkan adanya kebanggaan terhadap bahasa Indonesia. Kebanggaan ini pastilah berawal dan berakhir pada kata nasionalisme anak bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita patut bersyukur karena mamiliki bahasa Indonesia. Jika kita tidak memiliki bahasa Indonesia, apalagi seperti negara Australia, Filipina, dan beberapa negara lain yang bahasa nasionalnya adalah bahasa Inggris (bahasa asing), tentu kita tidak bisa berbangga dengan bahasa nasional kita. Dengan begitu, tidak mungkin pula kita "berempati" kepada negara dengan cara menunjukkan nasionalisme kita melalui bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;REFERENSI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Anonim. 2011. "Kongres Pemuda 1928" http://id.wikipedia.org, diunduh pada 5 September 2011 pukul 06.00 WIB.&lt;br /&gt;Anonim. 2009. "Sejarah Sumpah Pemuda", http://www.museumsumpahpemuda.com, diunduh pada 5 September 2011 pukul 09.30 WIB.&lt;br /&gt;Möller,&amp;nbsp;André. 2009. "Undang-Undang Bahasa", http://oase.kompas.com, diunduh pada 5 September 2011 pukul 10.00 WIB.&lt;br /&gt;UU No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-5432476254386459178?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/5432476254386459178/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/dari-sumpah-pemuda-uu-bahasa-hingga.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/5432476254386459178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/5432476254386459178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/dari-sumpah-pemuda-uu-bahasa-hingga.html' title='Dari Sumpah Pemuda, UU Bahasa, hingga Nasionalisme'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-3674943754786813692</id><published>2011-09-04T13:58:00.002+07:00</published><updated>2011-09-12T20:52:57.521+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Penjiplakan: Perampokan dan Pemandulan Kreativitas</title><content type='html'>&lt;b&gt;Sabjan Badio&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu (31/05), sebuah stasiun televisi mengupas plagiasi. Beberapa lagu tanah air dinyatakan meniru musik luar negeri. Dalam sastra pun, istilah plagiat sempat populer berkaitan tuduhan plagiator atas Chairil Anwar dan Hamka (Kompas, 08/06/08). Chairil dituduh plagiator karena puisi-puisinya mirip dengan karya Willem Elsschot, Archibald MacLeish, E Du Perron, John Cornford, Hsu Chih-Mo, Conrad Aiken, dan WH Auden. Kemudian, HB Jassin menegaskan bahwa beberapa puisi Chairil Anwar memang saduran bahkan terjemahan. Hamka sendiri dituduh plagiator karena plot novel &lt;i&gt;Tenggelamnya Kapal Van der Wijck&lt;/i&gt; (1939) mirip dengan novel &lt;i&gt;Magdalaine &lt;/i&gt;karya Mustafa Al-Manfaluthi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus lebih baru, saya mendapati sebuah surat pembaca di majalah nasional yang isinya protes terhadap pemenang sebuah lomba menulis puisi karena karya yang menang pernah hadir di sebuah buku pelajaran dengan pengarang berbeda. Tidak hanya itu, pada ranah ilmiah pun kasus plagiasi masih terjadi. Saya pernah menyaksikan skripsi yang persis dengan skripsi milik mahasiswa lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plagiasi erat hubungannya dengan HaKI (&lt;i&gt;intellectual property right&lt;/i&gt;) yang di dalamnya tercakup hak cipta. Menurut UU No. 19 Tahun 2002 hak cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pasal 1 Ayat 1). Berdasarkan definisi tersebut, plagiasi tidak sekadar masalah moral lagi. Karena itu, tindakan penjiplakan dapat dituntut secara hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengutipan, Penyaduran, dan Penerjemahan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain melindungi, undang-undang juga memberikan hak untuk mengakses sebuah karya. “Hak akses” tersebut di antaranya untuk pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan dengan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari pencipta (UU No. 19 Tahun 2002 Pasal 15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kepentingan penulisan ini, paling tidak ada tiga jenis kegiatan yang berhubungan dengan karya lain, yaitu pengutipan, penyaduran, dan penerjemahan. Pengutipan adalah meniru bagian tulisan seseorang untuk disertakan dalam tulisan sendiri. Penyaduran adalah proses menyusun kembali cerita secara bebas tanpa merusak garis besar cerita. Sementara penerjemahan adalah pengalihbahasaan sebuah karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik karya yang di dalamnya terdapat unsur kutipan, karya saduran, maupun terjemahan, diakui hak ciptanya oleh UU dengan tanpa mengurangi hak cipta atas ciptaan asli. Dengan catatan, tetap mencantumkan sumber aslinya (khusus terjemahan harus melalui kesepakatan antara penulis aslinya dengan penerjemah atau penerjemah dengan penerbitnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan teknologi internet sebagai sarana komunikasi tanpa batas, menjadikan kegiatan kutip-mengutip, sadur-menyadur, hingga terjemah-menerjemah menjadi lebih muda. Dengan kehadiran internet, kita bahkan tidak perlu mengetik naskah aslinya lagi, tinggal kopi. Kemudahan inilah yang banyak dimanfaatkan oleh para plagiator untuk mengutip tulisan orang lain tanpa mencantumkan sumbernya dan mengakuinya sebaga karya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Undang-Undang N0. 19 Tahun 2002 diharapkan memberikan peringatan tegas bagi mereka yang berniat “merampok” dan sekaligus membawa angin segar pada pemegang hak cipta karena keterjagaan naskahnya dari plagiasi. Kalau dulu masalah moral bisa di-“negosiasi” dan dimaafkan, masalah hukum lebih tegas lagi. Akan ada tindakan yuridis bagi para pelanggar hak cipta. Sebab, bagaimana pun juga penjiplakan sama saja dengan aksi perampokan dan pencurian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran UU No. 19 Tahun 2002 ini tak pelak membuat para penulis tak leluasa lagi “memanfaatkan” karya orang lain secara sembarangan. Walaupun begitu, bukan berarti ini mengekang kreativitas seseorang, justru sebaliknya. Dengan adanya pengakuan dan perlindungan tegas terhadap sebuah karya, maka manusia Indonesia dituntut lebih kreatif menemukan, membuat, atau mengembangkan karya-karya baru.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Tulisan ini menjadi Juara Harapan II dalam Lomba Menulis tentang Budaya Penghargaan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Kunci Ekonomi Kreatif yang diselenggarakan oleh Teknopreneur Indonesia dan Ditjen Haki 2009.&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-3674943754786813692?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/3674943754786813692/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/penjiplakan-perampokan-dan-pemandulan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/3674943754786813692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/3674943754786813692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/penjiplakan-perampokan-dan-pemandulan.html' title='Penjiplakan: Perampokan dan Pemandulan Kreativitas'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-8525807674460014931</id><published>2011-09-03T07:51:00.005+07:00</published><updated>2011-09-03T16:06:16.866+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Rosihan Anwar, Penemu kata 'Gengsi'</title><content type='html'>&lt;b&gt;INILAH.COM&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/3/30/Rosihan_Anwar.jpg/220px-Rosihan_Anwar.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/3/30/Rosihan_Anwar.jpg/220px-Rosihan_Anwar.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Rosihan menerapkan kata "gengsi” untuk menggantikan kata &lt;i&gt;prestige &lt;/i&gt;dalam bahasa Inggris. Ia menggunakan kata itu pada 1949 ketika terjadi Agresi Militer Belanda I. Ia menulis di majalah &lt;i&gt;Siasat&lt;/i&gt; mengenai keengganan Belanda melakukan perundingan dengan Indonesia cenderung lebih disebabkan &lt;i&gt;prestige&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menggantikan kata "prestige” itu dengan "gengsi”. Kata Gengsi itu sendiri ia adopsi dari perbendaharaan bahasa remaja di Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Rosihan juga dikenal sebagi pengusung dan pendukung kosa kata baru yang lebih menunjukkan Indonesia. Misalnya, ia menggunakan kata "Anda” untuk kata ganti orang ke dua. Rosihan adalah orang yang pertama kali menggunakan kata "Anda” dalam penulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menulis kata itu di harian Pedoman pada 28 Februari 1957. Kata "Anda” itu sendiri muncul pertama kali dalam kamus Bahasa Indonesia Modern karangan Sutan Mohamad Zain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keteguhannya untuk menggunakan kata berbahasa Indonesia dan upayanya menemukan kosa kata baru ini sangat diapresiasi oleh banyak kalangan. Bahkan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo memiliki kesan tersendiri dengan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat melayat almarhum di rumah duka di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (14/3/2011), Fauzi Bowo menyatakan sangat terkesan dengan upaya itu. "Beliau banyak sekali pemikirannya soal bahasa. Beliau banyak menemukan kosa kata baru yang sekarang menjadi bagian bahasa Indonesia baku, misalnya &lt;i&gt;Anda&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;dalam rangka&lt;/i&gt;," ujar Fauzi mengenang. [tjs]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-8525807674460014931?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/8525807674460014931/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/rosihan-anwar-penemu-kata-gengsi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/8525807674460014931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/8525807674460014931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/rosihan-anwar-penemu-kata-gengsi.html' title='Rosihan Anwar, Penemu kata &apos;Gengsi&apos;'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-5663771751909542252</id><published>2011-09-03T07:42:00.004+07:00</published><updated>2011-09-12T20:53:21.957+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesastraan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Orange Prize for Fiction</title><content type='html'>Orange Prize for Fiction adalah anugerah tahunan yang diberikan kepada penulis perempuan yang menulis novel dalam  Bahasa Inggris. Perempuan penerimanya bisa berasal dari bangsa atau negara mana pun. Pemenangnya berhak menerima cek senilai 30.000 Poundsterling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap tentang Orange Prize for Fiction silakan kunjungi &lt;a href="http://www.orangeprize.co.uk/" target="_blank"&gt;www.orangeprize.co.uk&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-5663771751909542252?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/5663771751909542252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/orange-prize-for-fiction.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/5663771751909542252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/5663771751909542252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/orange-prize-for-fiction.html' title='Orange Prize for Fiction'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-496155147267480893</id><published>2011-09-02T07:42:00.002+07:00</published><updated>2011-09-12T20:53:41.572+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebahasaan'/><title type='text'>Merangsang Aktivitas Baca-Tulis Siswa melalui Mading Sekolah</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #555555; font-family: Verdana, 'BitStream vera Sans', Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sabjan Badio &amp;amp; Siska Yuniati&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Majalah dinding atau mading merupakan media komunikasi yang telah dikenal lama oleh masyarakat. Mading tidak hanya dibuat oleh siswa di sekolah, namun juga diciptakan dan dikonsumsi oleh masyarakat umum.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Saat mendengar kata mading, sesuai kepanjangannya, majalah dinding, tentu saja yang terbayang dalam benak kita adalah majalah yang terpasang di dinding. Anggapan itu tidak keliru karena prinsip dasar yang ada pada mading layaknya pada majalah. Penyajiannya menggunakan media papan (tripleks, karton, gabus, atau bahan lain) yang dipampang pada dinding. Rubrik-rubrik mading sama dengan rubrik-rubrik majalah. Tata letak mading juga tidak jauh berbeda dengan majalah pada umumnya, hanya saja dalam mading lebih sederhana, semua rubrik ditempatkan pada satu halaman atau muka saja.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Materi mading itu sendiri, menyesuaikan tempat mading itu berada. Mading yang ditempatkan di sekolah tingkat SMP/MTs dan SMU/MA berisi tulisan-tulisan yang disesuaikan dengan karakter sekolah-sekolah tersebut. Selain tulisan, mading juga dilengkapi gambar, misal karikatur atau gambar lain. Hanya saja, untuk tingkat tersebut tulisan tetap lebih dominan. Sementara itu, pada jenjang pendidikan yang lebih rendah, seperti SD dan TK, gambar lebih dominan daripada tulisan.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Ragam Tulisan Mading&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Rubrik mading sekolah dapat beragam sesuai kreativitas pengelola dan kebutuhan pembaca atau warga sebuah sekolah. Rubrik yang dihadirkan untuk sekolah menengah (SMP-SMA dan MTs-MA) didominasi oleh tulisan jurnalisme, opini, dan sastra. Sisahnya adalah jatah rubrik yang berhubungan dengan kreativitas seni, misalnya fotografi dan album foto, komik pendek, karikatur, lukisan, ilustrasi, dan sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Nursisto (2003: 29-38) mengungkapkan, tulisan yang lazim muncul dalam mading adalah&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;spot news&lt;/em&gt;,&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;feature&lt;/em&gt;, dan&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;reportase&lt;/em&gt;. Reportase sebenarnya hanyalah proses dalam pengumpulan data. Jadi, pengelompokan tulisan yang mungkin dilakukan di mading adalah&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;news&lt;/em&gt;,&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;feature&lt;/em&gt;, opini, dan sastra.&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;News&lt;/em&gt;&amp;nbsp;adalah tulisan yang disajikan secara langsung dan apa adanya yang biasanya menjadi andalan surat kabar harian.&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;News&lt;/em&gt;&amp;nbsp;dibangun dengan sistem 5W + 1H (&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;what, who, where, when, why&lt;/em&gt;, dan&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;how&lt;/em&gt;).&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;What&lt;/em&gt;&amp;nbsp;mengupas apa yang terjadi,&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;who&lt;/em&gt;&amp;nbsp;berkenaan dengan pelaku peristiwa,&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;where&lt;/em&gt;&amp;nbsp;memuat tempat terjadi peristiwa yang diberitakan,&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;when&lt;/em&gt;&amp;nbsp;bersinggungan dengan waktu terjadi peristiwa,&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;why&lt;/em&gt;&amp;nbsp;menjawab masalah sebab terjadi peristiwa, dan&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;how&lt;/em&gt;&amp;nbsp;menghadirkan informasi tentang bagaimana kejadiannya. Pada majalah dinding,&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;news&lt;/em&gt;&amp;nbsp;biasanya hanya berupa tulisan pendek, bahkan kadangkala hanya ditampilkan dalam bentuk berita foto yang disertai&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;caption&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(tulisan di bawah foto atau gambar yang berfungi sebagai keterangan).&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Tulisan&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;feature&lt;/em&gt;&amp;nbsp;bisa dikatakan lebih ringan daripada berita (dan artikel opini). Namun, bukan berarti&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;feature&lt;/em&gt;&amp;nbsp;bisa dianggap enteng. Ciri khas&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;feature&lt;/em&gt;&amp;nbsp;adalah bagaimana penulis berkreativitas (dalam menulis), menyajikan tulisan yang informatif (isinya), dan menghibur (cara penyajian, bahasa, dan penuturannya). Tulisan jenis ini terbagi menjadi&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;news feature&lt;/em&gt;,&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;science feature&lt;/em&gt;, dan&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;human interest feature&lt;/em&gt;.&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;News feature&lt;/em&gt;&amp;nbsp;muncul bersamaan dengan terjadinya peristiwa (tepatnya beberapa saat setelah peristiwa terjadi). Berita disajikan dengan disertai proses terjadinya.&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Science feature&lt;/em&gt;&amp;nbsp;ditandai dengan kedalaman pembahasan dan objektivitas pandangan yang dikemukakan. Sementara itu,&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;human interest feature&lt;/em&gt;adalah&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;feature&lt;/em&gt;&amp;nbsp;yang lebih banyak menuturkan situasi yang menimpa seesorang dengan cara penyajian yang menyentuh hati dan menyentil perasaan (Suroso, 2001: 94).&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Baik&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;news&lt;/em&gt;&amp;nbsp;maupun&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;feature&lt;/em&gt;, harus ditulis berdasarkan proses reportase. Proses reportase dilakukan melalui observasi, interview (wawancara), hingga riset (penelitian atau pengamatan intensif dan cermat baik secara langsung maupun dengan studi pustaka).&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Jenis tulisan yang juga menjadi favorit mading dan surat kabar pada umumnya adalah artikel opini. Menurut Suroso (2001), artikel opini merupakan tulisan yang berisi gagasan, ulasan, atau kritik terhadap suatu persoalan yang ada dan berkembang di tengah-tengah masyarakat yang ditulis dengan bahasa ilmiah populer. Atikel opini ini terbagi menjadi pengetahuan populer, penuntun praktis (&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;guidance&lt;/em&gt;), politik, olahraga, dan kebudayaan. Data untuk penulisan artikel ini dapat diperoleh melalui wawancara, penelitian atau penyelidikan langsung, dan bahan cetakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Terdapat perbedaan mendasar antara tulisan&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;feature&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(dan&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;news&lt;/em&gt;) dengan artikel opini. Suroso (2001: 96-97) mengungkap bahwa artikel opini membuat orang berpikir dan isinya menyangkut analisis, pendapat, saran, yang penuh muatan sebab-musabab. Tulisan opini didorong oleh alasan-alasan ilmiah yang mengandung resiko polemik, baik yang bersifat mendukung maupun membantah. Hal ini berbeda dengan&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;feature&lt;/em&gt;,&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;feature&lt;/em&gt;lebih bersifat rileks, berpengaruh pada perasaan pembaca, membuat pembaca menjadi senang, terharu, bersemangat, bahkan menangis. Walaupun begitu, setiap media mempunyai gaya sendiri dalam menyampaikan tulisan-tulisannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Kemudian, jenis keempat yang kerap menghiasi wajah mading adalah jenis tulisan sastra, yaitu cerbung, cerpen, dan puisi. Namun, lazimnya, yang terpublikasi hanyalah cerpen dan puisi, sementara cerbung jarang ditampilkan berkenaan sulitnya mendapatkan tulisan yang bermutu dan layak untuk diterbitkan di mading.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Untuk menghadirkan semua jenis tulisan tersebut pengelola (redaktur tiap-tiap rubrik) harus memberitahukannya secara luas pada semua warga sekolah, misalnya melalui pemberitaan pada edisi sebelumnya, pada majalah-majalah biasanya tertulis:&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Tema Edisi Depan (Berikutnya)&lt;/em&gt;. Melalui pemberitaan tersebut, para siswa, karyawan, dan guru memiliki informasi yang jelas dan waktu cukup untuk menulis sesuai minatnya. Dalam pengumpulan tulisan tersebut, pengelola harus membatasi waktu penyerahan tulisan dengan menyisahkan waktu untuk proses penenerbitan, mulai penyeleksian,&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;editing&lt;/em&gt;&amp;nbsp;atau penyuntingan, hingga&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;layout&lt;/em&gt;atau perwajahan. Untuk itu, para redaktur harus memilih naskah terbaik secara objektif.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Manfaat Mading&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Banyak manfaat yang diperoleh dari mading. Mading dapat dijadikan media komunikasi. Tulisan pada mading merupakan bentuk komunikasi antarpihak tertentu. Tulisan tersebut menghadirkan informasi atau peristiwa yang terjadi dalam lingkup tertentu pula. Sebagai contoh, mading di sekolah, tentu akan menuliskan berita berkenaan dengan kegiatan atau info sekolah, hal yang tidak akan didapatkan dari koran atau majalah pada umumnya. Pembaca mading yang merasa berkepentingan dengan berita tersebut barangkali tidak hanya sekadar membaca, namun juga merespons atau menanggapinya. Di sinilah akan terjadi komunikasi antara redaksi mading dengan pembaca, antara pembaca dengan pembaca lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Mading juga dapat dijadikan wadah untuk menampung kreativitas. Mading tidak hanya menampilkan tulisan dalam rubriknya, namun juga kreasi seni visual dan kerajinan. Kreativitas seni tidak hanya mengusung keindahan, akan tetapi juga mempertimbangkan segi ekonomis dan pemanfaatan benda-benda di sekitar. Demikian pula dengan tulisan dalam setiap rubriknya. Redaktur harus jeli memilih berita yang ada di lingkungannya kemudian mengolahnya menjadi berita yang menarik.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Dari mading, redaktur dan pembaca akan banyak belajar. Redaktur mading dalam mempersiapkan lahirnya mading dalam setiap edisinya tentu membutuhkan pengetahuan atau informasi yang tidak sedikit. Tentunya secara tidak langsung siswa ditugasi menulis salah satu tulisan akan banyak membaca. Bagaimana pun juga keterampilan menulis harus dibekali dengan pengetahuan yang luas. Sementara pembaca mading selain mendapatkan informasi dari mading, ia akan termotivasi untuk menggali pengetahuan lebih lanjut. Tulisan dalam mading sifatnya ringkas karena terbatas luasnya media. Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut pembaca dapat mencarinya melalui media lain (surat kabar, internet, dsb).&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Siswa atau orang-orang yang tergabung dalam redaksi mading akan belajar berorganisasi. Mereka belajar mengurus suatu penerbitan. Dalam menghadirkan sebuah mading perlu proses panjang, mulai dari pengumpulan bahan, penyuntingan hingga penyelesaian. Setiap redaktur mau tidak mau belajar bertanggung jawab menyelesaikan tugas yang diembannya. Tujuannya tidak lain agar mading selesai tepat waktu. Keterlambatan terbitnya mading akan berpengaruh terhadap isi berita yang ditulis. Berita sudah tidak aktual atau basi sehingga kehadiran mading berkurang fungsinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Mading dan Aktivitas Baca-Tulis&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Dalam belajar bahasa Indonesia ada empat keterampilan yang harus dikuasai siswa. Keempat keterampilan tersebut adalah menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Kalau dipasangkan, maka menyimak atau mendengarkan akan berpasangan dengan berbicara, sedangkan membaca berpasangan dengan menulis. Pasangan keterampilan berbahasa tersebut saling mempengaruhi. Aktivitas berbicara dibarengi aktivitas menyimak. Keberhasilan menyimak akan berpengaruh terhadap keterampilan berbicara. Demikian pula dengan keterampilan menulis, keterampilan ini sangat erat hubungannya dengan keterampilan membaca. Menulis merupakan bentuk penuangan ide dari hasil membaca. Semakin banyak membaca, semakin banyak pula informasi yang dapat disampaikan melalui tulisan.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Kurikulum KTSP mata pelajaran bahasa Indonesia SMP/MTs untuk keterampilan membaca dan menulis menuntut siswa untuk dapat&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;menyimpulkan isi bacaan setelah membaca cepat 200 kata per menit, menemukan gagasan utama dalam teks yang dibaca, membedakan antara fakta dan opini, menganalisis nilai-nilai kehidupan dalam cerpen, menulis kreatif puisi, mengubah teks wawancara menjadi narasi, menulis laporan dengan bahasa yang baik dan benar, menyunting karangan, menulis cerpen,&amp;nbsp;&lt;/em&gt;serta&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;menulis surat pembaca&lt;/em&gt;. Kompetensi dasar yang disyaratkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di atas tidak akan berhasil kalau hanya disampaikan selama 2 x 40 menit di dalam kelas. Materi-materi tersebut sebaiknya dipraktikkan dan terus dilatih agar menjadi keterampilan yang bermanfaat untuk kehidupan anak didik.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Keberadaan mading sangat dekat dengan aktivitas baca-tulis. Sebelum diterbitkan, redaktur akan mengumpulkan naskah atau tulisan. Tulisan dapat berasal dari redakur sendiri maupun kontribusi pembaca. Dalam proses penyaringan naskah tersebut diharapkan ada kompetisi untuk menjadi yang terbaik hingga dipilih oleh redaktur rubrik untuk dimuat. Dalam proses kompetisi tersebut ada proses pembacaan dan pembelajaran menulis.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Para kontributor sebelum mengirimkan naskah setidaknya telah melalui tahapan-tahapan menulis. Tahapan-tahapan tersebut mengumpulkan bahan, menulis artikel, melakukan perbaikan (&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;revising&lt;/em&gt;), menyunting (&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;editing&lt;/em&gt;), pembacaan percobaan (&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;proof reading&lt;/em&gt;), serta memublikasikan (mengirimkan tulisan). Dalam menyunting tulisan, hal yang harus diperhatikan adalah tanda baca, huruf kapital, ejaan, tata bahasa, dan keefektifan kalimat. Pada tahap pembacaan percobaan (&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;proof reading&lt;/em&gt;) yang harus dilakukan adalah melakukan pembacaan percobaan, ini sebaiknya dilakukan oleh pihak lain yang tidak ikut menulis naskah tersebut. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah cara penyajian dapat diterima dan enak dibaca oleh pembaca, serta apakah materi-materi yang disampaikan dapat dipahami dengan baik (&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Yuniati&lt;/em&gt;, 2008: 39). Dalam pengiriman naskah, kontributor harus jeli mengamati materi rubrik yang akan dibidiknya. Para kontributor dapat belajar dari edisi-edisi sebelumnya. Hal ini dilakukan agar tulisan yang dibuat sesuai dengan kebutuhan mading sehingga berpeluang untuk dimuat.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Kehadiran mading juga diharapkan mampu memotivasi siswa untuk membaca dan menulis. Asumsinya, siswa akan aktif membaca tulisan yang ada di mading karena yang menulis adalah temannya sendiri atau orang yang dikenal. Hal ini juga akan memberi dorongan siswa untuk menulis seperti yang telah dilakukan temannya. Selain itu, siswa lebih berani untuk mengirimkan tulisannya karena seleksi naskah tidak seketat surat kabar atau majalah yang dikonsumsi masyarakat luas.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Latihan menulis, mau tidak mau akan menguras energi yang tidak sedikit. Wajar saja karena disinyalir bahwa penentu keberhasilan dalam menulis adalah kerja keras. Bahkan, porsinya mencapai 90%. Kerja keras di sini dimaksudkan sebagai aktivitas latihan, ketekunan, dan keinginan untuk meningkatkan kualitas diri dengan selalu belajar. Belajar dapat dilakukan melalui pendidikan formal dan non-formal seperti rutinitas membaca dan menulis.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Akhirnya, bagaimana pun juga aktivitas permadingan dan baca-tulis tidak terlepas dari peran aktif guru. Peran aktif para pendidik tersebut sangat diharapkan berupa motivasi dan teladan dalam membaca dan menulis. Jika para guru tidak mampu memberikan motivasi dan keteladan, berbagai upaya yang dilakukan tidak akan banyak berhasil. Hal yang paling krusial tentu adalah keteladanan, bagaimana para guru meneladankan rutinitas membaca dan kebiasaan menulis pada para siswa akan menentukan perkembangan baca-tulis siswa kemudian hari.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Aktivitas permadingan ini tentu perlu rangsangan lebih dengan mengadakan kegiatan-kegiatan perlombaan, baik tingkat sekolah maupun tingkatan yang lebih luas. Pada peristiwa seperti ini, para siswa dapat mengukur (untuk kemudian meningkatkan) kemampuannya dalam menulis dan mengelola mading. Pada lingkup internal mading sendiri, mungkin dapat dilakukan pemilihan artikel terbaik sepanjang tahun, foto terbaik, dan sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;li style="list-style-position: inside; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 20px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Nursisto. 1999.&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Membina Majalah Dinding&lt;/em&gt;. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.&lt;/li&gt;&lt;li style="list-style-position: inside; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 20px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Suroso. 2001.&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Menuju Pers Demokrasi&lt;/em&gt;. Yogyakarta: Lembaga Studi dan Inovasi Pendidikan.&lt;/li&gt;&lt;li style="list-style-position: inside; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 20px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Yuniati, Siska. 2008.&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Menulis Resensi Buku&lt;/em&gt;. Yogyakarta: MTs Negeri Giriloyo.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-496155147267480893?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/496155147267480893/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/merangsang-aktivitas-baca-tulis-siswa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/496155147267480893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/496155147267480893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/merangsang-aktivitas-baca-tulis-siswa.html' title='Merangsang Aktivitas Baca-Tulis Siswa melalui Mading Sekolah'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-4001958578650271456</id><published>2011-09-01T12:21:00.005+07:00</published><updated>2011-09-12T21:35:02.319+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesastraan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Nasib Sastra Berbahasa Indonesia</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ribut Wijoto (Reporter)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Beritajatim.com Edisi 1 September 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SASTRA berbahasa Indonesia, hingga tahun 2011 ini, usinya sudah lebih dari seratus tahun. Walau bahasa Indonesia ditahbiskan 28 Oktober 1928, masyarakat telah mempergunakannya jauh sebelum tahun itu. Begitu pula dengan sastra Indonesia, pengarang-pengarang Melayu telah mempergunakannya lebih dari seabad sebelumnya. Semisal oleh Hamzah Fansuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis mencoba merunut ulang potensi dan kendala bahasa Indonesia ketika dipergunakan untuk menulis sastra. Selebihnya, penulis juga meneropong kemungkinan problem sastra berbahasa Indonesia di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika boleh jujur, penggunaan bahasa Indonesia untuk menulis sastra bukannya tanpa persoalan. Sastrawan Indonesia kerapkali dihadapkan pada kendala kultural yang sangat rumit. Lihat saja pengakuan A.A. Navis perihal problem kebahasaan sastrawan Indonesia. Tahun 1972, di Taman Ismail Marzuki yang melegenda, Navis memberikan ceramah bertajuk “Proses Penciptaan”: &lt;i&gt;“Mungkin karena saya tidak banyak bergaul dengan orang-orang yang memakai bahasa Indonesia. Sehingga ketika saya menulis, saya berpikir dalam struktur bahasa Minangkabau, lalu menuliskannya ke dalam bahasa Indonesia”&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dirunut dari sejarahnya, bahasa Indonesia berasal dari &lt;i&gt;lingua franca&lt;/i&gt;, bahasa Melayu Pasar. Sejak statusnya dinaikkan menjadi bahasa resmi, bahasa Indonesia memiliki ratusan juta pengguna. Kini, hampir seluruh penduduk kelas menengah Indonesia, termasuk sastrawan, menguasai bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya, keintiman berbahasa Indonesia bagi seluruh masyarakat sangat dipertanyakan. Bahasa Indonesia lebih sebagai bahasa resmi daripada bahasa keseharian. Pada perkembangannya, bahasa Indonesia bergerak jauh untuk semakin meninggalkan bahasa-bahasa daerah, bahkan bahasa Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasinya sangat bertolakbelakang dengan masa penjajahan Belanda dan Jepang. Ketika itu, bahasa Indonesia yang resmi masih mengacu kepada data empiris dari bahasa suatu masyarakat penutur; bahasa Melayu yang dipergunakan di Sumatra, terutama Sumatra Barat dan Riau. Sifat-sifat keseharian amat menonjol. Dapat dinyatakan, ketika itu, bahasa Indonesia merupakan “bahasa yang bersifat kultural”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragis, A.A. Navis yang berasal dari Minangkabau (Sumatra Barat) pun, dia kini merasa tidak akrab dengan bahasa Indonesia. Keterputusan terjadi dalam perkembangan bahasa Indonesia. Wujud kemegahan bahasa Indonesia menjadi rapuh dari dalam. Perkembangan bahasa Indonesia selayak nasib  “gadis” dalam ilustrasi puisi Chairil Anwar “gadis manis iseng sendiri”. Bahasa Indonesia yang dimaksudkan sebagai bahasa Nasional, sebagai identitas bangsa, terjebak dalam dimensi kesepian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, bahasa Indonesia mengalami keterputusan dengan masa silamnya sendiri. Karakter dasar bahasa Melayu sedikit demi sedikit terkikis, melemah, dan nyaris pudar. Keterputusan yang dapat ilustrasikan dari pergeseran arti pepatah Melayu “bahasa menunjukkan bangsa”. Ariel Heryanto dalam tulisan “Berjangkitnya Bahasa-bahasa di Indonesia” (&lt;i&gt;Prisma&lt;/i&gt;, I tahun XVIII) menyatakan, terjadi perbedaan arti “bangsa” dalam pepatah tersebut. Kata “Bangsa” berarti pemahaman keturunan, dan latar belakang sosialisasi “keluarga” yang memberikan keturunan seseorang. Sekarang, kata “bangsa” dalam pepatah tersebut diartikan sebagai bangsa dalam pengertian politik.  Misalnya bangsa Inggris, Sinegal, Argentina, atau Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ariel, sebenarnya terdapat&lt;i&gt; unggah ungguh&lt;/i&gt; atau tingkatan bahasa dalam bahasa Melayu, sama seperti dalam bahasa Jawa yang mengenal adanya kelas “krama inggil” (ragam tinggi), “krama madya” (ragam menengah), dan “ngoko” (ragam rendah). Rustam Effendi ketika menuliskan bait-bait puisi, &lt;i&gt;bukan beta bijak perperi, pandai menggubah madahan syair, bukan beta budak negeri, mesti penuhi undangan mair&lt;/i&gt;, saat itu, dia sedang menggunakan ragam bahasa Melayu tinggi. Ragam bahasa yang hanya layak dimiliki oleh keluarga kerajaan dan masyarakat kelas menengah-atas. Di situ, bahasa menandai kelas sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi berbeda terjadi pada bahasa Indonesia. Oleh semangatnya yang nasionalis dan kebersamaan, bahasa Indonesia diarahkan pada sifat universalitas. Bahasa tidak mencerminkan kelas sosial, kalaulah ada, itu hanya pada beberapa kata sapaan. Sebuah bahasa ideal. Bahasa yang dipersiapkan untuk “persamaan nasib sosial” bagi masyarakat penggunanya. Bahasa Indonesia memang bahasa ideal. Sebuah bahasa yang perkembangannya teratur dan terkontrol. Sebuah bahasa ciptaan; diciptakan oleh lembaga Pusat Bahasa. Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat sekadar diposisikan sebagai pengguna. Hak-hak penentuan dan pergeserannya karakter dibatasi undang-undang. Pemerintah pun perlu repot-repot menandaskan “bahasa yang baik dan benar” atau “Ejaan yang disempurnakan” (EYD). Pernah juga, kebijakan pemerintah dikeluhkan oleh masyarakat. Dua tahun pertama pemberlakuan EYD (1972), media massa disesaki oleh kritik dan ketidaksenangan masyarakat. Alasan yang diajukan seputar ketidakbiasaan, penyayangan karena Bahasa Indonesia kehilangan karakter ejaan, dan yang paling pokok alasan dana. Penggantian ejaan berarti penggantian seluruh buku atau tulisan cetak yang tertulis dalam ejaan lama. Masyarakat keberatan dengan besarnya biaya yang mesti ditanggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun seperti dugaan semua orang, sosialisasi (namanya “sosialisasi” dan bukannya “pemaksaan”) pemberlakuan EYD berjalan dengan langkah tegap tak tertahan. Masyarakat tinggal memakai, pemerintahlah yang memproduksi, mengoperasikan, dan menafsirkan bahasa Indonesia. Tidak hanya EYD, pemerintah juga mengurusi tata cara serapan. Kata-kata bahasa asing atau bahasa daerah yang layak menghuni bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang paling riskan, bahasa Indonesia diimunkan dari tema-tema khusus. Tema-tema yang dianggap mempersoalkan kesukuan, agama, ras, golongan. Aturan bahasa yang “kaku dalam operasional” namun “remang-remang dalam batasan”. H.B. Jassin pernah dikenai 1 tahun penjara karena membela cerpen yang dianggap meresahkan umat (kasus cerpen “Langit Makin Mendung” karangan Ki Panjikusmin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi saat ini, gramatikal yang dilesakkan dalam Bahasa Indonesia, &lt;i&gt;seluruhnya dilakukan oleh pemerintah&lt;/i&gt;, berpengaruh besar bagi kepemilikan dan keintiman bahasa. Masyarakat menjadi asing terhadap bahasa. Bagi masyarakat, bahasa Indonesia seperti berputar-putar dalam kepala sendiri. Bergerak semakin jauh dari kehidupan masyarakat, semakin jauh dari kondisi bahasa kultural. Bahasa Indonesia menjadi rapuh dari dalam. Bahasa Indonesia yang asyik iseng sendiri. Sastra Indonesia yang iseng sendiri(?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit memastikan keterkaitan langsung antara sastra dan bahasa. Satu yang tidak bisa dipungkiri, sastra memanfaatkan bahasa sebagai materi pokok. Patut pula ditengok pikiran F.W. Bateson dalam buku English Poetry and the English Language (Oxford, 1934, hal. vi): &lt;i&gt;“Tesis saya menyatakan bahwa pengaruh zaman pada sebuah puisi tidak dilihat dari penyairnya, tapi dari bahasa yang dipakainya. Sejarah puisi yang sebenarnya, menurut saya, adalah sejarah perubahan jenis bahasa yang dipakai dalam beberapa puisi yang ditulis secara berurutan. Dan hanya perubahan-perubahan inilah yang merupakan akibat dari tekanan sosial dan kecenderungan intelektual”.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F.W. Bateson percaya, bahasa berpengaruh besar terhadap karya sastra. Misalnya pengaruh bahasa pada puisi; dasar irama tiap bahasa berbeda-beda. Irama dalam Bahasa Inggris sangat ditentukan oleh tekanan kata, kuantitas menyusul sebagai faktor penentu kedua, dan pembatasan jumlah kata juga memainkan peranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan irama antara kalimat yang terdiri dari satu suku kata, dan kalimat yang terdiri dari lebih satu suku kata, sangat menonjol. Di Cekoslowakia, batas jumlah suku kata adalah dasar irama, yang diikuti oleh tekanan yang teratur. Kualitas hanya merupakan variasi yang kadang-kadang dipakai. Di Cina, tinggi rendah suara adalah dasar irama; sedangkan di Yunani, kualitas merupakan prinsip untuk menyusun puisi. Tinggi rendah suara dan pembatasan jumlah kata merupakan unsur variasi. Sastra bahasa Melayu pun senantiasa memperhitungkan pola rima dan jumlah suku kata. Pantun, talibun, bidal, syair, mantra, gurindam dua belas; semuanya memiliki bentuk rima yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, bagaimanakah posisi bahasa dalam sastra Indonesia? Apakah terjadi keterputusan juga dengan sastra tradisional? Penyair Indra Tjahyadi pernah menuliskan puisi yang apik. &lt;i&gt;Ziarah atas burung-burung, cahaya dari rasa sakit yang bertumpuk, yang baru digali dari setiap kubur, seperti ikalan-ikalan topan, atau impian seribu gadis, dan pelacur&lt;/i&gt;. Puisi “Katastrope” dari antologi &lt;i&gt;Manifesto Surrealisme&lt;/i&gt; (FS3LP Surabaya, 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indra Tjahyadi telah melakukan produksi bahasa secara maksimal. Entah, dari belahan tradisi mana asal puitik Indra Tjahyadi. Puisi tradisional yang paling mungkin untuk mendekati adalah mantra. Itu pun dengan berbagai reduksi dan penambahan aspek. Atau, Indra Tjahyadi justru sama sekali tidak mengambil dari tradisi mantra. Bisa diartikan, puisi “Katastrope” tidak memiliki pijakan sastra tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirunut dari padanannya dengan dunia yang dibangun, puisi “Katastrope” juga sangat tidak sesuai dengan kenyataan empirik. Segalanya datang dan pergi tanpa bisa dikenali. Satu-satunya fakta yang tersisa dalam puisi Indra Tjahyadi ialah fakta bahasa. Ditinjau dari segi kategori bahasa Indonesia, puisi tersebut benar; larik-larik yang menggunakan kata benda, kata kerja, kata sifat, kata sandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara fungsi bahasa Indonesia, puisi Indra Tjahyadi tidak memenuhi persyaratan minimal sebuah kalimat, subyek + predikat; larik-lariknya hanya berposisi sebagai subyek, predikat tidak ada. Ditinjau dari segi peran, puisi “Katastrope” juga tidak sesuai dengan tindak bahasa yang benar, pelaku dan penyertanya tidak ada. Hanya saja, seluruh larik-lariknya menggunakan kata dari bahasa Indonesia. Segi kategori-nya pun benar. Meski tidak menemukan paduannya dalam realitas, dunia dalam puisi Indra Tjahyadi bisa dibayangkan oleh pembaca. Aspek tema menyusul di pembacaan selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik itu menempatkan puisi “Katastrope” dalam wilayah fantasi, puisi fantasi. Puisi yang hanya bersandar pada fakta bahasa, tanpa acuan realitas, atau “puisi membentuk realitas” tersendiri. Realitas puisi yang tidak perlu berurusan dengan realitas empirik. Ini berseberangan dengan harapan Nirwan Dewanto tentang sastra ideal. Pada buku &lt;i&gt;Senjakala Kebudayaan&lt;/i&gt;, seraya merujuk puisi Octavio Paz dan novel Gabriel Garcia Marquez, Nirwan menegaskan, sastra mesti “mengimajinasikan realitas” dan bukannya “menghancurkan realitas”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nirwan benar, puisi Paz dan novel Gabriel memang bersandar pada realitas Amerika Latin, dan oleh sandaran yang diolah secara cerdas, dua sastrawan tersebut layak memperoleh hadiah Nobel. Pernyataan Nirwanlah yang bermasalah, ialah sastra mesti seperti Paz dan Gabriel. Mengedepankan sastra imajinasi dengan serta merta merendahkan sastra fantasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan &lt;i&gt;Labirin Impian&lt;/i&gt; karangan Jorge Luis Borges, karya sastra yang amat berciri fantasi, teks-teks yang amat menghancurkan realitas. Dan bersandar pada puisi Indra Tjahyadi yang lugas namun beringas, bisa jadi, bahasa Indonesia berpotensi besar menghasilkan sastra fantasi yang bermutu. Bisa jadi juga, bahasa Indonesia kurang berpotensi menghasilkan sastra imajinasi. Bahasa Melayu justru berposisi sebaliknya, sifat kultural-keseharian yang diemban oleh bahasa tersebut memungkinkan lahirnya sastra yang mengimajinasikan realitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke jejak sejarah bahasa Indonesia. Para sastrawan Indonesia sebelum tahun 1950-an patut bersyukur. Bahan mentah sastra, saat itu, bahasa Melayu, belum terlalu direcoki oleh aturan-aturan. Pembakuan bahasa yang dilakukan Ch. A. van Openhusyen (1856-1917) dalam buku &lt;i&gt;Spraakkunst van het Maleisch&lt;/i&gt; yang cemerlang, tidak lebih dan tidak kurang, berasal dari pendataan bahasa tulis dan terutama bahasa lisan yang dipergunakan oleh masyarakat Melayu. Openhusyen tidak melesakkan aturan-aturan aneh yang membuat bahasa Melayu berlainan dengan bahasa keseharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menuliskan karya sastra, pengarang Nusantara tinggal memilih salah satu ragam, bahasa Melayu tinggi atau bahasa Melayu rendah. Kedua telah mengandung unsur asosiatif yang tebal. Bahasa yang dibentuk oleh kata-kata bermuatan kultural-mitologis. Hampir setiap kata merangsang kesan kejiwaan, transendensi, kesenyapan, atau traumatik ingatan. Kata-kata memrepresentasikan tuah. Ini disebabkan; bahasa Melayu difungsikan, dipercaya, dan dihidupi masyarakat. Bahasa sebagai produk kebudayaan. Bahasa Melayu dipergunakan dalam bahasa tulis biasa pun hasilnya sudah cukup memberi kesan. Sastrawan tinggal menyisipkan gagasan atas bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya, kondisi bahasa Melayu jauh berbeda dengan bahasa Indonesia. Usaha Pusat Bahasa yang mencanangkan “satu kata satu makna” menyudutkan bahasa sekadar media informasi. Tidak ada kesan, tanpa asosiasi, kering, dan kurang menyiratkan aspek kejiwaan. Bahasa yang jauh dari kenyataan empirik. Bahasa ditekankan sebagai alat komunikasi daripada sebagai produk kebudayaan. Karya sastra fantasi, yang secara sifat, jauh dari kenyataan menemukan “wilayah subur” bahasanya. Tentu bukan tanpa jebakan, mulut-mulut kegenitan sudah siap menganga dan siap melumat karya sastra menjelma karya sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal jika mau belajar kepada Borges, sastra fantasi memang dimaksudkan miskin rujukan jiwa dan realitas. Karya sastra menekankan fakta bahasa, dan bukannya fakta empirik. Namun, fakta bahasa juga berarti fakta tradisi sastra. Karya-karya Borges sarat dengan mitologi dan pola-pola tradisi sastra yang telah pernah ada. Mitologi dan tradisi dipertaut-silangkan sampai menemukan bentuk baru. Pada cerpen “Jalan Setapak Bercecabang”, Borges mengadopsi kerumitan tradisi sastra Cina dan dipersilangkan dengan kejutan-kejutan naratif yang berpangkal dari tradisi sastra Populer-Detektif. Apakah sastra fantasi Indonesia sudah cukup mengeksplorasi khasanah tradisi sastra? Pendekatan cermat masih perlu lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keintiman anara bahasa Indonesia dengan masyarakat penggunanya, saat ini, tampaknya terus mendapat ujian. Ini bisa terjadi karena imbas globalisasi dan percepatan informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, pada keluarga kelas menengah ke atas, saat ini, orang tua lebih suka mendidik anaknya untuk berbicara bahasa Inggris. Dalam kehidupan kesehariannya, orang tua membiasakan anaknya berbincang-bincang bukan dengan bahasa Indonesia tetapi dengan bahasa Inggris. Dalam bidang pendidikan formal pun, orang tua memilih memasukkan anaknya ke sekolah yang menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar. Lihat saja, dalam dua tahun terakhir, orang tua rela mengeluarkan biaya lebih besar demi memasukkan anaknya ke sekolah berstandar internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi ini memiliki pengaruh besar terhadap masa depan sastra berbahasa Indonesia. Mengapa? Jelas sekali, anak menjadi lebih pandai berbahasa Inggris daripada berbahasa Indonesia. Tidak hanya pandai, anak terkondisikan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pertama. Sebagai bahasa ibu. Tidak hanya saat mengungkapkan pendapat, dalam bermimpi pun, anak akan berbicara dan berpikir dalam bahasa Inggris. Jika sudah begini, ke depan, tidak bisa diharapkan mereka akan mampu dan mau menulis karya sastra dalam bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, kondisi berbeda terjadi dalam keluarga kelas menengah ke bawah. Keluarga etnis Jawa misalnya. Orang tua membiasakan anaknya berbicara dalam bahasa Indonesia. Bukan dalam bahasa Jawa. Alasannya sederhana, agar anak bisa lebih maju dibanding orang tuanya. Biasanya, orang tua berbicara sesama mereka masih dalam bahasa campuran, Jawa-Indonesia. Namun kepada anaknya, orang tua selalu menggunakan bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi berbeda ini lambat laun akan berubah. Tidak hanya keluarga kelas menengah ke atas yang membiasakan anaknya berbicara bahasa Inggris dalam keseharian. Keluarga kelas menengah ke bawah pun akan tergerak untuk melakukan pilihan yang sama. Mengapa? Soalnya, keluarga kelas yang lebih bawah secara psikologis menganggap cara hidup kelas di atasnya sebagai lebih maju. Artinya, pilihan keluarga kelas menengah ke atas bakal menjadi tren. Menjadi sesuatu keharusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara alamiah, ke depan, ketika anak-anak ini telah remaja bahkan dewasa, kesusastraan Indonesia tidak lagi ditulis dalam bahasa Indonesia. Kesusastraan akan ditulis dalam bahasa Inggris. Sastrawan yang masih menulis dalam bahasa Indonesai dapat digolongkan “memelihara” atau “mempertahankan” budaya bangsa. Tentu saja jumlahnya minoritas dibanding sastrawan yang menulis dalam bahasa Inggris. Sama seperti kondisi sekarang, beberapa sastrawan masih menulis dalam bahasa daerah. Semisal Jawa, Bali, atau Sunda. Jumlah mereka tidak banyak di antara melubernya sastra berbahasa Indonesia. Ke depan, sastrawan berbahasa Indonesai –tidak kurang tidak lebih- nasibnya akan sama. Marjinal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu bahwa perpindahan bahasa dalam sastra tentu sebuah gejala yang sangat serius. Sebab bahasa adalah kendaraan sekaligus ruh dari sastra itu sendiri. Pengaruhnya bisa sangat gawat. Bisa mengarah ke positif bisa pula negatif. Oleh karenanya, pengaruh-pengaruh tersebut harus segera diantisipasi. Setidak-tidaknya pengaruhnya dikenali. Terutama pengaruh buruknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imbas paling menakutkan, ke depan, karya sastra berbahasa Indonesia hanya akan mendiami rak-rak museum. Sama seperti karya sastra para pujangga Jawa. Kehilangan pembacanya, penulisnya, dan kehilangan aktualitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu fakta yang patut dicermati, sejarah sastra Indonesia memiliki keterputusan fundamen dari sastra lama. Sastra Indonesia sekarang dipahami sebagai sastra modern hasil adopsi dari sastra dunia (Barat). Maka muncul bentuk puisi, cerpen, novel, maupun naskah drama. Kesemuanya bukanlah pencanggihan atau hasil pengembangan dari sastra lama. Kesemuanya muncul secara alamiah sebagai respon dari perkembangan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, bagaimana mengantisipasi perubahan besar tersebut? Ada beberapa langkah yang harus ditempuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, perubahan ke arah sastra berbahasa Inggris tidak bisa dihindari. Penyebabnya, pelan tapi pasti, masyarakat Indonesia akan beralih dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sastrawan sekarang harus mulai belajar menulis dalam bahasa Inggris. Artinya, sekalian saja kondisi 25 tahun ke depan tersebut dihadirkan saat ini. Sastrawan tidak menulis untuk tahun sekarang. Tetapi, sastrawan menulis untuk zaman di masa depan. Toh, di Indonesia, media massa yang menerima karya sastra berbahasa Inggris sudah ada. Atau kalau memang percaya diri, karya berbahasa Inggris tersebut dikirimkan ke media massa di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara tetangga kita pun, Malaysia dan Singapura, keduanya telah memulai tradisi penulisan sastra berbahasa Inggris. Daripada semakin terlambat, tradisi sastra berbahasa Inggris harus dimulai dari sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, harus ada usaha yang getol untuk menerjemahkan karya sastra berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Kegiatan ini tidak bisa ditunda karena senyampang para sastrawannya masih hidup. Senyampang masyarakatnya masih terbiasa berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sampai terlambat, jumlah orang yang ahli bahasa Indonesia keburu langka. Padahal jumlah karya sastra yang harus diterjemahkan begitu bejibun. Bayangkan saja, tiap minggu puluhan koran menayangkan puisi atau prosa baru. Tiap minggu, selalu terbit buku kumpulan puisi baru. Bila ditotal, dalam satu abad usia sastra Indonesia, karya yang diproduksi bisa sampai ratusan juta judul. [but]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-4001958578650271456?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/4001958578650271456/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/nasib-sastra-berbahasa-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/4001958578650271456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/4001958578650271456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/nasib-sastra-berbahasa-indonesia.html' title='Nasib Sastra Berbahasa Indonesia'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-7300174653710841691</id><published>2011-08-31T22:23:00.000+07:00</published><updated>2011-09-12T22:31:31.014+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Lomba Blog Kebahasaan dan Kesastraan 2011</title><content type='html'>Tahun 2011 ini, Pusat Bahasa yang sekarang telah berganti nama menjadi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa atau Badan Bahasa, kembali menyelenggaran lomba blog kebahasaan dan kesastraan.&amp;nbsp;Seperti tahun-tahun sebelumnya, lomba blog ini terbuka untuk umum. Bagi Anda yang berminat, berikut sayarat-syarat yang harus dipenuhi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendaftar melalui&amp;nbsp;lombablog2011@gmail.com&amp;nbsp;dengan melengkapi identitas dan data-data lain sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Nama lengkap&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tautan Blog&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Alamat Pos-el yang aktif&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nomor Ponsel yang aktif&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tanggal Lahir/usia&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Alamat/kota tempat tinggal saat ini&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pekerjaan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Satu paragraf pendek, mengenai mengapa Anda mengikuti lomba kompetisi blog ini dan bagaimana tanggapan Anda mengenai masalah Kebahasaan dan Kesastraan di Indonesia pada saat ini.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Informasi selanjutnya silakan bergabung di halaman Facebook Lomba Blog Kebahasaan dan Kesastraan Badan Bahasa 2011 (&lt;a href="http://www.facebook.com/pages/Lomba-Blog-Kebahasaan-dan-Kesastraan-2011-Badan-Bahasa/147792295297781"&gt;http://www.facebook.com/pages/Lomba-Blog-Kebahasaan-dan-Kesastraan-2011-Badan-Bahasa/147792295297781&lt;/a&gt;).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-7300174653710841691?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/7300174653710841691/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/08/lomba-blog-kebahasaan-dan-kesastraan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/7300174653710841691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/7300174653710841691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/08/lomba-blog-kebahasaan-dan-kesastraan.html' title='Lomba Blog Kebahasaan dan Kesastraan 2011'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-3661603632772416917</id><published>2011-08-29T22:12:00.000+07:00</published><updated>2011-09-12T22:19:27.732+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-4fc7-1KwA2Q/Tm4hMnGS5GI/AAAAAAAAAC8/frUIk4CBjcU/s1600/badanbahasa.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="131" src="http://2.bp.blogspot.com/-4fc7-1KwA2Q/Tm4hMnGS5GI/AAAAAAAAAC8/frUIk4CBjcU/s200/badanbahasa.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Kantor Badan Bahasa.&amp;nbsp;Foto: id.wikipedia.org&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Nasional, merupakan instansi pemerintah di bawah Kementerian Pendidikan Nasional yang menangani masalah kebahasaan dan kesastraan di Indonesia. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mempunyai tugas melaksanakan pengembangan, pembinaan, serta pelindungan bahasa dan sastra Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melaksanakan tugas, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menyelenggarakan fungsi:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;penyusunan kebijakan teknis, rencana dan program pengembangan, pembinaan, serta pelindungan bahasa dan sastra Indonesia,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;pelaksanaan pengembangan, pembinaan, serta pelindungan bahasa dan sastra Indonesia,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;pemantauan, evaluasi, serta pelaporan pelaksanaan pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra Indonesia, dan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;pelaksanaan administrasi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menetapkan visi dan misi sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terwujudnya lembaga yang andal di bidang kebahasaan dan kesastraan dalam rangka mencerdaskan, memperkukuh jati diri, karakter, dan martabat untuk memperkuat daya saing bangsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Mengembangkan dan melindungi bahasa dan sastra Indonesia&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan mutu penelitian bahasa dan sastra Indonesia&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan sikap positif masyarakat terhadap bahasa dan sastra&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan mutu pelayanan informasi kebahasaan dan kesastraan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan mutu tenaga kebahasaan dan kesastraan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengembangkan pengelolaan organisasi dan kelembagaan&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja di Lingkungan Pendidikan Nasional, susunan organisasi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Bahasa terdiri atas:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Sekretariat Badan,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pusat Pengembangan dan Pelindungan, dan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Sekretariat Badan terdiri atas:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Bagian Perencanaan dan Penganggaran,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagian Keuangan,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagian Hukum dan Kepegawaian, dan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagian Umum.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Sekretariat Badan mempunyai tugas melaksanakan pelayanan teknis dan adiministratif serta pembinaan dan koordinasi pelaksanaan tugas unit organisasi di lingkungan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat Pengembangan dan Pelindungan terdiri atas:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Bidang Pengkajian,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bidang Pembakuan dan Pelindungan,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bidang Informasi dan Publikasi,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Subbagian Tata Usaha, dan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kelompok Jabatan Fungsional.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Pusat Pengembangan dan Pelindungan mempunyai tugas melaksanakan penyusunan kebijakan teknis, pengkajian, pengembangan, dan pelindungan bahasa dan sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan terdiri atas:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Bidang Pemasyarakatan,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bidang Pembelajaran,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bidang Peningkatan dan Pengendalian,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Subbagian Tata Usaha, dan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kelompok Jabatan Fungsional.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan mempunyai tugas melaksanakan penyusunan kebijakan teknis, pemasyarakatan, peningkatan mutu pembelajaran bahasa dan sastra, serta peningkatan peran dan pengendalian penggunaan bahasa dan sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menangani masalah kebahasaan dan kesastraan di Indonesia, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa didukung oleh 30 unit pelaksana teknis daerah, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Balai Bahasa Yogyakarta,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Balai Bahasa Ujung Pandang,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Balai Bahasa Denpasar,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Balai Bahasa Padang,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Balai Bahasa Banjarmasin,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Balai Bahasa Jayapura,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Balai Bahasa Surabaya,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Balai Bahasa Bandung,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Balai Bahasa Semarang,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Balai Bahasa Medan,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Balai Bahasa Pekanbaru,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Balai Bahasa Banda Aceh,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Balai Bahasa Palembang,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kantor Bahasa Provinsi Lampung,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kantor Bahasa Provinsi Jambi,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kantor Bahasa Provinsi Bengkulu,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kantor Bahasa Provinsi Banten,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kantor Bahasa Provinsi Maluku, dan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;b&gt;Sumber:&lt;/b&gt; http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-3661603632772416917?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/3661603632772416917/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/badan-pengembangan-dan-pembinaan-bahasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/3661603632772416917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/3661603632772416917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/09/badan-pengembangan-dan-pembinaan-bahasa.html' title='Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-4fc7-1KwA2Q/Tm4hMnGS5GI/AAAAAAAAAC8/frUIk4CBjcU/s72-c/badanbahasa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-1098333655820632956</id><published>2011-08-28T07:37:00.005+07:00</published><updated>2011-09-03T07:39:30.681+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Bujang Jauh</title><content type='html'>&lt;b&gt;Benny Arnas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Koran Tempo&lt;/i&gt;, 28 Agustus 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;JAUH-JAUH&lt;/b&gt;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;rumpun ialang, buah para di lengkung papan. Sungguh riang gadis berdendang, pemuda tampan di kampung halaman.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang dirasai Bunga Raya, putri tunggal seorang duda. Semua bukan tanpa alibi, bujang itu adalah Sakiaki. Beberapa hari belakangan, ia selalu dalam pikiran. Di beberapa kesempatan, ia menyelinap dalam perbincangan. Tak hanya oleh kerumunan perawan, tapi juga ibu-ibu yang mulai beruban. Ada yang bilang ia titisan Yusuf. Ada yang menduga ia Malaikat yang menyusup.&lt;br /&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Bagai selaras dengan wajah yang mengundang simpati, ia pun dikenal berbudi baik. Ia sangat rajin sembahyang, tegak lurus dengan sifatnya yang penyayang. Bila azan ia kumandangkan, bagai berdenyar telinga yang mendengarkan. Bukan karena sumbang bunyi panggilan, namun merdu nian ia dilagukan. Tak heran bila dalam beberapa putaran, masjid ramai oleh para perempuan. Entah bagaimana semua bermula, ini bukan isapan jempol belaka. Imam masjid sempat terperangah, namun tak kuasa mencuat tanya. Baginya, kerumunan jamaah di rumah Tuhan, pertanda baik bagi kehidupan. Walau akhirnya ia paham, bahwa keberadaan Sakiakilah yang menyebabkan.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sang Imam kerap mengingatkan, agar sang bujang tak lupa daratan. Banyak-banyaklah bersyukur kepada Tuhan, pesannya dalam sebuah kesempatan. Jadikanlah kerupawanan, keterampilan, dan kesantunan, untuk menawan sesiapa ke jalan Tuhan. Jangan ada pemilahan! Baik bagi lelaki ataupun perempuan. Baik bagi muda maupun tua. Baik bagi belia maupun lanjut usia.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sebagaimana biasa, tak pernahlah Sakiaki membantah. Baginya setiap nasihat, adalah laba kehidupan yang berlipat. Takkan kutolak mutiara yang dihadiahkan cuma-cuma, bisik hati kecilnya. Maka, makin rajinlah ia beribadah. Tak pernah alpa karena lalai ataupun lelah.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;JAUH-JAUH&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;rumpun ilalang, buah para bertangkai lima. Jangan cibir cinta yang datang, kelak kau akan terperangah.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sakiaki adalah orang datangan, tukang azan kesayangan imam. Ia mengajar mengaji, ketika magrib sudah permisi. Banyak anak kampung yang menjadi muridnya, mereka gembira karena sang guru baik hatinya. Sakiaki tak pernah membawa rotan saat&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;mutaba’ah&lt;/i&gt;, mengulang hafalan surat-surat&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;juz amma&lt;/i&gt;. Ia jua kerap bercerita, berbagi hikmah kepada murid-muridnya:&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Jadi bujang bukanlah centeng. Anak gadis janganlah cengeng.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Benarlah janji Tuhan, tak ada amal tanpa imbalan. Setiap usaha yang berkat, mengundang hadiah untuk mendekat. Sakiaki seolah tak perlu memikirkan makan. Ada-ada saja yang datang menyuguhkan. Saban pagi, siang, dan petang; ibu-ibu bagai bergantian membawa rantangan. Ia jua tak perlu risau perihal pakaian, tak sedikit wali murid menghadiahinya katun jahitan. Bahkan dalam beberapa waktu yang cerlang, ada-ada saja yang memberinya sejumlah uang.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Ai, alangkah riang si Sakiaki, hatinya senang sepanjang hari. Senyum merekah kepada sesiapa yang ditangkap mata. Salam tak alpa ia ucapkan, untuk mereka yang bersua di jalanan. Sakiaki sangat cakap membawa diri, sebagaimana pesan orangtuanya di suatu hari:&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Di bumi mana pun kau bergantung, di situ langit harus kaujunjung.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Berbilang masa, Sakikaki masyhur karena tabiatnya. Ya, bukan hanya karena kemerduan suara kala berazan, tapi juga kepandaiannya memelihara kawan. Bukan hanya karena wajah yang rupawan, tapi juga keramahannya kepada orang-orang. Bukan hanya karena kedalaman ilmu dan wawasannya, tapi juga kerendahan hati dalam menyembunyikannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Seolah mendapat bisikan Tuhan, beginilah yang dilakoni para orangtua—dan dalam perkara ini, ibu-ibulah yang dapat diandali:&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Bila hendak mengantar rantangan, mereka selalu didampingi anak perawan.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Entah bagaimana, Sakiaki seolah tak pernah besar kepala. Ah, bagaimana ini layak dibahasakan: Sakiaki menganggap apa-apa yang tampak di hadapan adalah isyarat agar ia tak kerap menabur harapan, atau si ibu yang tak pandai memilih waktu menjaring menantu, atau Sakiaki yang terlalu dini berbesar hati….&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Tentu Sakiaki tak akan meremehkan serangkaian gelagat. Ia hanya berisyarat seolah belum berniat kawin cepat-cepat. (Sungguh, bila hendak diperturutkan, sangat ingin Sakiaki membuat ikatan. Usianya sudah dua tiga, sangatlah ranum untuk menikah. Apalagi gadis-gadis yang ditangkap pandang, kebanyakan sudah menanti untuk dipinang.)&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Tak banyak yang tahu. Hati Sakiaki sudah tertaut, dengan seorang gadis yang bertutur lemah lembut. Gadis itu ia lihat tak sengaja, di sebuah pasar yang digelar pagi Selasa. Kala itu, ia bersama ayahnya yang juga petinggi puak, dan lenggok suara gadis itu membuat telinga dan mata sesiapa jadi terbuka. Bila ayahnya memetik gitar, cengkok suaranya membuat hati bergetar. Bila ayahnya melempar sampiran, sang gadis membalas dengan makna yang berikatan. Mereka adalah sepasang pemantun yang santun. Sepasang penampil yang sangat terampil. Dan karena semua itu, tekad Sakiaki bertalu-talu. Ia bagai mabuk oleh cinta pertama, cinta yang dulu ia anggap bualan belaka.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Ai, Bunga Raya! Tunggulah! Abang ‘kan datang untuk mengkhitbah!&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;JAUH-JAUH&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;rumpun ialang, buah para dagingnya lekat. Alangkah malang nasib si bujang, diri sebatang diperangkap adat.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Ai, penting niankah asal usul seseorang, hingga ia harus ditimbang dalam pinangan? Maka, berkelitlah serombongan ibu, yang kerap mengantar rantangan ke rumah itu; rumah Sakiaki yang tak paham perkara; kenapa tak pernah lagi anak perawan menyertai mereka. Ibu-ibu memang masih kerap memperhatikannya, namun Bunga Raya mendapati ada yang berbeda. Pernah tak sengaja ia mendapati pergunjingan, Sakiaki dan anak-anak gadis mereka dikunyah bagai kudapan. Dalam diam, Bunga Raya kerap bergumam.&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Ah, ibu-ibu memang senang membuang waktu, untuk perkara yang faedahnya belumlah tentu&lt;/i&gt;. Aneh pula Bunga Raya mendengar apa yang mereka ributkan; Sakiaki bukan keturunan Melayu sebagaimana kebanyakan! Dan di pasar ini, bakda berpantun dan menyanyi, Bunga Raya kembali merasa ganjil, mendengar pergunjingan di sebuah kedai kecil.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Oi, Mak-mak yang berkumpul di siang kemarau, dengarkan pantun untuk hati yang risau.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Serombongan perempuan berumur, menyerbu dan berbaur.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Pisau Suang Pisau Pelawan, dipakai untuk menebas mayang. Sungguh malang nasib perawan, meneguk liur mengharap bujang!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Ai, Siti Maimunah nan pandai bercakap, tahu nian kalau perawan kami tengah meratap.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Apakah ada yang bisa bermaklumat, sejak kapan adat mencekik bujang santun nan memikat?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Tak usah kau bertanya bagaimana api ‘kan padam, bila air liur yang kaupakai untuk meredam?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Ya, Mak Jamidan, kita hanya merutuki kemalangan. Kau tentu paham ke mana percakapan tertuju: sesiapa akan bangga bila Sakiaki jadi menantu.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Dari kabar yang melintang-pukang, ada angin sejuk yang berlabuh di ujung pedang. Keliru nian orang-orang yang bilang, kalau Sakiaki bukan Melayu kebanyakan!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Apa maksudmu, Cik Kumu?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Cik Kumu tersenyum sembari melempar pandang. Senang nian ia mendapati orang-orang dililit penasaran.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Bukankah ayahnya orang pulau seberang?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Atau itu hanya kabar sembarang?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Jangan terlalu lama racun dijerang. Hari ini sudah siang. Lekas beritahu kami sekarang!” Seorang ibu mulai berang.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Cik Kumu memberi isyarat: yang hendak beroleh kabar harap merapat!&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Tak ingin melewatkan kesempatan, segeralah Bunga Raya mendekati kerumunan. Tentu tak mungkin ia bergabung; tak lazim anak gadis menyumpil di antara mulut kecubung, demikian mak-mak itu beroleh sebutan. Lamat-lamat Bunga Raya memasang telinga; sudah kenyang ia dibekap tanda tanya. Ia berharap beroleh kabar gembira, bahwa ada pasal yang dapat memuluskan rencana. Ya, dari lubuk hati terdalam, sebagaimana perawan kebanyakan, sangatlah ingin Bunga Raya disunting si bujang, tukang azan yang tengah diperkarakan. Mulut Bunga Raya komat-kamit, seolah tengah mengirim doa ke langit. Ya, Bunga Raya bagai baru menyadari, banyak yang terpikat kepada pujaan hati. Pikirannya tiba-tiba mengembara, pada beberapa karib seusia. Fatimah anak Haji Sukur, gadis ramah berkulit kuning kencur; Malacanang anak Mang Ramang, kakinya jenjang, berambut panjang; atau Saipit Zubaedah binti Wak Mahar, selain kulit sawo muda, tutur katanya sejuk didengar. Ah, setiap anak gadis pasti memesona, termasuk aku yang pandai bernyanyi dan merangkai kata, batin Bunga Raya tak mau kalah. Ya, pertunjukan yang digelar Bunga Raya dan ayahnya saban Kamis dan Selasa, membuat sesiapa tahu kalau bernyanyi dan berpantun adalah kepandaiannya. Bunga Raya benar-benar mewarisi darah sang Ayah, seorang seniman serbabisa.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Apakah Sakiaki menyukai gadis pemantun?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Apakah Sakiaki suka mendengarkan bait-bait lagu dilantun?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Wajah Bunga Raya tiba-tiba merah kembang sepatu, perasaan resah dan gembira berpadu menjadi satu.&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Oh, semoga saja Tuhan tengah riang, betapa aku ingin disunting ia seorang.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;O o! Bunga Raya tercekat. Bagai terlupa untuk apa ia mendekat. Segera ia lepas khayalan.&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Tak guna bila semua masih angan-angan&lt;/i&gt;. Pendengaran Bunga Raya kembali awas. Ia harap tak ketinggalan kabar nan panas. Ketika mendapati pergunjingan masih diulur-ulur, ia mengela napas bagai bersyukur. Hmm, Bunga Raya berhikmat di waktu yang mustajab!&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Ayah Sakiaki memang orang pulau seberang, tapi takkah kalian berpikir tenang-tenang?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Jangan memanjangkan tali kelambu, Cik!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Bila masih kaubolak-balik, jangan menyesal bila kau kami cekik!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Cik Kumu terperanjat, serta-merta ia teguk liurnya yang sepat (Bunga Raya bersetuju, dengan ancaman perempuan-perempuan itu. Ia juga jengah, melihat Cik Kumu masyuk bertingkah). Cik Kumu pun menganggukkkan kepala. Tanpa mukadimah. Tergesa-gesa. Ia utarakan perkara yang dianggapnya rahasia….&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;JAUH-JAUH&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;rumpun ialang, buah para dalam berangan. Hancur hati para perawan, bujang pujaan digapai jangan….&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Alamak jan! Bengaknya kau, perempuan! Seolah menunjukkan mutiara, padahal tak lebih hanya sebongkah suasa! Ya, Cik Kumu dirundung cerca.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Wajahnya masai tiada terkira. Perempuan-perempuan itu bagai baru tahu, dalam tubuh Cik Kumu tidak mengalir darah Melayu.&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Ai, manalah paham ia tentang adat, manalah tahu ia tentang syarat yang mengikat!&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Lagak Cik Kumulah yang membuat mereka naik pitam. Ia seolah memegang rahasia kerajaan, padahal pengetahuannya umpama air dalam genggaman.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Gila babi nian kau, Cik Kumu! Walaupun ibu Sakiaki berdarah Melayu, takkan memengaruhi nasab bujang pujaanku!&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Bunga Raya bermuram durja, kabar yang diharap justru mengantar sekantung kecewa.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Bunga Raya pulang. Perasaannya tak tenang. Baru selangkah memasuki kamar, di tepi jendela ia dapati setangkai mawar. Sepucuk surat warna hijau muda, tergeletak tak jauh di dekatnya. Oh, Bunga Raya bagai bermimpi, mendapati nama Sakiaki diukir dengan dawat merah hati. Baru saja hendak ia hikmati, Ayahnya datang menghampiri. Lekas ia melipat tangan di balik kain. Betapa degup jantungnya kini terasa lain.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Bunga Raya tersenyum cerah. Disapanya sang ayah dengan ceria. Ya, ia tak ingin tertangkap basah, sebagai gadis yang tengah diikat asmara. Ai, merah genteng kini wajahnya, malu nian diolok perasaan yang membuncah. O o, tiba-tiba terbersit di pikiran, Bunga Raya hendak melunaskan kegelisahan.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Batang pala di tepi jalan, buahnya dipetik untuk manisan. Bila Ayahanda tengah berkenan, bolehkah kulayangkan setangkai pertanyaan?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Buah pala untuk manisan, dimakan oleh anak perawan. Bila Ayahanda boleh pastikan, setangkai pertanyaan atau serumpun kegelisahan?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Bunga Raya bagai menjelma setangkai putri malu, yang bila disentuh daunnya mengatup menjadi satu. Apakah sang ayah menangkap kegelisahannya, ataukah ia hanya sembarang menebak saja. Bunga Raya tak hendak bermain dengan kira-kira. Baru saja hendak ia rangkai sampiran, ayahnya sudah memanjangkan dugaan….&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Sebagaimana kau, tentu Ayah pun galau.” Kata-kata ayahnya seolah menunjukkan, bahwa ia sudah tahu apa yang Bunga Raya pikirkan.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Bunga Raya diam saja. Berdebar-debar kini dadanya. Menanti-nanti kata selanjutnya….&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Galau oleh mak-mak yang bermulut delapan, seolah tak ada kerja selain berbincang-bincang.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Bunga Raya masih diam. Menebak-nebak ke mana ayahnya menggiring percakapan.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Namun begitu, sangatlah aku bangga kepadamu. Pun arwah ibumu, akan bersepakat denganku. Ayah tak pernah memberikan tukang azan itu sesuatu, apalagi sampai membawa-bawamu ke situ. Dan kini, Ayah bersyukur sepenuh hati. Kau tentu tidak seperti mak-mak itu. Kau tidak setali tiga uang dengan anak perawan yang seolah kekurangan bujang di kampung halaman, bukan?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Bunga Raya menunduk. Kegalauannya bersitumpuk.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Para petinggi puak telah memufakati beberapa putusan perihal Sakiaki. Selain karena bukan peranakan Melayu asli, ia jua telah meresahkan bujang-bujang dan para suami. Anak perawan mereka tak henti membincangkan Sakiaki, sebagaimana sang istri bermimpi memiliki menantu yang baik hati. Ai, rusaklah panggung adat, bila diturut nafsu keparat!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Bunga Raya mendongak. Dadanya tiba-tiba terasa sebak.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Dari beberapa putusan, satu saja yang rasanya perlu kusampaikan….”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Bunga Raya meneguk liur. Perasaannya kian berkesiur.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Sakiaki harus pergi dari kampung ini!” Bunga Raya membelalak sertamerta. Apa yang ia dengar sungguh sukar diterima.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Syukurlah Sakiaki tahu diri. Pagi tadi ia sudah angkat kaki!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Bunga Raya benar-benar tercekat. Surat di tangan ia genggam erat-erat. Sungguh, ia belum tahu, apa yang Sakiaki tulis di situ. Ia sangat berharap, tertera nama sebuah tempat. Tempat di mana Sakiaki sudah menunggu, sebagaimana ia yang sudah siap-siap menyerbu…. (*)&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: right;"&gt;Lubuklinggau, 2011&lt;/div&gt;&lt;div align="right" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: right;"&gt;Benny Arnas lahir dan tinggal di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Buku-buku cerita pendeknya adalah&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Bulan Celurit Api&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(Koekoesan, 2010), dan&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Jatuh dari Cinta&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(Grafindo, 2011).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-1098333655820632956?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/1098333655820632956/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/08/bujang-jauh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/1098333655820632956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/1098333655820632956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/08/bujang-jauh.html' title='Bujang Jauh'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-1588801619147458629</id><published>2011-08-24T13:51:00.002+07:00</published><updated>2011-09-05T13:53:36.493+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>24 Agustus 2011, Google Doodle Rayakan Ultah Penyair Jorge Borges</title><content type='html'>&lt;b&gt;Okezone.com&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.sabjanbadio.web.id/images/berita/gb32.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="147" src="http://www.sabjanbadio.web.id/images/berita/gb32.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;JAKARTA - Google Doodle hari ini merayakan hari ulang tahun dari Jorge Luis Borges, seorang penulis Argentina yang dianggap salah satu tokoh sastra terbesar dari abad 20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang okezone telusuri, Rabu (24/8/2011), header Google hari ini di menampilkan sebuah lukisan yang berhubungan dengan Luis Borges.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luis Borges yang juga dianggap sebagai salah satu tokoh sastra terbesar dunia abad 20 ini juga berporfesi sebagai penyair, kritikus seni dan penerjemah. Perayaan yang dilakukan oleh Google Doodle hari ini pun adalah ulang tahun obituari Luis Borges ke-112.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luis Borges lahir pada tahun 1899 di Argentina dan meninggal di Jenewa, Swiss, pada tahun 1986.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya yang Borges buat turut mempengaruhi perkembangan genre sastra terbaru, yakni magical realism, yang mana merupakan bantahan atas genre sastra realisme/naturalisme pada abad 19.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Google Doodle dibuat oleh Google untuk memperingati kejadian-kejadian istimewa, seperti ulang tahun tokoh-tokoh ternama dan hari-hari besar dunia. Google Doodle pertama kali dibuat pada tahun 1998 dan mendapat hak patennya pada tahun 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh yang pernah dibuatkan Google Doodle antara lain Andy Warhol, Albert Einstein, Leonardo da Vinci, Rabindranath Tagore, Louis Braille, Percival Lowell, Edvard Munch, Nikola Tesla, Béla Bartók, René Magritte, Michael Jackson, Akira Kurosawa, H. G. Wells, Samuel Morse, Hans Christian Ørsted, Mohandas Gandhi, Dennis Gabor, Antonio Vivaldi, Jules Verne dan lain-lain. (ATA)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-1588801619147458629?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/1588801619147458629/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/08/24-agustus-2011-google-doodle-rayakan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/1588801619147458629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/1588801619147458629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/08/24-agustus-2011-google-doodle-rayakan.html' title='24 Agustus 2011, Google Doodle Rayakan Ultah Penyair Jorge Borges'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-3769721502377812773</id><published>2011-08-17T07:40:00.001+07:00</published><updated>2011-09-03T07:44:58.014+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebahasaan'/><title type='text'>Dirgahayu Republik Indonesia</title><content type='html'>&lt;b&gt;Sabjan Badio&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Hari ini, umur kemerdekaan Republik Indonesia sudah 66 tahun. Setiap memperingati hari kemerdekaan, selalu saja ditemukan frasa “Dirgahayu HUT RI”. Banyak yang tidak sadar dengan arti frasa ini sehingga digunakan banyak pihak, mulai media massa, kantor pemerintah, pribadi, perusahaan swasta, dan berbagai kalangan yang lain.&amp;nbsp;Dalam&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;KBBI Daring&lt;/i&gt;, dirgahayu diartikan sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;dir·ga·ha·yu&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;a&lt;/i&gt;&amp;nbsp;berumur panjang (biasanya ditujukan kpd negara atau organisasi yg sedang memperingati hari jadinya): –&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Republik Indonesia,&lt;/i&gt;&amp;nbsp;panjang umur Republik Indonesia.&lt;/blockquote&gt;Berdasarkan pengertian tersebut, Dirgahayu HUT RI mengacu kepada (semoga) berumur panjang hari ulang tahun kemerdekaan RI. Padahal, yang seharusnya berumur panjang itu adalah RI dan kemerdekaannya, bukan hari kemerdekaannya. Seharusnya frasa yang digunakan adalah “Dirgahayu RI” atau “Dirgahayu Kemerdekaan RI”.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sebagai warga negara Indonesia, sudah seharusnya kita memahami berbagai istilah bahasa Indonesia yang rutin digunakan. Kenyataannya, banyak orang yang tidak bisa mendefinisikan dan menggunakan secara tepat kata “dirgahayu”, membedakan antara “pempek” dengan “empek-empek”, “rubah” dengan “ubah”, “bergeming” dengan “tidak bergeming”, “membawahi” dengan “membawahkan”, dan lain-lain.***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-3769721502377812773?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/3769721502377812773/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/08/dirgahayu-republik-indonesia.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/3769721502377812773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/3769721502377812773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/08/dirgahayu-republik-indonesia.html' title='Dirgahayu Republik Indonesia'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-8434043605560987234</id><published>2011-08-16T07:44:00.002+07:00</published><updated>2011-09-03T09:08:25.282+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesastraan'/><title type='text'>Mengoptimalkan Peran Sastra dalam Pembentukan Karakter Bangsa</title><content type='html'>&lt;b&gt;Lustantini Septiningsih&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id&lt;br /&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sikap hidup pragmatis dari sebagian besar masyarakat Indonesia dewasa ini mengakibatkan terkikisnya nilai luhur budaya bangsa. Demikian pula budaya kekerasan dan anarkisme sosial turut memperparah kondisi sosial budaya bangsa Indonesia. Nilai kearifan lokal (&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;local wisdom&lt;/i&gt;) yang santun, ramah, saling menghormati, arif, dan religius seakan terkikis dan tereduksi gaya hidup instan dan modern. Masyarakat sangat mudah tersulut emosinya, pemarah, brutal, kasar, dan vulgar tanpa mampu mengendalikan hawa nafsunya, seperti perilaku para demonstran yang membakar kendaraan atau rumah, merusak gedung, serta berkata kasar, dalam berunjuk rasa yang ditayangkan di televisi. Fenomena itu dapat menjadi representasi melemahnya karakter bangsa ini, yang terkenal ramah, santun, berpekerti luhur, dan berbudi mulia.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sebagai bangsa yang beradab dan bermartabat, situasi yang demikian itu jelas tidak menguntungkan bagi masa depan bangsa, khususnya dalam melahirkan generasi masa depan bangsa yang cerdas, bijak, terampil, cendekia, berbudi pekerti luhur, berderajat mulia, berperadaban tinggi, dan senantiasa berbakti kepada Tuhan yang Maha Esa. Oleh karena itu, dibutuhkan paradigma pendidikan kejiwaan yang berorientasi pada karakter bangsa, yang tidak sekadar memburu kepentingan kognitif (pikir, nalar, dan logika), tetapi juga memperhatikan dan mengintegrasi persoalan moral dan keluhuran budi pekerti. Hal itu sejalan dengan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu fungsi pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan membangun watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Pendidikan kejiwaan yang berorientasi pada pembentukan karakter bangsa itu dapat diwujudkan melalui pengoptimalan peran sastra. Untuk membentuk karakter bangsa ini, sastra diperlakukan sebagai salah satu media atau sarana pendidikan kejiwaan. Hal itu cukup beralasan sebab sastra mengandung nilai etika dan moral yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia. Sastra tidak hanya berbicara tentang diri sendiri (psikologis), tetapi juga berkaitan dengan Tuhan (religiusitas), alam semesta (romantik), dan juga masyarakat (sosiologis). Sastra mampu mengungkap banyak hal dari berbagai segi. Banyak pilihan genre sastra yang dapat dijadikan sarana atau sumber pembentukan karakter bangsa.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(2008:623) menjelaskan bahwa karakter adalah sifat atau ciri kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain; tabiat; watak. Karakter merupakan nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Karakter juga merupakan cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas setiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang mampu membuat suatu keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusan yang dibuatnya. Berkaitan dengan karakter, Saryono (2009:52—186) mengemukakan bahwa genre sastra yang dapat dijadikan sarana untuk membentuk karakter bangsa, antara lain, genre sastra yang mengandung nilai atau aspek (1) literer-estetis, (2) humanistis, (3) etis dan moral, dan (4) religius- sufistis-profetis. Keempat nilai sastra tersebut dipandang mampu mengoptimalkan peran sastra dalam pembentukan karakter bangsa.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Genre sastra yang mengandung nilai literer-estetis adalah genre sastra yang mengandung nilai keindahan, keelokan, kebagusan, kenikmatan, dan keterpanaan yang dimungkinkan oleh segala unsur yang terdapat di dalam karya sastra. Dalam idiom estetis Jawa Kuno, genre sastra yang mengandung nilai literer-estetis disebut&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;kalangwan&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(Zoetmulder, 1985). Karya sastra klasik atau karya sastra yang menjadi sastra kanon (belle lettres) mengandung nilai literer-estetis. Misalnya, puisi Taufiq Ismail (2008a) yang terkumpul dalam&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit 1 Himpunan Puisi 1953—2008&lt;/i&gt;&amp;nbsp;mengandung nilai literer-estetis dengan seperangkat peranti puitis (diksi, rima, alur, gaya, majas, tema, dan amanat) yang terpadu secara baik. Dengan nilai literer-estetis yang termuat dalam sastra kanon tersebut, diharapkan karakter bangsa yang terbentuk adalah insan Indonesia yang memiliki rasa keindahan, ketampanan, dan keanggunan dalam berpikir, berkata, dan berperilaku sehari-hari.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Genre sastra yang mengandung nilai humanistis adalah genre sastra yang mengandung nilai kemanusiaan, menjunjung harkat dan martabat manusia, serta menggambarkan situasi dan kondisi manusia dalam menghadapi berbagai masalah. Kisah klasik&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Ramayana&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Mahabarata&lt;/i&gt;, misalnya, menyajikan berbagai pengalaman hidup manusia, seperti tragedi, maut, cinta, harapan, loyalitas, kekuasaan, makna dan tujuan hidup, serta hal yang transendental. Nilai kemanusiaan yang begitu tinggi dalam karya sastra klasik tersebut sering ditulis ulang (direproduksi) oleh penulis kemudian. Novel&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Anak Bajang Menggiring Angin&lt;/i&gt;&amp;nbsp;karya Sindhunata (1983) dan&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Kitab Omong Kosong&lt;/i&gt;&amp;nbsp;karya Seno Gumira Aji Darma (2004) ditulis berdasarkan kisah&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Ramayana&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yang penuh nilai kemanusiaan tersebut. Kehadiran karya sastra semacam itu diharapkan dapat membentuk kearifan budaya bangsa Indonesia yang memiliki rasa perikemanusiaan yang adil, beradab, dan bermartabat.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Genre sastra yang mengandung nilai etis dan moral dalam karya sastra mengacu pada pengalaman manusia dalam bersikap dan bertindak, melaksanakan yang benar dan yang salah, serta bagaimana seharusnya kewajiban dan tanggung jawab manusia dilakukan. Sudah sejak dahulu karya sastra diperlakukan sebagai wahana penyimpan dan perawat nilai etis dan moral, misalnya&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Ramayana&lt;/i&gt;,&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Mahabarata&lt;/i&gt;,&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Wulangreh (Pakubuana IV)&lt;/i&gt;,&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Wedhatama (Mangkunegara IV)&lt;/i&gt;, dan&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Kalatidha (R.Ng. Ranggawarsito)&lt;/i&gt;, sudah dianggap sebagai penyimpan dan perawat norma etis dan moral yang ideal bagi masyarakat. Simpanan dan rawatan norma etis dan moral tersebut dapat dijadikan wahana pembentukan karakter bangsa yang lebih mengutamakan etika dan moral dalam bersikap dan bertindak sehari-hari.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sastra religius-sufistis-profetis adalah genre sastra yang menyajikan pengalaman spiritual dan transendental. Genre sastra yang demikian itu telah lama ada sehingga Mangunwijaya (1982) menyatakan bahwa pada awalnya semua karya sastra adalah religius. Semua sastra pada awalnya digunakan sebagai sarana berpikir dan berzikir manusia akan kekuasaan, keagungan, kebijaksanaan, dan keadilan Tuhan yang Maha Esa. Kerinduan manusia kepada Tuhan, bahkan hubungan kedekatan manusia dengan Tuhan, telah lama ditulis dalam karya sastra para sufi, seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin Ar Raniri, Al Halaj, Amir Hamzah, Abdul Hadi W.M., Sutardji Calzoum Bachri, dan Danarto. Taufiq Ismail (2008b) dalam bukunya,&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit 4 Himpunan Lirik Lagu 1972—2008&lt;/i&gt;, telah menulis ratusan sajak religius-sufistis-profetis, termasuk 23 balada para nabi dan rasul, yang dinyanyikan oleh Bimbo, Haddad Alwi, Armand Maulana, Gita Gutawa, dan Chrisye. Kehadiran sastra tersebut dapat membentuk karakter bangsa Indonesia sebagai insan yang religius, penuh rasa berbakti, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dalam kehidupan sehari-hari.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Untuk menjadikan sastra sebagai pembentukan karakter bangsa, tidak serta-merta hal itu dapat terwujud. Untuk mengoptimalkan peran sastra tersebut, kemauan apresiator sangat menentukan keberhasilan. Apabila apresiator tidak memiliki kemauan, segan membaca dan mengapresiasi karya sastra, bahkan sekadar membaca dan setelah itu dilupakan, tentu sulit diharapkan sastra mampu secara optimal berperan membentuk karakter bangsa. Sebaliknya, apabila ada kemauan yang teguh dari seorang apresiator untuk berapresiasi secara total dan optimal, setelah sastra dibaca, lalu dipahami maknanya, dimengerti, dan selanjutnya dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, tentu karakter bangsa akan terbentuk sesuai dengan nilai kebajikan yang termuat dalam sastra. Karakter bangsa yang diharapkan terbentuk adalah terjalinnya harmoni hubungan manusia dengan Tuhan, alam semesta, makhluk lain, dan dirinya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Daftar Pustaka&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Ajidarma, Seno Gumira. 2006.&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Kitab Omong Kosong&lt;/i&gt;. Cetakan Kedua. Yogyakarta: Bentang Budaya.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Anoegrajekti, Novi et al. (Ed.). 2010.&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Idiosinkrasi: Pendidikan Karakter Melalui Bahasa dan Sastra&lt;/i&gt;. Jakarta-Yogyakarta: UNJ dan Kepel Press.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Damono, Sapardi Djoko. 1999.&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Politik Ideologi dan Sastra Hibrida&lt;/i&gt;. Jakarta: Pustaka Firdaus.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Darma, Budi. 2004.&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Pengantar Teori Sastra&lt;/i&gt;. Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikian Nasional.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Departemen Pendidikan Nasional. 2003.&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan&lt;/i&gt;. Jakarta.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;——–&lt;/i&gt;. 2008.&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia&lt;/i&gt;. Edisi Keempat. PT Gramedia Pustaka Utama.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Effendi, S. 1982.&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Bimbingan Apresiasi Puisi&lt;/i&gt;. Jakarta: Tangga Mustika Alam.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Ismail, Taufiq. 2008a.&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit 1 Himpunan Puisi 1953—2008&lt;/i&gt;. Jakarta: Majalah Sastra Horison.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;——–&lt;/i&gt;. 2008b.&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit 4 Himpunan Lirik Lagu 1972—2008&lt;/i&gt;. Jakarta: Majalah Sastra Horison.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Mangunwijaya, Y.B. 1982.&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sastra dan Religiusitas&lt;/i&gt;. Jakarta: Sinar Harapan.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Santosa, Puji. 1996.&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Pengetahuan dan Apresiasi Sastra dalam Tanya Jawab&lt;/i&gt;. Ende-Flores: Nusa Indah.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;——–&lt;/i&gt;. 2003.&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Bahtera Kandas di Bukit: Kajian Semiotika Sajak-Sajak Nuh&lt;/i&gt;. Surakarta: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Santosa, Puji dkk. 2007.&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Menulis 2&lt;/i&gt;. Jakarta: Universitas Terbuka.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Saryono, Djoko. 2009.&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Dasar Apresiasi Sastra&lt;/i&gt;. Yogyakarta: Elmatera Publishing.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sindhunata, 1988.&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Anak Bajang Menggiring Angin&lt;/i&gt;. Jakarta: Kompas.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Teeuw, A. 1984.&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sastra dan Ilmu Sastra&lt;/i&gt;. Jakarta: Pustaka Jaya.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989.&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Teori Kesusastraan&lt;/i&gt;. Terjemahan Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-8434043605560987234?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/8434043605560987234/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/08/mengoptimalkan-peran-sastra-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/8434043605560987234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/8434043605560987234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/08/mengoptimalkan-peran-sastra-dalam.html' title='Mengoptimalkan Peran Sastra dalam Pembentukan Karakter Bangsa'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-5504467807637837872</id><published>2011-08-10T07:45:00.002+07:00</published><updated>2011-09-03T09:07:53.209+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesastraan'/><title type='text'>Nasionalisme dalam Puisi Indonesia Mutakhir</title><content type='html'>&lt;b&gt;Suyono Suyatno&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/" style="color: #2970a6; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Pengantar&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sekitar tahun 1945 hingga dasawarsa 1950 khazanah sastra Indonesia cukup banyak yang menampilkan tema nasionalisme, terutama terkait dengan perjuangan kemerdekaan. Cerpen Trisnojuwono yang terhimpun dalam&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Pagar Kawat Berduri&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dan&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Laki-Laki dan Mesiu&amp;nbsp;&lt;/i&gt;, misalnya, mengungkapkan kisah heroik para gerilyawan dalam mempertahankan kemerdekaan, demikian pula, kumpulan cerpen Subagio Sastrowardojo&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Kejantanan di Sumbing&lt;/i&gt;, dan sajak “Karawang—Bekasi” Chairil Anwar, dan sajak “Pahlawan Tak Dikenal” Toto Sudarto Bachtiar. Patut dicatat bahwa jauh sebelum masa perjuangan kemerdekaan, yakni setelah dicetuskannya Sumpah Pemuda pada tahun 1928, Muhammad Yamin pun telah menulis sajak “Tanah Air” yang menyerukan persatuan dan kesatuan Indonesia yang terdiri atas beragam suku dan bahasa (sajak “Tanah Air” yang ditulis Muhammad Yamin setelah Sumpah Pemuda “direvisi” yang sebelum Sumpah Pemuda, masih membayangkan Sumatra sebagai “tanah air”).&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Ada anggapan bahwa nasionalisme kita saat ini tengah menyusut. Terkait dengan perkembangan zaman anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Jika pada masa perjuangan kemerdekaan kita berhadapan dengan musuh konkret yang hadir secara politik dan militeristik, yakni penjajah Belanda dan Jepang, sekarang ini kita berhadapan dengan musuh yang hadir dalam wujud bayang-bayang neokapitalisme/neoimperialisme yang menjadikan Indonesia sekadar pasar, korupsi, kemiskinan, kesenjangan sosial, dan sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Perubahan situasi tersebut berimplikasi pada corak nasionalisme kita: jika pada masa sekitar perang kemerdekaan nasionalisme hadir dengan mengangkat senjata untuk melawan penjajahan asing, nasionalisme masa kini adalah nasionalisme yang mampu “melawan” dominasi neokapitalisme/neoimperialisme, korupsi, kemiskinan, kesenjangan sosial, dan sebagainya. Dalam puisi mutakhir Indonesia, hampir semua penyair, seperti Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Wing Kardjo, Hamid Jabbar, Agus R. Sardjono, dan Hasan Aspahani, mengartikulasikan hal tersebut dalam sajak mereka. Pergeseran corak dan sentimen nasionalisme juga berimplikasi ke sosok&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;hero&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yang muncul. Jika di masa silam sosok&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;hero&lt;/i&gt;&amp;nbsp;adalah “Pahlawan Tak Dikenal” (sajak Toto Sudarto Bachtiar),&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;hero&lt;/i&gt;&amp;nbsp;kontemporer adalah Marsinah dalam sajak “Dongeng Marsinah” Sapardi Djoko Damono.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Nasionalisme Puisi Mutakhir Kita&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Dalam sejumlah puisi mutakhir kita kecemasan akan nasib dan corak nasionalisme yang kabur, yang seakan-akan tanpa identitas, terartikulasikan pada sajak Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabbar, Agus R. Sarjono, Sitor Situmorang, dan Wiji Thukul. Kecemasan para penyair tersebut pada umumnya berkaitan dengan masalah keberpihakan pembangunan, kesenjangan dan ketimpangan sosial, perusakan lingkungan alam atas nama pembangunan, korupsi, dan sebagainya. Jadi, di pengujung abad ke-20 dan abad ke-21 ini musuh nasionalisme kita yang senantiasa membayangi adalah keserakahan (korupsi), “penggadaian” negara (melalui kebijakan pemerintah yang lebih berpihak pada kekuatan global/asing), penegakan hukum yang gagal (karena hukum diperjualbelikan), dan sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Rendra dengan “Sajak Sebotol Bir” mempersoalkan ketimpangan sosial yang fantastis&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;(Hiburan kota besar dalam semalam,/sama dengan biaya pembangunan sepuluh desa!/Peradaban apakah yang kita pertahankan?//Mengapa kita membangun kota metropolitan,/dan alpa terhadap peradaban di desa?/Kenapa pembangunan menjurus kepada penumpukan,/dan tidak kepada pengedaran?).&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Larik sajak Rendra tersebut sesungguhnya merefleksikan realitas dan situasi Indonesia: Indonesia membentang dari Sabang sampai Merauke; tetapi, segala sesuatunya terkonsentrasi di Jakarta dan Pulau Jawa, termasuk─konon─uang yang beredar di republik ini 80%-nya menumpuk di Jakarta. “Sajak Sebotol Bir” juga menggugat keberpihakan pembangunan: pembangunan hanya berpihak pada modal asing dan oleh pemodal asing negeri ini hanya dijadikan sekadar pasar sehingga kita pun cenderung menjadi bangsa yang konsumtif&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;(Kita hanyut di dalam arus peradaban yang tidak kita kuasai./Di mana kita hanya mampu berak dan makan,/tanpa ada daya untuk menciptakan./Apakah kita akan berhenti sampai di sini?).&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Bait terakhir sajak Rendra ini&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;(Kita telah dikuasai satu mimpi/untuk menjadi orang lain./Kita telah menjadi asing/di tanah leluhur sendiri./Orang-orang desa blingsatan, mengejar mimpi,/dan menghamba ke Jakarta./Orang-orang Jakarta blingsatan, mengejar mimpi/dan menghamba kepada Jepang,/Eropa, atau Amerika.)&lt;/i&gt;&amp;nbsp;paling tidak mengimplikasikan beberapa hal. Pertama, obsesi dan mimpi besar pembangunan ternyata tidak berpijak pada tradisi dan akar kultural kita sendiri, juga tidak berpijak pada kekuatan ekonomi kita sendiri karena ditopang utang dari luar negeri yang melampaui batas (sehingga saat krisis ekonomi tahun 1997 negeri ini termasuk yang paling parah menerima dampaknya). Karena tidak berpijak pada tradisi dan akar kultural, secara perlahan identitas nasional sebenarnya juga tergerus:&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;kita telah menjadi asing/di tanah leluhur sendiri.&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Implikasi berikutnya adalah berkurangnya rasa memiliki atas apa yang ada di negeri ini: terdapat perasaan dan&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;gap&lt;/i&gt;&amp;nbsp;sebagai&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;outsider─insider.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Kesenjangan dan ketimpangan sosial sebagai akibat pembangunan, yang meskipun tidak pernah diakui, tetapi pada dasarnya berideologi kapitalistis dan imperialistis sehingga melahirkan perasaan dan&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;gap&lt;/i&gt;&amp;nbsp;antara&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;outsider─insider&lt;/i&gt;&amp;nbsp;itu dengan sangat bagus terbayang dalam larik sajak “Jembatan” Sutardji Calzoum Bachri:&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sedalam-dalam sajak takkan mampu menampung/airmata bangsa. …./Maka aku pun pergi menatap pada wajah/orang berjuta./Wajah orang jalanan yang berdiri satu kaki/dalam penuh sesak bis kota./Wajah orang tergusur./…./Wajah para muda yang matanya letih menyimak/daftar lowongan kerja./…./Wajah legam para pemulung yang memungut/remah-remah pembangunan./Wajah yang hanya mampu menjadi sekadar/penonton etalase indah di berbagai plaza./Wajah yang diam-diam menjerit melengking/melolong dan mengucap:/tanah air kita satu/bangsa kita satu/bahasa kita satu/bendera kita satu!/Tapi wahai saudara satu bendera, kenapa/kini ada sesuatu yang terasa jauh beda di antara kita?/Sementara jalan-jalan mekar di mana-mana/menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan/tumbuh kokoh merentangi semua sungai dan lembah yang/ada, tapi siapakah yang akan mampu menjembatani/jurang di antara kita?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sajak “Jembatan” Sutardji Calzoum Bachri tersebut mengungkapkan kesenjangan sosial yang terjadi setelah laju pembangunan yang pesat berhasil menancapkan ikon modernitas di negeri ini: bermunculannya berbagai plaza dan pembangunan infrastruktur, seperti jalan dan jembatan. Namun sementara itu, jutaan orang hidup dalam pengangguran, harus berjejal dalam bus kota yang penuh sesak, hanya dapat sekadar menjadi penonton gemerlap berbagai plaza, dan hanya mampu memunguti remah-remah pembangunan. Pembangunan ternyata hanya berpihak kepada sekelompok kecil orang dan dinikmati oleh mereka saja,&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;padahal tanah air kita satu/bangsa kita satu/bahasa kita satu/bendera kita satu!/Tapi wahai saudara satu bendera, kenapa/kini ada sesuatu yang terasa jauh beda di antara kita?/…./siapakah yang akan mampu menjembatani/jurang di antara kita?&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Situasi sebagaimana terbayang dalam larik sajak “Jembatan” Sutardji tersebut mengisyaratkan nasionalisme yang mulai terkoyak oleh jurang ketimpangan sosial, jurang antara&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;outsider─insider&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yang pada akhirnya akan melahirkan persepsi bahwa negeri ini bukan untuk orang yang terpinggirkan dan termarjinalkan, tetapi untuk orang yang berduit dan berkuasa saja. Dengan kata lain, ketimpangan dan kesenjangan sosial sebenarnya merupakan ancaman serius untuk rasa nasionalisme kita.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Pudarnya nasionalisme karena (kekuasaan) negara lalai dan tidak mampu menyejahterakan warganya digambarkan oleh Agus R. Sarjono dalam sajaknya “Bersama Para TKW”, sementara itu Hamid Jabbar menggugat situasi negara yang terjajah oleh utang dengan memparodikan teks proklamasi melalui sajaknya “Proklamasi, 2”.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Dari sejumlah sajak yang dikemukakan dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut. Pertama, gugatan terhadap ketimpangan dan kesenjangan sosial serta gugatan terhadap kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat tidak dapat ditafsirkan sebagai suatu tindak subversif. Gugatan terhadap ketimpangan dan kesenjangan sosial serta pembangunan yang salah arah merupakan refleksi nasionalisme penyair dalam merespon situasi zaman. Jika di masa sekitar kemerdekaan 1945 rasa nasionalisme kita berhadapan dengan agresi penjajahan Belanda, pada saat ini rasa nasionalisme kita berhadapan dengan kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, keserakahan kekuasaan, korupsi, pelanggaran hak asasi manusia, hukum yang diperjualbelikan, dan sebagainya. Tanpa redefinisi terhadap nasionalisme kita, bangsa dan negara ini akan lemah berhadapan dengan imperialisme yang kini hadir dalam wujud intervensi ekonomi dan kultural.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Daftar Pustaka&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Anderson, Benedict. 1991.&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism&lt;/i&gt;. London and New York: Verso.&lt;br /&gt;Bachri, Sutardji Calzoum. 1998. “Jembatan”, Dalam&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Horison&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Th. XXXII/No. 6, Juni, h. 29. Jakarta: Yayasan Indonesia.&lt;br /&gt;Jabbar, Hamid. 1998.&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Super Hilang: Segerobak Sajak.&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Jakarta: Balai Pustaka.&lt;br /&gt;Rendra, W.S. 1996 [cetakan pertama 1993].&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Potret Pembangunan dalam Puisi.&lt;/i&gt;Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.&lt;br /&gt;Sarjono, Agus R. 2003.&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Suatu Cerita dari Negeri Angin.&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Yogyakarta: Penerbit Jendela.&lt;br /&gt;Smith, Anthony D. 2010.&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Nationalism.&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Cambridge: Polity Press.&lt;br /&gt;Thukul, Wiji. 2000.&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Aku Ingin Jadi Peluru.&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Magelang: IndonesiaTera.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-5504467807637837872?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/5504467807637837872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/08/nasionalisme-dalam-puisi-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/5504467807637837872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/5504467807637837872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/08/nasionalisme-dalam-puisi-indonesia.html' title='Nasionalisme dalam Puisi Indonesia Mutakhir'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-1027504315421870080</id><published>2011-08-07T07:46:00.002+07:00</published><updated>2011-09-03T07:48:50.237+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Ramalan</title><content type='html'>&lt;b&gt;Langgeng Prima Anggradinata&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Koran Tempo&lt;/i&gt;, 7 Agustus 2011&lt;br /&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;BABAK&lt;/b&gt;&amp;nbsp;kedua. Lampu menyala dari dua arah: cahaya merah. Di wilayah lain, cahaya kuning bergaris. Cahaya itu bermula dari atas dan berakhir di tengah panggung. Di bagian depan panggung beberapa daun jendela melayang tanpa dinding. Juga beberapa pintu yang berdiri begitu saja.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Seorang laki-laki terdengar menaiki tangga. Suara kakinya keras, berderap, cepat, menunjukkan bahwa ia terburu-buru, ingin cepat sampai di apartemennya.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Mira, cepat buka pintunya! Cepat, Mira!” teriaknya sambil mengetuk pintu dengan keras. Cepat sekali. Mungkin seseorang tengah mengejarnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Mira, apakah kau berjalan dengan telingamu atau suaraku yang tak berjalan ke telingamu?” Seseorang membuka pintu.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Aku tidak tuli!” katanya.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Tutup jendela, jauhkan benda-benda tajam dariku, amankan aku dari benda-benda yang sekiranya berbahaya. Radio itu, radio itu bisa meledak sewaktu-waktu. Ah, aku harus menjauhi lampu gantung itu. Mira, matikan kompor! Ah, tutup juga gordinnya!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Tutup mulutmu!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Ucapanmu bisa membunuhku!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Cahaya merah lamat-lamat redup dan padam. Cahaya kuning masih menyala, menunjukkan sewilayah ruang dan sebuah adegan realis. Lelaki itu beranjak dari ruang tengah dengan gerak-gerik yang ganjil. Ia masuk ke dalam kamar, menutup pintunya dengan tergesa-gesa. Di kamar, ia tutup juga semua gordin dan jendela. Ia jatuhkan dirinya ke atas ranjang. Kemudian menutup hampir seluruh tubuhnya dengan selimut. Rasa panas tiba-tiba muncul dari punggungnya. Ia gemetaran dan ia sendirilah yang menggetarkan tubuhnya. Sementara Mira berjalan menuju kamar itu. Ia buka pintu. Di tangannya, segelas air putih dengan es.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Siapa itu?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Aku.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Siapa?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Aku!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Kukira malaikat.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Kau mabuk atau sudah gila?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Tidak mabuk, tapi hampir gila,” kata lelaki itu, masih dengan selimut yang menutup sebagian besar tubuhnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Ramalan itu membuatku hampir gila,” lanjutnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Ramalan? Kau percaya ramalan? Kau sudah baca majalah bulan ini rupanya. Bagaimana dengan Sagitarius?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Ramalan! Bukan zodiak!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Kukira sama saja,” tukas Mira sambil menyimpan gelas di atas meja kecil, di sisi meja itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Bisakah kau membedakan? Zodiak hanya menebak kesehatan, uang, asmara, dan hobimu bulan ini!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Dari arah depan panggung beberapa orang tertawa kecil-kecil. Lelaki itu menunjukkan wajahnya yang sejak tadi tertutup selimut. Ia bangkit dan menenggak air dingin itu. Panas yang ia anggap sebagai bagian dari neraka itu pun lamat-lamat lenyap.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Orang itu meramalku. Aku akan mati hari ini. Dan aku harus membayar tiga ratus lima puluh ribu untuk firman sialan dan tidak ilmiah itu.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Begitu katanya? Kau percaya?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Katanya tidak begitu, tapi maksudnya begitu.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Laki-laki itu diam sejenak. “Aku tak percaya pada yang belum aku lihat dan rasakan betul. Sedang kali ini, aku rasakan sesuatu tengah menusuk-nusuk seperti jarum di bagian kakiku. Mataku mulai berkunang-kunang. Ada yang mencekik leherku. Ah….”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Sekarang aku tidak percaya kalau kau tidak punya kepercayaan.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Entahlah. Aku merasa waktu begitu cepat kali ini, Mira. Lihatlah, aku mulai keriput. Ah, ah, lihat rambutku memutih, Mira. Tiba-tiba memutih, oh, Tuhan. Mira, tolong ambilkan krim anti-keriput punyamu itu. Aku membutuhkannya sekarang.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Kau takut mati atau takut keriput? Kau sudah lima puluh empat. Wajar saja!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Apa? Oh, apa? Aku sudah lima puluh empat? Bagaimana bisa?” kata lelaki itu sambil meremas ujung selimut. Tindak-tanduknya itu menunjukkan bahwa usianya jauh lebih muda, hanya rias wajahnya yang membuat ia tampak tua sekali.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Berapa usiamu, Mira?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Lima puluh.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Nenek-nenek!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Apa?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Tolong nyalakan TV itu. Aku terlalu lelah. Aku butuh sedikit hiburan.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Mira menyalakan TV kemudian duduk di atas ranjang. Ia berikan&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;remote control&lt;/i&gt;&amp;nbsp;kepada suaminya. Lelaki itu pun mengganti-ganti saluran dengan kacau.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Mira, lihat, Mira, baru kali ini aku takut dengan televisi. Betapa semuanya mengingatkan aku pada kematian. Mira, tolong pindahkan TV itu ke luar jendela atau ke dekat lemari es. Tiba-tiba benda itu jadi berbahaya.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Perempuan itu lantas merebut&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;remote control&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dari tangan lelaki itu. Ia matikan TV kemudian kembali membaca.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Oh, kau membaca Nur St. Iskandar. Aku ingin cepat tidur. Biarkan aku memakai kemeja dan kaos kaki ini. Ah, ah, bacakan, Mira!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sebuah adegan ekpresionis. Suara musik terdengar dari sisi panggung. Lampu samping menyala merah, lebih menyala tinimbang lampu pembersih yang kuning itu. Mira membacakan cerita itu. Tapi suaranya tak terdengar, bahkan tidak juga seperti bisik-bisik. Ia lebih mirip&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;clownfish&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yang membuka-tutup mulutnya di sebuah akuarium. Sementara laki-laki itu terperangah atau lebih takjub dengan cerita itu. Di matanya nampak hal yang bukanbukan tengah terbayang. Musik berhenti. Cahaya kembali memperkuat adegan realis. Kuning bersih.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Oh, Mira, cerita itu. Jangan ceritakan lagi! Aku ingat kematian ibuku, nenekku, ayahku, kakekku, adikku. Ah, semuanya!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Ini cerita lucu. Abu Nawas beradu pandai dengan sang raja. Apa yang salah?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Tidak ada. Hanya ada yang baik dan yang tidak baik.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Sikapmu berlebihan.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Apa yang sederhana?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Cinta.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Itu kata penyair. Kekanak-kanakan!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Tidak ada kalau begitu.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Bohong.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Lalu?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Omong kosong!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Kau demam? Aku ambilkan es!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Jangan pergi, Mira. Ini saat-saat terakhirku. Baiklah, yang sederhana itu cinta. Bukankah sederhana bagimu menunggu suamimu dicabut nyawanya? Kau cukup duduk. Hm, kalau aku sudah kejang-kejang, bisakah kau membisikan kalimat-kalimat bahasa Arab? Ah, Puji Tuhan, Roh Kudus, Bapa di surga saja. Ah. Atau Amitabha saja. Ya, itu lebih sederhana.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Aku ambilkan es.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Ambilkan aku kertas dari laci meja itu. Aku akan menulis surat wasiat.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Ayolah, Sayang. Jangan buat aku bingung.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Kebingungan tidak lebih menakutkan dari rasa takut.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Apa yang kau takutkan?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Banyak.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Dari yang banyak itu?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Rasa takut.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Lainnya?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Rasa takut.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Suara dengung terdengar, tipis dan dingin. Mereka tiba-tiba diam. Tatapan mata mereka kosong.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Mira, aku merasa aku harus mulai kejang-kejang. Leherku harus mulai seperti dicekik. Pergi! Pergi!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;LELAKI&lt;/b&gt;&amp;nbsp;itu berteriak, memukul-mukul udara. Ia bayangkan malaikat maut mulai mendekat. Kejang-kejang dan perasaan tercekik itu adalah sebagian dan tanda-tanda. Dan ia sendirilah menciptakan sendiri tanda-tanda itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Mira memberikan kertas dan pena kepada suaminya. Ia pun mulai merasa sinting.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Surat Wasiat. Istriku sayang….”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Apa, Sayang?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Aku tidak bicara padamu!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Tadi kau panggil?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Biarkan aku melanjutkan.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Lelaki itu kembali menulis surat; mungkin dengan perasaan sedih atau takut yang telah luar biasa menjangkitnya. Di saat-saat terakhir ini, ia rasakan semuanya memang yang terakhir: terakhir menulis, terakhir membaca, terakhir menulis huruf ‘a’,‘k’,‘w’,‘m’, dan seterusnya. Cahaya kuning redup mati, sementara lampu ungu menyala dari depan-atas panggung bercampur dengan lampu merah dari samping dan lampu hijau dari belakang. Suara musik. Celo dan biola terus mengalun. Beberapa orang di bagian depan panggung, di bagian yang gelap itu menguap. Sementara lelaki itu melanjutkan menulis surat.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Jauh sebelum malam ini, dua puluh enam tahun yang lalu, saat kau benar-benar mencintaiku, aku ingat kau pernah berkata ‘aku akan selalu jatuh cinta padamu’. Aku yakin kalau kau selalu jatuh cinta padaku. Ciumanmu kadang-kadang menggetarkan, tapi juga pernah terasa sebuah rencana pembunuhan. Mira sayang, kemudian kau lahirkan anak-anak yang setelah kawin mereka jarang menengok kita.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Aku tidak tahu mengapa.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Kau pasti tidak tahu mengapa. Mungkin pekerjaan, kota, dan istri-istri merekalah penyebabnya.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Sama sepertimu.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Mereka seperti aku. Bekerja dan menghitung uang. Aku akui itu. Tapi uang itu hanyalah untuk kalian. Ah, tapi tiba-tiba aku ingin mengurungkan niat untuk membagi semua hartaku, terlebih kepada anak-anak kita, sebab kukira mereka akan mewariskannya lagi kepada anak-anak mereka. Aku pun tidak akan banyak memberikan warisan kepadamu, Mira. Kau pasti akan memakai uang itu untuk kawin lagi.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Tidak!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Segala kemungkinan bisa terjadi. Misalnya kau bisa kawin lagi. Aku jadi ingat perselingkuhanmu dengan tetangga kita. Itulah yang menyebabkan kita pindah ke kota ini, ke apartemen ini. Aku harus meninggalkan usaha toko sosisku yang telah maju dan memulainya lagi dari awal di kota ini.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Kau terlalu cemburu dengan lelaki itu!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Lelaki itu terus menulis surat dengan suara yang dikeras-keraskan, “Aku selalu percaya pada diriku sendiri.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Itu yang membuatmu keras kepala.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Maaf, Mira, kau akan mendapatkan warisan sekadarnya.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Kikir!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Bukan aku tak mau. Aku ingin memperbaiki sikap dan sifatku. Aku akan menyumbangkan sebagian besar hartaku kepada yayasan sosial. Mira, kukira kau harus mulai bekerja.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Dan mencari laki-laki kaya!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Musik berhenti. Tiba-tiba mata Mira terlihat gemilang. Pikirannya jauh melesat ke masa depan, masa setelah suaminya mati.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Apa?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Apa kau akan membiarkan aku hidup miskin? Kalau begitu aku akan kawin lagi!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Ah, jangan, jangan! Aku bisa cemburu! Ah, baiklah aku ganti bagian ini.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Musik kembali terdengar. Bahkan mungkin lebih sedih. Orang-orang yang berada di depan panggung dan mengantuk itu sebagian tertidur, sebagian lagi terjaga.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Bukan aku tak mau. Aku ingin memperbaiki sifatku. Sedikit sifatku. Aku akan menyumbangkan sebagian hartaku kepada yayasan sosial. Mira, kukira kau harus mulai bekerja tapi jangan kawin lagi.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Itu lebih baik.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Malam ini, kutulis surat untukmu. Di malam terakhirku yang menyakitkan dan gelap ini.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Tiba-tiba musik kembali berhenti.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Mira kembali bicara, “Eh, itu kurang puitis. Coba kata ‘gelap’ diganti dengan ‘kelam’. Dan coba masukkan kalimat ‘bintang-bintang bersinar seperti wajahmu yang cantik , Mira’.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Ah, terdengar itu lebih puitis.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Musik kembali mengalun lebih sedih lagi lelaki itu melanjutkan menulis surat.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Malam ini, kutulis surat untukmu. Di malam terakhirku yang menyakitkan dan kelam ini. Bintang-bintang bersinar seperti wajahmu yang cantik. Daun-daun berguguran seperti hatiku.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Ah, suamiku, itu sungguh mesra,” tukas Mira sambil menyapu air matanya yang sesungguhnya tak ada.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Aku juga jadi sedih,” kata lelaki itu sambil menyapu air matanya yang sesungguhnya tak ada.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Akan kuselesaikan.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Demikian surat wasiat ini disampaikan untuk diketahui dan dilaksanakan. Atas perhatianmu aku mengucapkan terima kasih. Salam, Edi.” Tiba-tiba mereka berpelukan, tersedu, seperti akan berpisah.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Musik lamat-lamat mengecil kemudian lenyap.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Lelaki itu melipat dan menyimpan surat itu di kantung kemejanya. Cahaya kembali menguning. Cahaya biru masuk bercampur dengan cahaya kuning. Suara piano muncul, membuat-buat kengerian.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Lelaki itu nampak kikuk bukan karena takut pada kematian. Ia lupa dengan dialognya. Beberapa saat ia diam seperti orang dungu hingga perempuan itu berbisik, “Mira, mati itu seperti apa?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Mira, mati itu seperti apa?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Aku belum pernah. Mungkin seperti tidur.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Tidur itu belajar untuk mati?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Dan aku ingin belajar untuk mati. Selamat malam. Kalau sudah merasa seharusnya akan mati bangunkan saja aku,” tukas Mira sambil memejamkan matanya.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Setelah mati itu bagaimana? Aku sendiri tidak tahu. Tuhan itu seperti apa? Aku sendiri tidak tahu. Apa yang aku ketahui selama ini, Mira?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Aku sendiri tidak tahu.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Mengapa aku sangat merasa takut? Tuhan mana yang bisa menyelamatkan aku di saat-saat seperti ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Keringatnya mulai meluncur dari kening ke pipinya, memudarkan rias wajahnya, gurat-gurat usia yang dibuat-buat. Ia kembali merasakan panas yang ia anggap sebagai bagian dari neraka. Ia membuka kemeja dan kaos kakinya.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Aku akan memulai kematian ini dengan tenang.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;SUARA&lt;/b&gt;&amp;nbsp;anjing menyalak, sesekali melolong. Entah itu hanya dalam pikiran lelaki itu atau memang sebenarnya ada. Dari sisi kanan dan kiri dua ekor anjing yang tak mirip anjing muncul. Mereka pura-pura bersuara padahal orang-orang itu, penyaksi itu, tahu bahwa suara itu muncul dari pengeras suara.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Satu di antara anjing yang tak mirip anjing itu nampak begitu terlambat masuk ke dalam panggung dan tidak sungguh-sungguh mengandaikan dirinya sebagai anjing. Suara itu pun lenyap. Anjing-anjing itu berjalan ke arah sisi panggung dan menghilang.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Ada suara anjing atau itu dalam pikiranku saja?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Suara piano masih bertahan. Suara celo terdengar patah-patah. Biola bersuara. Lalu biolin. Suaranya tipis dan tajam. Lalu suara burung gagak.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Ada suara gagak atau dalam pikiranku saja?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Lelaki itu gelisah. Ia pegang ujung selimutnya, menutup dadanya yang telanjang. Air mukanya sedikit berlebihan untuk perasaan takut dan gelisah.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Mira, aku sudah dekat sekarang. Bangun! Bangunlah! Ada gagak di jendela. Usir dia, Mira! Usir dia!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Lalu tampak adegan surealis. Terdengar suara percakapan antara Mira dan lelaki itu dari pengeras suara. Seperti sebuah pertengkaran. Suara-suara masa lalu. Suara gelas pecah. Tamparan dan tangisan. Kemudian suara percakapan tentang kebohongan yang diperbuat lelaki itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Lelaki itu berteriak. Ia rasakan lehernya mulai tercekik. Tubuhnya bergoyang-goyang, dan ranjang itu akhirnya terkoyak. Matanya membesar. Orang-orang di tempat duduk menutup sebagian wajahnya. Lampu meniru cahaya kilatan petir. Dari atas panggung seorang malaikat tergantung, melayang-layang, seolah-olah terbang dengan jubah hitam. Ia mendarat dengan tidak sempurna. Tubuhnya melunglai. Lalu ia hunus pedangnya ke arah lelaki itu. Suara orgel terdengar. Kilatan petir terhenti.Tubuh laki-laki itu kini dihujani cahaya biru yang mengarah tajam sedangkan cahaya merah yang mengarah tajam ke tubuh malaikat itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Sungguh kau malaikat atau hanya dalam pikiranku saja?” tanya lelaki itu dengan suara yang tersendat-sendat.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Sungguh aku malaikat dan hanya dalam pikiranmu saja.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Siapa yang mengutusmu?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Pikiranmu.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Kau mau membunuhku?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Kau sudah mati.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Sejak kapan aku mati?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Sejak kau berpikir akan mati.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Tiba-tiba lampu-lampu mati. Musik berhenti. Semuanya gelap. Orang-orang bertepuk tangan, mengira bahwa pertunjukan teater itu telah usai. Tapi lelaki itu masih bicara. Semuanya kembali senyap.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Aku sudah mati?” ia diam sejenak. “Inikah alam kematian atau dalam pikiranku saja? Gelap. Aku tak melihat apa-apa. Mira! Mira! Aku sudah mati! Aku sudah mati! Gelap sekali! Aku takut! Mira, kau di mana? Mira!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Mira menyalakan korek api. Cahaya remang meliputi wajahnya dan wajah lelaki itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Aku mati karena rasa takut.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Tak ada cahaya. Korek api ditiup padam. Tirai ditutup. (*)&amp;nbsp;.&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="right" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;—Untuk Arifin C. Noer&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Langgeng Prima Anggradinata lahir di Bogor, 6 Desember 1987. Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Bergiat di Komunitas Seni Rumah Akasia, Arena Studi Apresiasi Sastra, dan Black Rose Theatre di kampusnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-1027504315421870080?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/1027504315421870080/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/08/ramalan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/1027504315421870080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/1027504315421870080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/08/ramalan.html' title='Ramalan'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-6682323317037103736</id><published>2011-06-25T07:47:00.001+07:00</published><updated>2011-09-03T07:46:19.941+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Pemenang Lomba Puisi Siswa SMP/MTs Se-DIY</title><content type='html'>&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;a href="http://www.sabjanbadio.web.id/" style="color: #2970a6; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;" target="_blank"&gt;Sabjan Badio&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Alhamdulillah, sampai ditutup acara, terkumpul 70 naskah puisi dari seluruh DI Yogyakarta. Para pesertanya beragam, ada yang baru pertama kali ikut lomba, ada pula yang telah berprestasi dalam berbagai ajang kompetisi.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Penilaian pertama yang kami lakukan adalah penilaian administrasi dan keaslian karya. Pada tahap ini, ditemukan beberapa naskah yang terbukti menjiplak. Ada yang menjiplak puisi karya orang lain, ada pula yang menjiplak syair lagu. Karya-karya hasil jilplakan ini terpaksa tidak bisa kami sertakan alias gugur.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Tahap selanjutnya, penilaian dari dewan juri. Ada tiga orang juri yang kami tunjuk, yaitu (1) Siska Yuniati, Guru Bahasa Indonesia MTs Negei Giriloyo, pemenang berbagai kompetisi menulis lokal dan nasional, (2) Yunita M. Salka, Jurusan Sastra Inggris Universitas Negeri Yogyakarta, dan (3) Sabjan Badio, panitia lomba, pemenang berbagai kompetisi menulis lokal dan nasional.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Berdasarkan keputusan dewan juri, terpilih empat orang peserta yang berhak menyandang predikat juara. Keempat peserta tersebut adalah sebagai berikut.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Juara I&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Nomor Naskah: 22&lt;br /&gt;Judul:&amp;nbsp;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Untukmu, Ayah Bundaku&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Laily Hidayati&lt;br /&gt;Sekolah: SMPN 1 Depok – Sleman&lt;br /&gt;Prestasi sebelumnya: Juara 8 Lomba Puisi Tingkat Provinsi, Juara 2 Lomba Menari Tingkat Kelurahan,&lt;br /&gt;Juara Harapan 1 Lomba Pidato Bahasa Jawa Tingkat Kecamatan, Juara 3 Lomba Puisi dan Nasyid di UNY,&lt;br /&gt;Juara Harapan I Lomba Mewarnai Tingkat Kecamatan, Juara 2 Lomba Mewarnai di Percetakan Kanisius,&lt;br /&gt;dan Juara 3 Lomba Pidato Bahasa Indonesua Tingkat Kecamatan.&lt;br /&gt;Hadiah: Uang Rp100.000 + Piagam + Antologi Puisi&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Cinta Bersemi di Rumah Santri&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Juara II&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Nomor Naskah: 002&lt;br /&gt;Judul:&amp;nbsp;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;PemujaMu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Pungky Widiyana Candra Dewi&lt;br /&gt;Sekolah: SMP 2 Ngaglik – Sleman&lt;br /&gt;Prestasi sebelumnya: Juara I Lomba Cipta Puisi Tingkat Kabupaten dan Juara II Lomba Cipta Puisi Tingkat Propinsi&lt;br /&gt;Hadiah: Uang Rp75.000 + Piagam + Antologi Puisi&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Cinta Bersemi di Rumah Santri&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Juara III&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Nomor Naskah: 10&lt;br /&gt;Judul:&amp;nbsp;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Cintaku Pada Ayah dan Ibu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ayuni&lt;br /&gt;Sekolah: MTs Negeri Giriloyo – Bantul&lt;br /&gt;Hadiah: Uang Rp50.000 + Piagam + Antologi Puisi&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Cinta Bersemi di Rumah Santri&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Juara Harapan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Nomor Naskah: 19&lt;br /&gt;Judul: Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa&lt;br /&gt;Penulis: Indar Rosanti&lt;br /&gt;Sekolah: SMPN 3 Panggang – Gunungkidul&lt;br /&gt;Hadiah: Antologi Puisi&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Cinta Bersemi di Rumah Santri&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Para pemenang akan dihubungi lebih lanjut. Khusus para peraih hadiah antologi&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Cinta Bersemi di Rumah Santri&lt;/i&gt;,&lt;br /&gt;kami harap bersabar karena masih menunggu proses pengumpulan naskah lebih lanjut dan proses penerbitan.&lt;br /&gt;Pengumuman lebih lanjut tentang hal ini akan dimuat di situs ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Demikian, keputusan dewan juri ini sifatnya final kecuali berhubungan dengan pelanggaran hak cipta.&lt;br /&gt;Jika di antara para pemenang kemudian terbukti ada yang melanggar hak cipta, kemenangannya dapat dibatalkan,&lt;br /&gt;hak-haknya pun ditarik kembali, dan konsekuensi atas pelanggaran tersebut ditanggung sepenuhnya oleh penulis.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Yogyakarta, 24 Juni 2011&lt;br /&gt;Panitia Lomba Menulis Puisi Siswa SMP Se-DIY SMP Ali Maksum Krapyak&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-6682323317037103736?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/6682323317037103736/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/06/pemenang-lomba-puisi-siswa-smpmts-se.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/6682323317037103736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/6682323317037103736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/06/pemenang-lomba-puisi-siswa-smpmts-se.html' title='Pemenang Lomba Puisi Siswa SMP/MTs Se-DIY'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-1418477401173632526</id><published>2011-06-23T07:49:00.003+07:00</published><updated>2011-09-03T07:49:32.619+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Randu Alas</title><content type='html'>&lt;b&gt;Sanie B. Kuncoro&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Jawa Pos&lt;/i&gt;, 23 Januari 2011&lt;br /&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;KAU&lt;/b&gt;&amp;nbsp;terbangun pagi itu oleh nada dering telepon yang seolah memanggilmu dengan tergesa. Matamu belum sepenuhnya terbuka, masih terperangkap kantuk yang belum ingin melepaskanmu.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Wuk&lt;/i&gt;&amp;nbsp;[1], apakah pulang pekan ini?” Itu suara&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;bulikmu&lt;/i&gt;. Bernada tanya sekaligus menyimpan perintah di sebaliknya, yang biasanya tidak memberikan peluang bagimu untuk membantah apalagi menolak.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Ada apa, Bulik?”&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Ada yang penting. Kita harus memindahkan makam eyang putri dan ibumu. Ini perintah dari kepala desa.”&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Apa?” Kau terkejut. “Mengapa?”&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Kampung itu memerlukan balai pertemuan umum. Lokasi terpilih adalah tempat tumbuh pohon besar di dekat pemakaman desa. Ingat pohon itu? Randu alas. Nah, makam Yangti dan ibumu adalah yang terdekat dengan akar-akar pohon itu, maka harus dipindahkan.”&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Seketika itu juga kau terbangun dari tilam. Rasa ngantuk tak berdaya menjeratmu lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Pohon itu, randu alas….”&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Ya, pohon yang besar dan tinggi sekali itu akan segera ditebang dalam waktu dekat ini,” Bulik melanjutkan kalimatmu yang patah. “Mungkin satu atau dua bulan lagi. Maka pulanglah, untuk mencari hari baik pemindahan makam.”&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Selanjutnya tak lagi kau dengar sepenuhnya kata-kata Bulik. Kau hanya diam merenung pada tilammu entah untuk berapa lama. Selepas subuh yang berembun itu, kau dapati hatimu patah. Dan cahaya matahari yang redup pagi itu, menampakkan padamu patahan hati yang berserak di berbagai penjuru mata angin.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Di pelataran itu kau berdiri. Kuntum-kuntum bunga yang kelopaknya mulai layu, berserak menyentuh telapak kakimu yang telanjang tak berkasut. Kau pungut salah satu di antaranya. Belum layu bunga itu. Lima lembar kelopaknya masih utuh, rapi saling menumpuk melingkar serupa piring berceruk. Berwarna merah kesumba, sama seperti merah yang kau temukan pada masa kanak-kanakmu yang dahulu itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Beberapa jarak darimu, sebatang pohon berdiri menjulang tinggi. Kepalamu harus tengadah maksimal demi merengkuh seutuhnya dalam tatapan matamu, ujung-ujung ranting yang menjulur sedemikian rupa ke berbagai mata angin. Daripadanyalah bunga-bunga yang berserak gugur itu berasal. Randu alas.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Berapa lama tak kau kunjungi pohon itu hingga sedekat ini? Entahlah. Tak pernah kau berpikir untuk menghitung waktu yang terlalui itu, yang senantiasa bergerak menjauh pergi, meninggalkan hitungan-hitungan yang seolah terjejak pada standarisasi usia, kerutan pada kulit wajah dan warna rambut yang berubah. Sementara merah kesumba pada bunga, hijau daun dan cokelat kulit batang pohon randu alas itu masihlah warna yang dahulu.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Tiada pernah pohon itu menghilang dari ingatanmu. Dirimu menyimpan utuh setiap bagiannya. Bermula dari umbi akar yang berlekuk sepupa geliat otot raksasa, membentuk cerukan yang dulu menjadi tempat persembunyianmu dalam permainan&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;jelungan&lt;/i&gt;&amp;nbsp;[2]. Lalu batang pohon yang senantiasa tegap tanpa gerak sejak pertama kali tangan kecilmu merambatinya. Dan juluran ranting-rantingnya yang kerap kali bergerak lembut searah angin, seolah memanggilmu dari kejauhan sekaligus memandu langkahmu menuju pulang.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Kau selalu ingat, pada musim penghujan daun-daunnya tumbuh sedemikian rimbun, menutup setiap batang ranting serupa rabut kribo yang bergerombol. Saat kemudian datang kemarau, satu persatu helai-helai daun itu akan beranjak menjadi kuning layu, untuk kemudian gugur perlahan melepaskan diri dari ranting penumbuhnya. Di kemudian masa, dari pelajaran biologi di sekolah dasar, kau&amp;nbsp; mengerti bahwa gugurnya daun-daun itu adalah demi memberikan peluang tumbuh pada putik bunga yang sedang memulai masa awal tumbuhnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Pohon itu memberimu sebuah pelajaran. Daripadanya kau belajar bahwa proses gugur daun itu tidak hanya sebagai penanda musim belaka, melainkan pemahaman tentang arti saling berbagi waktu dan kepentingan demi menjalin kesinambungan kehidupan. Memberi peluang bagi satu sama lain, masing-masing tumbuh menelusuri jalur perjalanan sesuai garis alam hingga hidup terus berlanjut.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Di musim kemarau hujan tak lagi datang, ketiadaan air tanah makin terbatas, sementara matahari kemarau justru memaksimalkan penguapan pada setiap helai daun. Sementara putik-putik bunga itu serupa bayi pembawa gairah hidup yang harus tetap tumbuh, maka daun-daun memilih mengugurkan diri, demi supaya air tetap terbagi hingga bunga-bunga itu mekar pada waktunya.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Selalu datang musim mekar itu. Puncaknya adalah ketika daun-daun telah nyaris gugur seluruhnya. Tak ada lagi gerumbul kribo hijau pada ranting-rantingnya, melainkan kelopak-kelopak merah kesumba….&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Kuntum-kuntum itu hanya mekar dalam hitungan hari, untuk kemudian berjatuhan demi giliran mekar putik bunga yang berikutnya. Jatuh bunga-bunga itu di segala penjuru tanah pekuburan tempatnya tumbuh, seolah menaburi setiap nisan. Pada musim itulah, pekuburan itu seolah terdatangi seribu peziarah, yang menaburkan kelopak merah kesumba kembang randu alas.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Selalu kau ingat musim itu. Karena kelopak merah kesumba itulah yang menjadi pandu langkahmu menuju rumah. Entah di arah mana kau berada, menatap pohon itu dari kejauhan, akan senantiasa meyakinkanmu bahwa kau tidak akan tersesat menelusuri setiap kelokan di sepanjang perjalanan menuju rumah.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Di sinilah kau sekarang. Di pelataran tanah pekuburan berpagar bata merah sebatas panggul, yang adalah tempat bermainmu di masa kecil dahulu. Tepat di tengahnya pohon randu alas itu tumbuh. Memberi ruang persembunyian dan keteduhan pada masa-masa bermain para anak.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Jauh sudah masa bermain itu kau tinggalkan. Namun tak akan kau lepaskan randu alas itu dari ingatan, juga dari hatimu. Sungguh tidak. Karena padanyalah masa lalumu tersimpan seutuhnya. Tidak hanya dirimu, melainkan juga sejarah teman-teman bermainmu. Tak tertingal pula kenangan yang terbawa oleh para peziarah, yang datang dan pergi tak berjejak.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Kau terlahir seolah tanpa orang tua. Tak a a ibu, apalagi ayah yang berjaga untukmu di masa awal langkah kehidupan. Hanya seorang nenek mengawal pertumbuhanmu ketika itu, yang mengajarkanmu melafalkan “eyang putri” sebagai kata pertamamu. Patahan kata yang terlalu panjang untuk lidah mudamu. Kau hanya sanggup menjadikannya sebagai panggilan pendek “Yangti”, yang diterima nenekmu dengan pemakluman yang sumringah.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Nenek mengawal pertumbuhnamu, tidak untuk menjadikanmu sebagai perempuan yang menyerah diri kepada takdir dengan percuma.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Jangan bertanya atau mencari ayahmu,” begitu pesan Yangti suatu kali saat mengantarmu berziarah pada pusara ibu.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Bukan sebagai pembalasan karena dia juga tidak pernah bertanya dan mencarimu. Lebih karena dia tak patut menjadi akarmu.”&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Kala itu kau tak sepenuhnya mengerti arti pesan tersirat, tapi kau tahu bahwa mengangguk adalah pilihan yang tepat untukmu.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Tanpa mengenal ayahmu, kau justru akan terbebas dari beban warisan sejarah yang tak perlu. Tradisi keturunannya tak akan mengikatmu. Kau hanya akan mewarisi trah dan darahku.”&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Lagi kau mengangguk.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Nenek menjalankan apa yang diiinginkannya. Di usia dini, canting dan peralatan batik serta ragam polahnya seolah adalah bagian dari dolananmu.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Ibumu adalah pembatik yang terampil. Setiap canting seolah takluk pada keluwesan tangannya. Batikannya rapi nyaris tanpa cacat,” begitu Yangti berbisik sembari menuntun jemarimu menggerakkan canting menelusuri pola batik yang tergambar pada mori. Seringkali cairan hangat pada rongga canting itu menetes, menyisakan lepuh yang perih pada kulit mudamu.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Akan diwariskannya keluwesan itu padamu. Tak akan ada canting yang memberontak pada taklukan jemarimu,” lagi Yangti berbisik, menghentikan keluhanmu.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Dariku akan kau warisi penciptaan corak,” kini nenek menuntun tanganmu memegang pensil, menggambar pola batik pada perca-perca mori tersisa. Garis lengkung, motif geometris, sulur menjalar, kelopak bunga dan beragam corak yang tak sepenuhnya kau pahami ketika itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Maka suatu hari akan kau temukan corak batikmu sendiri.”&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Demikianlah Yangti memberimu sebuah tradisi dan talenta untuk menjadi seorang penerus. Sungguh kau tak tahu gerangan apa yang akan menjadi pola batikmu nanti. Dan apakah kau menginginkan “warisan” itu? Sungguh kau tak tahu.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Usiamu begitu dini ketika itu. Canting, mori, dan ragam pola-pola itu seringkali memberimu siksaan yang seolah tak tertanggungkan. Saat teman-teman sepantaran usiamu boleh bermain seharian, maka batas waktumu ikut bergabung hanyalah separuhnya. Saat tengah hari, selepas makan siang, canting dan mori adalah temanmu selanjutnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Celoteh canda dan gerak permainan teman-temanmu kau simak dari kejauhan di balik jendela. Acapkali mereka memanggilmu. Tanpa melihat kau tahu, mereka sedang berada di bawah rindang randu alas. Duduk dan bersandar pada akar-akarnya yang kekar, atau memanjati dahan-dahannya yang menjuntai perkasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Setiap kali kau ingin bergabung, seolah juluran akar dan dahan-dahan itu menarikmu untuk mendekat. Suara gemerisik daun-daunnya seolah menggapai memanggilmu. Kau selalu tergoda, tapi asap tipis yang melayang lembut dari canting yang ditiup Yangti, menebarkan aroma khas yang seolah mengawang sesaat lalu mengendap, seolah menyentuhmu perlahan sembari mengingatkan untuk tetap menekuni lembaran mori di hadapanmu.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Maka, pensilmu harus terus bergerak, seolah menenangkan pemberontakan kecilmu. Bukan motif parang, truntum atau kawung yang terwujud kemudian. Yang tergaris pada morimu adalah juluran geliat akar randu alas. Pohon itulah yang memanggil dan mengikat hatimu.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Akar lung-lungan, akar yang saling mengulurkan membentuk keterkaitan satu sama lain. Demikianlah Yangti menamai corak itu. Terpaten kemudian pola itu atas namamu. Itulah batikmu. Akar lung-lungan.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Kaki telanjangmu melangkah. Di pusara Yangti dan ibu kau berhenti. Juluran akar randu alas menyentuh ujung jarimu. Ah, apakah jejulur akar itu menyentuh pula Yangti dan ibu di kedalaman? Kau letakkan pertanyaanmu sembari membersihkan pusara. Lalu kau taburkan bunga melati, kuntum putihnya berpadu dengan merah kesumba kembang randu alas.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Terhela nafasmu kemudian. Kau tidak sedang berpikir tentang pencarian hari baik demi pemindahan makam. Kau sangat yakin bahwa Yangti dan ibu akan tetap tenang dan ikhlas di mana pun sisa raga mereka di pusarakan. Bahkan juga andai harus diperabukan. Kau tahu bahwa mereka berdua telah mencapai nilai-nilai yang lebih dari sekadar penempatan fana belaka.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Kau lebih berpikir tentang randu alas. Telah berpuluh tahun pohon itu menjadi akar bagi kampung itu. Padanyalah tersimpan kenangan silam yang telah menjadi sejarah abadi sebuah kampung. Rindang daunnya meneduhkan tanpa pamrih. Taburan tangannya adalah peziarah yang setia, bahkan bagi nisan yang seolah tak lagi bernama dan terabaikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Akankah pohon itu menyerah dan berakhir demi sebuah balai pertemuan?&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Tepat saat kau memilih jawab pertanyaan itu, satu kelopak randu alas melayang menyentuh pundakmu, untuk kemudian bergulir jatuh di ujung kaki.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Bapak Wali Kampung itu menatapmu dengan mata bertanya. Kau mengangguk meyakinkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Luas tanah ini kiranya memadai sebagai balai pertemuan, lokasinya pas di tepi jalan besar,” katamu. Kau ulurkan makin dekat buku sertifikat tanah kepadanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Selama ini terpakai sebagai rumah pembuatan batik, akan saya kosongkan dengan segera sesudah tukar guling ini disepakati pihat terkait. Bagaimana?”&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Apakah niat ini sunguh-sungguh?” Wali Kampung itu seolah meragukanmu.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Kau mengangguk.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Akan segera saya adakan rapat untuk membahas hal ini. Kalau terealisasi nanti, saya kira istilah yang lebih tepat bukanlah tukar guling, melainkan tukar pohon,” kata Wali Kampung itu kemudian.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sak karepe&lt;/i&gt;&amp;nbsp;[3],” katamu tanpa suara.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Demikianlah. Suatu kali kau belajar tentang kehidupan dari pohon itu, kini tak hendak kau buang pelajaran itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Seperti daun-daun randu alas rela gugur demi berseminya kelopak bunga merah kesumba, demikianlah kau memilih kehilangan tanah lokasi rumah batikmu demi supaya randu alas itu tetap tumbuh di mana dia berakar. Kau tahu bahwa kau lebih sanggup kehilangan hartamu, yang kau yakini datang dan pergi tanpa kekekalan, ketimbang kampung itu beserta sejarahnya kehilangan akar tumbuhnya. Demikian pula kau tak sanggup kehilangan akar dirimu.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Randa alas itulah akar kampung tumbuhmu, juga dirimu. (*)&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Keterangan:&lt;/b&gt;[1]&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Wuk&lt;/i&gt;: panggilan untuk anak perempuan&lt;br /&gt;[2]&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Jelungan&lt;/i&gt;: petak umpet&lt;br /&gt;[3]&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sak karepe&lt;/i&gt;: terserah&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-1418477401173632526?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/1418477401173632526/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/06/randu-alas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/1418477401173632526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/1418477401173632526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/06/randu-alas.html' title='Randu Alas'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-3508701839365193467</id><published>2011-06-15T07:48:00.001+07:00</published><updated>2011-09-03T07:46:31.091+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Lomba Menulis Puisi Pelajar SMP/MTs Se-DIY</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.sabjanbadio.web.id/" style="color: #2970a6; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;" target="_blank"&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sabjan Badio&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;div align="center" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;"&gt;Bagi kamu yang berstatus sebagai pelajar SMP/MTs se-DIY, yang suka menulis, yang ingin karyanya dibaca banyak orang, yang ingin punya buku,&amp;nbsp;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;OSIS SMP Ali Maksum&lt;/b&gt;&amp;nbsp;mengajak Anda bergabung dalam lomba menulis puisi untuk pelajar SMP/MTs se-Provinsi DIY.&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;"&gt;Ada hadiah bagi yang menang. Karya Anda juga berkesempatan diterbitkan dalam antologi puisi&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Cinta Bersemi di Rumah Santri&lt;/i&gt;. Di buku itu karyamu akan berdampingan dengan para penyair dan penulis muda nasional.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;PERSYARATAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;ol style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;li style="list-style-position: inside; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 20px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Pelajar SMP/MTs di wilayah DIY, yang sudah lulus UN juga boleh&lt;/li&gt;&lt;li style="list-style-position: inside; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 20px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Karya yang dilombakan adalah karya sendiri&lt;/li&gt;&lt;li style="list-style-position: inside; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 20px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Karya tidak sedang diikutkan dalam lomba lain&lt;/li&gt;&lt;li style="list-style-position: inside; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 20px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Karya belum pernah dipublikasikan dalam media apa pun&lt;/li&gt;&lt;li style="list-style-position: inside; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 20px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Karya yang layak, akan diterbitkan dalam antologi puisi&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Cinta Bersemi di Rumah Santri&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="list-style-position: inside; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 20px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Keputusan juri mutlak&lt;/li&gt;&lt;li style="list-style-position: inside; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 20px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Bagi karya pemenang yang terbukti melanggar persyaratan, seperti keaslian karya dan pelanggaran hak cipta atau hak publikasi, kemenangan akan dibatalkan.&lt;/li&gt;&lt;li style="list-style-position: inside; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 20px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Dilarang mencantumkan nama pada karya&lt;/li&gt;&lt;li style="list-style-position: inside; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 20px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sertai karya Kamu dengan lampiran biodata yang berisi (1) judul karya, (2) nama asli, (3) kelas dan nama sekolah, (4) hobi, (5) alamat rumah, (6) e-mail, jika punya, (7) nomor telepon, telepon sekolah juga boleh, (8) prestasi yang pernah diraih, dan (9) hal lain yang Kamu anggap perlu dicantumkan.&lt;/li&gt;&lt;li style="list-style-position: inside; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 20px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Naskah yang dikirim langsung/melalui pos (dalam bentuk hard copy/print out) dibuat rangkap tiga.&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Tema umum:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;“Cinta Bersemi di Rumah Santri”&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Subtema:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;cinta sahabat, cinta keluarga, cinta orang tua, cinta guru, cinta ilmu,&lt;br /&gt;cinta makhluk, cinta lingkungan, cinta agama, cinta Rasul, dan cinta Tuhan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;HADIAH&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Juara I&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;100.000, piagam,&lt;br /&gt;dibukukan dalam antologi&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Cinta Bersemi di Rumah Santri&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Juara II&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;75.000, piagam,&lt;br /&gt;dibukukan dalam antologi&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Cinta Bersemi di Rumah Santri&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Juara III&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;50.000, piagam,&lt;br /&gt;dibukukan dalam antologi&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Cinta Bersemi di Rumah Santri&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Juara Harapan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;dibukukan dalam antologi&amp;nbsp;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Cinta Bersemi di Rumah Santri&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;PENGIRIMAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Melalui email&amp;nbsp;&lt;a href="mailto:lombapuisi@telkom.net" style="color: #2970a6; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;lombapuisi@telkom.net&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;paling lambat&amp;nbsp;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;23 Juni 2011 pukul 24.00 WIB&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Diantar/dikirim langsung ke:&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;SMP ALI MAKSUM&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Jalan Cuwiri 230, Jogokaryan, Mantrijeron Krapyak [Utara Kandang Menjangan]&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;E-mail: lombapuisi@telkom.net&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Website:&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.smpalimaksum.sch.id/html/index.php?id=info&amp;amp;kode=5" style="color: #2970a6; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;www.smpalimaksum.sch.id&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;CP: 085292010992 [Sabjan Badio]&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;PENGUMUMAN&lt;br /&gt;Insya Allah 25 Juni 2011&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-3508701839365193467?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/3508701839365193467/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/06/lomba-menulis-puisi-pelajar-smpmts-se.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/3508701839365193467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/3508701839365193467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/06/lomba-menulis-puisi-pelajar-smpmts-se.html' title='Lomba Menulis Puisi Pelajar SMP/MTs Se-DIY'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-3464177738538473252</id><published>2011-04-12T22:23:00.016+07:00</published><updated>2011-09-06T22:40:42.410+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Ayu Manda, Sebuah Novel yang Tidak Sekadar Cinta Terlarang</title><content type='html'>&lt;b&gt;Nyoman Agus Arta&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;www.balipost.co.id, 11 April 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-mRJm8AOx_08/TmY9GZakkkI/AAAAAAAAABk/oc7IGaPHmNo/s1600/ayumanda.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-mRJm8AOx_08/TmY9GZakkkI/AAAAAAAAABk/oc7IGaPHmNo/s320/ayumanda.jpg" width="213" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Kover Novel &lt;i&gt;Ayu Manda&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Ber-setting era awal tahun 60-an, pembaca dibawa larut dalam keseharian tokoh-tokohnya yang tumbuh dan berkembang bersama pasang surut keadaan, cinta dan penghianatan. Demikian ditulis penari Legong senior Ayu Bulantrisna Djelantik di cover belakang novel &lt;i&gt;Ayu Manda&lt;/i&gt; karya I Made Iwan Darmawan. Apa yang ditulis dokter spesialis THT ini, tentunya mengacu dari begitu detailnya narasi dan visualisasi keadaan Bali 50 tahun lalu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang penulis novel yang seorang fotografer, membuatnya paham bagaimana menarasikan tidak saja dari sudut pandang normal, tapi juga dari sudut-sudut ekstrem yang tidak biasa, sehingga akan dengan mudah kemudian pembaca mengetahui arsitektural sebuah puri, atau landcscape sebuah desa, lengkap dengan fungsi masing masingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, detail tidak membuat plot menjadi lamban, atau penggambaran sebuah tempat tidak justru merusak dialog. Nampaknya novel yang diterbitkan oleh Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) dari Kompas-Gramedia telah mengalami editing sangat ketat. Sehingga tidak banyak terjadi penumpukan kata keterangan atau kata sifat pada paragraf-paragraf dimana alur cerita sedang menukik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui budayawan Prof. Dr. I Made Bandem dalam endorsement-nya di-cover belakang, novel ini amat mudah dicerna. Lugas dan tidak bertele tele. Namun apa yang ditulis mantan redaktur Bali Post ini, memiliki pemahaman yang cermat akan seni dan budaya Bali. Keberaniannya menampilkan Bali secara detail dan utuh, menurut mantan Rektor ISI Jogyakarta dan kini menjadi pengajar di The College of the Holy Cross, Massachusetts, USA, tentunya berasal dari kajian akademis yang didalaminya selama ini. Karena itu, penari yang berasal dari keluarga penari ini, merekomendasikan novel ini sebagai bagian dari koleksi pustaka dalam mempelajari dan mempromosikan seni pertunjukan dan kebudayaan Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel setebal 330 halaman ini, dimulai dengan sebuah prolog pendek tentang perdebatan kasta. Kemudian waktu surut keenam tahun sebelumnya. Saat Ayu Manda, mulai belajar menari legong dan menyadari bahwa dirinya hidup dalam sistem keluarga poligami. Kata pianis Vera Verraza Jasmine yang seorang penyuka baca buku, yang tidak hidup dalam sistem sosial kemasyarakat Bali, novel ini seperti mesin waktu yang membawa pembaca ke sebuah masa di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendeskripsian detail seni budaya Bali menantang imajinasi pembaca untuk terlibat secara terus menerus dalam realita kehidupan para tokoh serta konflik-konflik yang menyertainya. Hal tersebut menyebabkan novel &lt;i&gt;Ayu Manda&lt;/i&gt; menjadi warna baru di tengah mosaik karya tulis di Indonesia,sebutnya diakhir kata dukungannya terhadap keberadaan novel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca awal novel ini, Mari Nabeshima Ph.D. yang seorang ethnomusicologist lulusan Tokyo National University of Fine Art and Music, menilai kelincahan Iwan Darmawan dalam menggambarkan kejadian-kejadian dramatis kehidupan penari pada masa yang dinamis dalam sejarah modern Bali, membuatnya merasa terbawa ke alam pikiran orang Bali yang tersembunyi di balik senyum dan tata tutur yang halus. Dan ini menjadi sebuah pengalaman budaya yang sangat mendebarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alur cerita dimulai dari masa kanak kanak Ayu Manda, lalu berkembang menjadi persaingan antaristri Gusti Ngurah Amba, ayah Ayu Manda. Ngurah Amba juga memimpin sebuah sekaa kesenian yang kemudian berangkat membawa misi budaya ke Eropa. Di sini Ayu Manda banyak mengalami konflik dengan beberapa tokoh lainnya, termasuk persaingannya menjadi penari legong terbaik dengan Gusti Ayu Wimba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang dari Eropa, Ayu Manda kembali menjalani hidup sebagai gadis yang mulai beranjak remaja. Hubungannya membaik dengan salah satu ibu tirinya, membawanya mendalami tarian bernuansa eksotis yang disebut joged. Bahkan dia dalam beberapa waktu sempat memimpin sebuah sekaa joged, hingga ia membubarkannya karena ada anggotanya yang melakukan penyimpangan prilaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Ayu Manda sudah frustasi dengan kehidupannya sebagai penari, ia justru masuk ke dalam kegiatan kesenian yang berada di bawah partai politik yang marak saat itu. Dimana kemudian ia bertemu seorang pemuda yang membuatnya jatuh hati. Namun perbedaan kasta di antara keduanya, menjadikan hubungan ini cinta terlarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kata Janet DeNeefe -Pendiri &amp;amp; Direktur Ubud Writers &amp;amp; Readers Festival di cover depan, novel ini secara menggairahkan memaparkan kisah klasik pergulatan karakter manusia yang nyata dan tak terlupakan dalam struktur kasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua gerak dan tindakan karakter dari tokoh-tokoh dalam novel ini terus berubah dan beradaptasi dengan lingkungan dan kondisi mencekam kala persaingan antarpartai politik menjadi anarki. Dari cover yang terdiri dari dua bagian, satu bagian terluar dibuat semacam sobekan, nampak ada maksud dari novel ini untuk mengungkap sesuatu yang selama ini tersimpan rapat dari sejarah panjang Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel yang ditulis lelaki yang sempat mengenyam pendidikan di Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini menggunakan alur cepat, namun dengan bahasa yang segar dan penuh lirik, tulis Janet DeNeefe. Novel debutan ini pun diakhiri dengan sebuah keadaan yang sangat tidak terduga dan tiba-tiba, yang bisa membuat pembaca menduga duga, apakah akan ada kelanjutannya di novel novel berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: &lt;i&gt;Ayu Manda&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Pengarang: I Made Iwan Darmawan&lt;br /&gt;Penyunting: Mira Rainayati, Anna Ervita Dewi&lt;br /&gt;Penerbit: Grasindo&lt;br /&gt;Tahun Terbit: 2010&lt;br /&gt;Tebal: 330 + vi halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-3464177738538473252?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/3464177738538473252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/04/ayu-manda-sebuah-novel-yang-tidak.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/3464177738538473252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/3464177738538473252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/04/ayu-manda-sebuah-novel-yang-tidak.html' title='Ayu Manda, Sebuah Novel yang Tidak Sekadar Cinta Terlarang'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-mRJm8AOx_08/TmY9GZakkkI/AAAAAAAAABk/oc7IGaPHmNo/s72-c/ayumanda.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-545717411468009673</id><published>2011-04-01T14:05:00.000+07:00</published><updated>2011-09-05T14:06:51.772+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Sapere Aude!</title><content type='html'>&lt;b&gt;Sabjan Badio&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapere Aude!, ‘beranilah berpikir sendiri!’ merupakan semboyan pencerahan yang kumandangnya di abad ke-18. Semboyan tersebut bersumber dari tulisan filsuf Jerman, Immanuel Kant, dalam “Menjawab Pertanyaan: Apa itu Pencerahan?” pada Desember 1783. Harry Bawono (re-searchengines.com) mengungkapkan bahwa Sapere Aude! (hendaknya anda berani berpikir sendiri) adalah sebuah semangat yang mengawal perkembangan historis aufklarung (pencerahan), perkembangan dimana ketika manusia mulai meretas jalan baru bagi ‘rasio’ mereka. Rasio yang ketika sebelumnya disubordinasikan dibawah bayang-bayang mitos dan tradisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, di Eropa terjadi gejolak-gejolak perubahan. Hal ini ditandai dengan penemuan-penemuan baru di bidang pengetahuan dan pemikiran. Gairah dan optimisme baru untuk menaklukkan masa depan sebagai sebuah kemajuan tiba-tiba melanda masyarakat pada masa itu. Tulisan Kant tersebut menggambarkan hal yang sedang terjadi. Dia mengemukakan bahwa pencerahan tidak lain merupakan zaman keberanian untuk menggunakan rasio. Melalui semboyan tersebut, dia juga menegaskan bahwa saat itu Eropa telah mencapai titik kematangan peradaban. Pada zaman ini juga terjadi pemberontakan terhadap dogma agama yang pada abad pertengahan begitu dipatuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, semboyan ini memberikna keyakinan bahwa akal budi yang disertai keberanian untuk mengakui dan penerapkannya merupakan kemampuan manusiawi yang paling tinggi. Hal ini menandai kemunculan zaman pencerahan atau zaman modern.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-545717411468009673?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/545717411468009673/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/04/sapere-aude.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/545717411468009673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/545717411468009673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/04/sapere-aude.html' title='Sapere Aude!'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-5205108189357702942</id><published>2011-01-02T07:25:00.008+07:00</published><updated>2011-09-03T07:46:37.429+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Surat Cinta Tertua di Dunia, Berbentuk Puisi, Ditulis Sekitar 2200 SM</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Sabjan Badio&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;img align="left" alt="" height="135" src="http://mristanblue.files.wordpress.com/2009/08/loveletter-small1.jpg" style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" width="135" /&gt;Sejak  kepan sih orang mengenal cinta? Sejak kapan pula orang mulai menulis  surat cinta? Saya yakin tidak ada yang tahu pasti. Yang jelas, surat  cinta tertua yang dapat ditemukan adalah surat cinta dalam bentuk  artefak yang dibuat oleh Inanna, seorang pendeta tinggi bangsa Sumeria.  Surat cinta tersebut ditujukan kepada sang raja, suaminya, pada malam  pernikahan mereka. Hal ini sesuai dengan tradisi bangsa Sumeria, sang  istri membuatkan puisi cinta untuk suaminya pada malam pernikahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Surat cinta yang ditulis Inanna tersebut ditemukan pada tahun 1889 di Lembah Niffer, 150 kilometer dari Kota Baghdad.  Surat tersebut diperkirakan ditulis, tepatnya dibuat, tahun 2200 SM.  Arkeolog yang menemukan pernyataan cinta Inanna itu bernama &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Noah Kramer, seorang profesor dari Philadelphia University. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Penemuan ini diterjemahkan oleh &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Muazzez Longsor dan Hatice Kızılaybu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;sumerolog, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;ahli bahasa Sumeria) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;58 tahun kemudian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat  ini, surat cinta berbentuk prasasti itu, dapat disaksikan secara  langsung di Museum Arkeologi Istanbul, Turki. Inilah isi surat tersebut:  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Bridegroom, dear to my heart,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Goodly is your beauty, honeysweet,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Lion, dear to my heart,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Goodly is your beauty, honeysweet.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; You have captivated me,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Let me stand tremblingly before you.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Bridegroom, I would be taken by you to the bedchamber,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; You have captivated me,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Let me stand tremblingly before you.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Lion, I would be taken by you to the bedchamber.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Bridegroom, let me caress you,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; My precious caress is more savory than honey,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; In the bedchamber, honey-filled,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Let me enjoy your goodly beauty,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Lion, let me caress you,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; My precious caress is more savory than honey.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Bridegroom, you have taken your pleasure of me,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Tell my mother, she will give you delicacies,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; My father, he will give you gifts.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Your spirit, I know where to cheer your spirit,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Bridegroom, sleep in our house until dawn,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Your heart, I know where to gladden your heart,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Lion, sleep in our house until dawn.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; You, because you love me,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Give me pray of your caresses,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; My lord god, my lord protector,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; My Shu-Sin, who gladdens Enlil’s heart,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Give my pray of your caresses.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Your place goodly as honey, pray lay your hand on it,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Bring your hand over like a gishban-garment,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Cup your hand over it like a gishban-sikin-garment.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Sumber:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;"First Love Letter of The world – Istanbul Archaeological Museum", http://mristanblue.wordpress.com, Diunduh 07 Februari 2010 Pukul 09.20 WIB.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; "SURAT Cinta TERTUA di DUNIA BERUMUR 4200 Tahun!!!", www.kaskus.com, Diunduh 07 Februari 2010 Pukul 09.15 WIB.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Gambar:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;http://mristanblue.files.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-5205108189357702942?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/5205108189357702942/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/01/surat-cinta-tertua-di-dunia-berbentuk.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/5205108189357702942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/5205108189357702942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/01/surat-cinta-tertua-di-dunia-berbentuk.html' title='Surat Cinta Tertua di Dunia, Berbentuk Puisi, Ditulis Sekitar 2200 SM'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500250947101425001.post-2287102901270016882</id><published>2011-01-02T07:01:00.002+07:00</published><updated>2011-10-22T22:43:27.960+07:00</updated><title type='text'>Daftar Isi</title><content type='html'>&lt;script style="text/javascript" src="http://bahasasiswa.do.am/DOWNLOAD/daftarisi.js"&gt;&lt;/script&gt; &lt;script src="http://kabarbahasa.blogspot.com/feeds/posts/default?max-results=9999&amp;amp;alt=json-in-script&amp;amp;callback=loadtoc"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500250947101425001-2287102901270016882?l=kabarbahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/2287102901270016882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500250947101425001/posts/default/2287102901270016882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarbahasa.blogspot.com/2011/01/daftar-isi.html' title='Daftar Isi'/><author><name>Sabjan Badio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00794989543837688105</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-gpdKuCVn7wo/TnN3byWzPtI/AAAAAAAAADM/Bmq0YzQPc2w/s220/49069_1575590880_3072_n.jpg'/></author></entry></feed>
